Tugas seorang bunda atau ibu di masa pandemi ini kian bertambah. Selain memastikan agar protokol kesehatan ditaati oleh seluruh anggota keluarga; seorang ibu juga harus turut mengawal proses berlangsungnya belajar dari rumah. Belum lagi, jika ibu tersebut harus bekerja, fulltime maupun parttime. Maka makin bertumpuklah bebannya.
Kondisi negara kita pada awal tahun 2021 ini pun rupanya belum juga bersahabat bagi para ibu untuk sedikit melonggarkan pikiran. Selain karena pandemi belum usai, kini bencana alam datang hampir bersaamaan di mana-mana. Beragam pikiran dan pertanyaan pastilah berliweran lalu lalang di dalam kepala. Yang kemudian juga muncul kekhawatiran.
Bagi seorang ibu yang tinggal jauh dari lokasi bencana, yang pertama harus dilakukan adalah menunjukkan empati; juga berbagi semampunya pada mereka yang terkena bencana. Lalu setelahnya, agar langkah ke depan semakin ringan dan ibu dapat beraktivitas dengan lebih lancar; ada hal yang perlu diupayakan. Yakni self care atau Merawat diri.
Self care kadang terkesan egois. Akan tetapi, jika kita merenung sejenak, bukankah merawat diri adalah wujud syukur manusia kepada Allah ta’ala atas segala nikmat dan karunia yang sudah Ia berikan. Lebih lagi, kita akan dapati bahwa merawat diri tak hanya membawa kebaikan bagi diri sendiri; namun juga keluarga, dan lingkungan sekitar kita.
***
Self care apabila diterjemahkan secara bebas adalah sebuah aktivitas yang sengaja dilakukan untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional. Aktivitas tersebut mampu meningkatkan suasana hati. Seolah setelah berkegiatan, ada rasa puas, penuh, dan gembira. Sehingga, semangat untuk melakukan beragam aktivitas harian ataupun pekerjaan muncul kembali.
Menurut sebuah website yang mendedikasikan diri dalam bidang family support, yaitu handtohold.org, membagi self care menjadi empat kategori. Yakni: physical care, emotional care, spiritual care, dan mental care.
Menghargai tubuh sendiri dengan mengkonsumsi makanan benutrisi, tidur cukup, dan olah raga adalah syarat terpenuhinya physical care. Makanan sebaiknya bernutrisi dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Tidur pun demikian, kurang tidur atau bahkan tidur berlebihan akan membuat badan kelelahan. Lalu olah raga minimal 30 menit untuk menjaga kebugaran tubuh.
Seringkali juga nih, ibu dihinggapi rasa suntuk dan bad mood seharian. Di sinilah perlunya emotional care. Apabila rasa suntuk datang menyerang, maka sebaiknya ibu meluangkan waktu bersama teman dekat. Saling berbagi rasa dan mendukung satu sama lain dalam hal kebaikan. Menulis jurnal harian juga bisa dilakukan jika suka. Apabila masih merasa penat, maka tidak ada salahnya berkonsultasi pada ahlinya, yakni psikolog.
Ibadah, meditasi, melakukan hal kreatif, dan menjadi relawan adalah beberapa cara untuk mempraktikan spiritual care. Sebagai muslim, kita mempunyai keuntungan. Yaitu dengan adanya kewajiban shalat lima waktu. Agar shalat tidak menjadi penggugur kewajiban semata, maka shalat sebaiknya dilakukan dengan tuma’ninah dan memahami arti bacaan sholat.
Praktik mental care yaitu dengan mindfulness (kesadaran) dan tidak berhenti belajar. Kesadaran dapat didapat dengan mengusahakan single tasking sehingga dapat hadir utuh. Seorang ibu yang terbiasa multitasking sangat perlu melatih kemampuan kesadaran. Selain itu, tidak berhenti belajar baik melalui buku atau mengikuti kursus juga praktik yang baik untuk merawat mental.
***
Selfcare tidak hanya menjadi kebutuhan ibu saja, namun juga semua anggota keluarga. Dalam sebuah biduk rumah tangga sepasang suami dan istri. Yang selain mempunyai tanggungjawab masing-masing, juga mempunyai peran sebagai tim. Dalam tim, satu sama lain harus saling mendukung. Karena itulah self care tidak bisa berjalan sendirian tanpa suami care.
Bayangkan. Jika seorang ibu yang pada suatu waktu sedang mengalami kelelahan menjalankan perannya; lalu sang ibu ingin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, entah sekadar luluran, membaca buku, atau berkunjung ke rumah teman. Kegiatan tersebut bisa jadi gagal total apabila sang suami enggan bergantian menjaga buah hati yang masih kecil. Atau hal lainnya, suami justru memaksakan agendanya sendiri pada istri untuk melakukan aktivitas lain.
Suami care tidak sama dengan suami takut istri. Suami care adalah suami yang paham dengan adanya kesetaraan hubungan dan pentingnya pemenuhan kebutuhan pasutri sebagai individu. Sekalipun suami adalah pemimpin nahkoda; akan tetapi, kedua pasutri memainkan peran yang sama pentingnya. Sehingga diskusi, kompromi, dan berbagi tugas dalam sebuah keluarga menjadi sangat penting.
Agar self care tidak kebablasan, maka suami care juga sama pentingnya. Sebagai contoh, menonton drama korea sampai puluhan episode hingga lupa waktu atas nama self care. Jelas keliru. Apabila hal tersebut sampai terjadi, maka suami dapat hadir sebagai pengingat. Hal yang sama pun idealnya dilakukan oleh ibu jika suami lupa waktu bermain game atas nama self care misalnya.
Seorang ibu yang telah meluangkan waktu untuk merawat diri. Harapannya ketika berkumpul kembali bersama keluarga, baterainya telah penuh. Sehingga ibu dapat kembali memainkan peran sebagai istri dan orang tua secara utuh.
Pernah bekerja di perusahaan dan LSM kehutanan. Saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan pekerja lepas. Suka birdwatching, mengompos, dan minum jamu. Lahir dan besar di Jogja, berdomisili di Balikpapan.
