“Saya rasa Mbak menderita anxiety disorder dan tadi Mbak mengalami panic attack. Saya sarankan Mbak ke psikolog atau psikiater,” ujar dokter jaga di UGD. Biasanya saya langganan masuk UGD karena sakit asam lambung, namun kali ini diagnosa dokter berbeda. Tak disangka ternyata saya mengalami gangguan mental. Begitulah awal mula cerita saya bertemu dengan seorang psikolog.
Saya tidak langsung menuruti saran dokter. Stigma yang beredar di masyarakat bahwa orang yang pergi ke psikolog adalah orang gila membuat saya ragu. “Apakah saya gila?” Rasanya saya malu jika ada yang mengetahui bahwa saya pergi ke psikolog. Namun, karena sangat penasaran, akhirnya saya memutuskan untuk mencari psikolog.
Setelah melakukan sesi terapi, ternyata banyak yang bisa saya dapatkan dari konsultasi dengan psikolog. Bukan sekadar curhat seperti yang saya kira. Lantas seperti apa? Kalau Anda juga masih belum yakin untuk menemui psikolog, berikut poin-poin penting seputar pengalaman sesi terapi saya yang bisa Anda jadikan bahan pertimbangan.
Mencari Psikolog
Ada banyak cara untuk menemukan psikolog. Kebetulan saya bertanya kepada teman yang berprofesi sebagai psikolog anak. Biasanya sesama psikolog punya network sendiri dan saling merekomendasikan. Psikolog kenalan teman saya berpraktik di Puskesmas Matraman. Namun, karena tidak bisa meninggalkan anak saat hari kerja, saya memutuskan untuk terapi pada akhir pekan di praktik mandirinya di Depok Town Square. Saya menghubunginya lewat pesan teks, lalu membuat janji untuk bertemu.
Waktu itu saya masih buta tentang dunia psikolog dan langsung memilih orang tersebut tanpa bertanya apa-apa tentang dirinya dan keahliannya. Namun, saya sarankan Anda tidak langsung melakukan terapi seperti saya. Akan lebih baik, ketika Anda lakukan riset terlebih dahulu tentang psikolog yang ingin anda tuju.
Pastikan psikolog pilihan Anda berlisensi resmi, bukan yang “abal-abal”. Anda bisa memulainya dari membaca postingan-postingan di akun media sosialnya. Hal ini bisa memberi Anda gambaran tentang pengalamannya, teknik terapi apa yang ia kuasai, bahkan mungkin menebak karakternya. Sehingga Anda tahu apakah psikolog tersebut sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan Anda.
Langkah ini penting banget untuk dilakukan karena psikolog itu cocok-cocokan, mirip seperti cari jodoh. Kalau kata orang harus ada chemistry-nya gitu. Anda akan menjalin relasi dengannya, membuka diri dan berbagi tentang cerita hidup Anda. Maka penting bagi Anda untuk percaya dan yakin psikolog tersebut bisa membantu Anda.
Seperti Apa sih Terapi dengan Psikolog?
Di awal-awal sesi saya hanya diminta untuk melakukan hal-hal yang membosankan. Seperti melengkapi beberapa lembar formulir yang berisi data diri, masalah yang sedang dialami serta alasan mengapa ingin melakukan terapi.
Setelah itu, psikolog bertanya dengan nada yang sangat lembut, “Apa yang bisa saya bantu?” Ia dengan sabar menunggu saya siap untuk berbicara. Tidak butuh waktu lama untuk saya merasa aman dan nyaman. Tanpa disadari, saya sudah cerita kisah kehidupan saya dari kecil hingga dewasa dan tentunya–banyak menangis. It’s okay. Ada tisu kok di ruangannya, hehe.
