Site icon Inspirasi Muslimah

Pendidikan Profesi Ibu Rumah Tangga, Mungkinkah?

profesi ibu rumah tangga

Pernah dengar pernyataan begini tidak? “kalau ujung ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga, ngapain juga sekolah tinggi-tinggi sampai sarjana”. Ya, pernyataan seperti itu sering kita dengar. Sekilas pernyataan tersebut merendahkan profesi ibu rumah tangga dan menganggap itu gampang dan tidak perlu punya pendidikan yang tinggi. Padahal kalau kita telusuri lebih jauh, maka kita tidak akan pernah memandang sebelah mata profesi tersebut.

Saya adalah  seorang wanita karier yang telah cukup lama bekerja di berbagai profesi mulai dari profesi sebagai guru, akuntan, tenaga ahli di pemerintahan, konsultan keuangan, dan  pegawai aparatur sipil negara, saya juga merasakan profesi sebagai ibu rumah tangga kurang lebih 22 tahun. Bagi saya pribadi menjadi seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak adalah pekerjaan yang paling sulit dari semua profesi. Betapa tidak, selain menuntut perhatian dan waktu yang tidak sedikit. Profesi ibu rumah tangga membutuhkan keikhlasan dan wawasan tidak bisa kita anggap permaian.

Pentingkah Pendidikan Tinggi Bagi IRT?

Fakta di lapangan yang saya rasakan selama menjadi seorang ibu rumah tangga membutuhkan pengalaman dan ilmu yang banyak. Mulai dari ilmu parenting, ilmu memasak, ilmu kesehatan dan gizi, ilmu agama, ilmu psikologi dan lain sebagainya. Sehingga justru seharusnya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, butuh bekal ilmu yang banyak sekaligus memiliki kecekatan untuk kebutuhan keluarga. Bahkan ilmu yang tidak pernah saya dapatkan di bangku sekolah.

Sebagai contoh: dulu sebelum terjadinya pandemi virus corona-19 seorang ibu rumah tangga tidak perlu paham bagaimana menggunakan teknologi seperti hand phone dan komputer, tetapi sejak terjadinya pandemi mendadak seorang ibu rumah tangga harus mampu menjadi seorang guru sekaligus mampu mengoperasikan komputer ataupun hand phone android, kalau tidak ingin anaknya menjadi bodoh karena tidak belajar. Tidak heran jika sekarang banyak sekali orang tua terutama ibu rumah tangga yang frustasi karena tidak mampu mendampingi anak-anaknya dalam belajar secara online. Beruntunglah seorang ibu rumah tangga yang pernah mengalami masa pendidikan di perguruan tinggi, karena hal itu bukanlah sesuatu yang asing.

Fakta lainnya menunjukkan bahwa tingkat perceraian di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 sebanyak 5,89 persen pasangan suami istri bercerai hidup. Jumlahnya sekitar 3,9 juta dari total 67,2 juta rumah tangga. Pada tahun 2020 persentase perceraian meningkat menjadi 6,4 persen dari 72,9 juta rumah tangga atau sekitar 4,7 juta pasangan.

Salah satu penyebab terjadinya perceraian selain faktor ekonomi adalah kurang mampunya seorang ibu rumah tangga dalam memanajemen stress. Akibatnya himpitan ekonomi yang dapat memicu emosi tinggi yang berakibat pada pertengkaran dalam rumah tangga dan berakhir dengan perceraian. Fakta ini menunjukkan bahwa seorang ibu rumah tangga juga harus bisa memiliki kemampuan  mengelola emosi dan mengelola keuangan rumah tangganya agar rumah tangga tetap harmonis.

Ibu Rumah Tangga, Proesi atau Bukan?

Profesi ibu rumah tangga juga di tuntut untuk bisa menjadi mitra suami dalam berdiskusi dan mencari solusi untuk setiap persoalan rumah tangga. Hal ini bisa berdampak pada terciptanya penghormatan suami terhadap istri. Seorang istri yang berpendidikan setidaknya memiliki wawasan dan cara pandang yang maju dalam menghadapi persoalan yang datang. Serta dapat memberikan masukan kepada suami dalam mengatasi persoalan yang ada.

Dari banyaknya tuntutan yang harus seorang ibu rumah tangga penuhi. Rasanya tidak lah mengherankan bahwa akan timbul pendidikan tinggi yang membuka program studi profesi ibu rumah tangga. Di dalam kurikulumnya mengajarkan berbagai ilmu yang berhubungan dengan profesi mulia tersebut. Misalnya ilmu pendidikan agama tentang syariah, aqidah dan akhlak, parenting, manajemen stres, manajemen keuangan rumah tangga, ilmu bisnis rumah tangga, kesehatan dan gizi, ilmu psikologi rumah tangga, ilmu pendidikan bertetangga, dan lain sebagainya.

Peserta didik dalam program studi ini tidak perlu membatasi perihal umur, siapapun bisa belajar. Artinya tidak hanya yang baru lulus SMA bisa kuliah, tetapi dapat membuka kelas bagi ibu-ibu muda yang telah berkeluarga. Lulusan program studi ini bisa mengisi formasi untuk penasehat perkawinan atau konselor persoalan rumah tangga di kantor urusan agama (KUA). Sehingga jika ada pasangan suami istri yang bermasalah, bisa berkonsultasi ke KUA tidak langsung ke Pengadilan Agama dan mendaftarkan gugatan cerai.

Mungkin ide ini kedengarannya sedikit aneh, akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, pesatnya perkembangan tekhnologi, perubahan gaya hidup dan pola fikir masyarakat yang semakin maju, serta tuntutan terhadap kemampuan seorang ibu rumah tangga dalam mengikuti perkembangan yang ada.  Sangatlah tidak berlebihan jika profesi ibu rumah tangga lebih membutuhkan kesiapan ilmu pengetahuan, kesiapan fisik dan mental agar ketahanan rumah tangga dapat lebih kokoh dan dapat menekan atau  menurunkan angka perceraian rumah tangga di masa yang akan datang. Dengan meningkatnya ketahanan rumah tangga, maka cita-cita negara untuk menciptakan generasi yang lebih baik di masa depan akan terwujud, dan ini menjadi peluang dibukanya pendidikan profesi ibu rumah tangga.

Editor: Kholifatul Husna

Bagikan
Exit mobile version