Satu hal yang saya sadari, curhat ke psikolog sangat berbeda dengan curhat ke teman. Sesi terapi adalah one man show. Diri kita sendirilah bintangnya. Jika dengan teman kemungkinan besar akan saling berbagi cerita dan menenangkan, namun tidak demikian dengan psikolog. Mereka hanya mendengarkan cerita kita dan sesekali mengajukan pertanyaan yang membuat Anda menemukan insight atau makna di balik perasaan atau perilaku Anda.
Misalnya, ternyata dari sesi terapi, saya bisa menyadari bahwa alasan di balik kecemasan dan serangan panik saya akarnya adalah dari trauma masa kecil. Dari pertanyaan-pertanyaan yang psikolog ajukan, saya juga bisa memahami kebiasaan-kebiasaan buruk dan menyadari pola-pola toxic dalam diri yang sudah saya internalisasi.
*
Dengan menyadari sumber masalah, saya jadi bisa melakukan langkah preventif agar tidak mengulang kesalahan yang sama, mengubah cara berpikir, mengelola emosi secara sehat bahkan bisa mengurangi frekuensi serangan panik. Hal-hal ini tidak bisa saya temukan dengan curhat ke teman.
Terkadang teman juga suka menghakimi, tetapi dengan psikolog, saya bebas menjadi siapa pun, apa pun yang saya mau tanpa takut. Ia memberi validasi atas setiap perasaan yang muncul. Sehingga saya merasa diterima dan didengar.
Saya juga dibantu mengeluarkan emosi-emosi yang terpendam di tubuh dengan melakukan teknik pernafasan, juga dengan mindfulness, serta intervensi lainnya untuk mendukung transformasi diri. Saraf-saraf saya pun menjadi lebih tenang dan saya tidak lagi reaktif terhadap nasihat dan kritik, juga tidak lagi mudah marah.
Itu tadi sedikit tentang manfaat di sesi pertama terapi saya. Sekarang ke poin yang sering membuat orang takut untuk pergi konsultasi ke psikolog.
Berapa Biayanya?
Waktu pertama kali saya menghubungi psikolog, saya lupa menanyakan berapa biayanya. Alhasil, di akhir sesi saya sedikit shock karena tarif terapi ternyata lumayan mahal. Biaya yang saya keluarkan waktu itu sekitar 450 ribu untuk sesi 90 menit. Tetapi ini masih jauh lebih murah dibandingkan dengan biro-biro lain di Jakarta. Saran saya, tanyakan dulu berapa tarif psikolog yang kamu tuju, agar kamu bisa menyesuaikan budget.
Satu hal lagi yang perlu saya soroti, terkadang terapi membutuhkan pertemuan berkali-kali. Progress tidak bisa terlihat langsung dalam satu sesi saja. Banyak orang yang langsung menyerah di sesi pertama karena merasa tidak mendapatkan apa-apa. Padahal hal terbaik dari terapi adalah ketika relasi dengan psikolog sudah terbentuk dan kita bisa perlahan mengupas masalah-masalah kita dengan lebih nyaman ke depannya. Di saat itulah insight muncul dan kita menjadi lebih tercerahkan.
Meski membutuhkan biaya yang sedikit mahal, apabila dilihat dari manfaatnya, mengeluarkan atau menyisihkan uang untuk konsultasi atau terapi psikologi merupakan investasi yang sangat berharga. Uang yang dikeluarkan sebanding dengan hasilnya. Terutama jika Anda memiliki masalah gangguan kecemasan seperti saya atau trauma dan depresi yang bisa mengganggu keseharian Anda.
Semoga tulisan ini memberikan gambaran yang cukup tentang konsultasi dengan psikolog dan Anda tidak lagi bimbang. Dengan memilih untuk terapi ke psikolog, berarti Anda sadar menginginkan transformasi, memperbaiki relasi dengan diri sendiri dan juga orang lain. Tidak perlu merasa malu. Jangan tunggu hingga mengalami krisis kesehatan mental untuk menemui psikolog.
Penerjemah freelance dan ibu rumah tangga.
