Site icon Inspirasi Muslimah

Pendidikan dalam Sudut Pandang Ibnu Khaldun

pendidikan ibnu khaldun

Pendidikan, merupakan sarana paling strategis untuk membesarkan, mendorong, dan mengembangkan suatu warga negara untuk memiliki keadaban yang merupakan ciri serta karakter paling pokok dari masyarakat madani. Bisa diartikan bahwa pendidikan merupakan saka guru, yang berperan strategis dalam mendukung dan mempercepat pembentukan masyarakat madani. Maka kita perlu mengembalikan fungsi pendidikan pada pemberdayaan masyarakat agar memberikan ruang gerak yang seluas-luasnya pada fungsi esensial pendidikan itu sendiri.

Namun jika berkaca pada realitas saat ini, pendidikan khususnya pendidikan Islam yang semestinya dapat menyelamatkan manusia dari penindasan dan pencampakkan sistem materialisme modern, paham serba boleh (hedonisme), serta degradasi moral belum sepenuhnya berhasil menjalankan fungsi atau perannya. Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk mengkaji pemikiran para tokoh pendidikan Islam dan merevitalisasi pemikiran mereka ke konteks zaman sekarang ini; sehingga ada solusi yang tepat untuk mengatasi berbagai problem yang terjadi.

Dalam dunia Islam sendiri sejak zaman klasik sampai kontemporer telah melahirkan banyak tokoh yang turut andil dalam aspek pendidikan. Sebut saja seperti Abu Hanifah, Ibnu Miskawaih, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Muhammad Abduh, hingga Fazlur Rahman, merupakan para cendikiawan dan pemikir pendidikan Islam yang andal. Mereka berhasil menelurkan banyak karya penting yang berkontribusi nyata bagi ummat Islam dan masyarakat pada umumnya di dunia. Dan kita akan mencoba menggali salah satu pemikiran Bapak Ekonomi Islam, yaitu Ibnu Khaldun.

Siapakah Ibnu Khaldun?

Tentunya umat muslim di manapun tak asing dengan nama “Ibnu Khaldun”. Seorang cendikiawan muslim tersebut memiliki nama lengkap Abdurrahman Zaid Waliuddin bin Khaldun. Ia lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H, atau bertepatan pada tanggal 27 Mei 1332 M. Keluarga Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut, Yaman, garis nasabnya bersambung dengan Wail bin Hujr, salah seorang sahabat Rasulullah yang berhasil meriwayatkan sekitar 70 hadits.

Ayahnya, Abu Abdillah Muhammad, ialah seorang ulama fiqih terkemuka pada zamannya. Ibnu Khaldun mengawali pendidikannya langsung di bawah bimbingan sang ayah. Kemudian setelah itu mulai mengaji kepada sejumlah ulama terkemuka di Seville. Ketika itu ia sudah tertarik untuk mendalami ilmu agama, bahasa, logika, dan filsafat. Bahkan ia juga belajar ilmu fisika dan matematika.

Pada tahun 1354, ia melaksanakan niatnya untuk pergi ke Maroko. Di negara itulah ia memperoleh kesempatan untuk merampungkan pendidikan tingginya. Selama di sana Ibnu Khaldun tidak hanya belajar ilmu bahasa (nahwu, sharaf, balaghah, dan sastra), ilmu syariat (fiqih, tafsir, hadits, ushul fiqh), dan ilmu aqliyyah saja (filsafat, mantiq, fisika, matematika, musik, falak, sejarah), melainkan juga ilmu kenegaraan (ilmu administrasi, organisasi, ekonomi, dan politik). Dan dari situlah ia mulai tertarik dengan dunia politik – sebelum pada akhirnya ia kembali berputar haluan ke dunia ilmu pengetahuan.

Di akhir masa hidupnya ia menghabiskan waktu di Mesir. Walaupun sebagai pendatang, ia memperoleh sambutan yang hangat di sana, sebab karya-karyanya telah terlebih dahulu tersebar di sana. Sehingga, ia segera mendapatkan dua jabatan penting, yaitu sebagai hakim tinggi dan guru besar di perguruan tinggi Al-Azhar. Setelah sekian lama berkhidmat untuk ilmu, dan mengabdi kepada Afrika Utara & Andalusia, Ibnu Khaldun wafat pada hari Rabu, 25 Ramadan 808 H, bertepatan dengan tanggal 19 Maret 1406, pada usia 74 tahun.

Makna Pendidikan di Mata Ibnu Khaldun

Menurut Ibnu Khaldun, dalam Juwariyah, “Ibnu Khaldun dan pemikirannya tentang Filsafat Pendidikan”, Jurnal Kependidikan Islam, ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang hanya bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek-aspek pragmatis. Ilmu pendidikan justru merupakan gejala konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam tahapan kebudayaan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan gejala sosial yang sudah menjadi ciri khas insani (manusia).

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa, barang siapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka ia akan terdidik oleh zaman. Maksudnya, siapa yang tidak memperoleh pendidikan, dalam artian tata krama yang dibutuhkan sehubungan dengan pergaulan bersama melalui orang tuanya – yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, serta tidak mempelajari hal itu dari mereka; maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman. Zaman yang kemudian akan memberikan pelajaran kepadanya.

Berdasarakan argumennya tersebut, jelaslah bagi kita bahwa pengertian pendidikan menurut Ibnu Khaldun itu sangatlah luas. Pendidikan bukan sekadar proses belajar-mengajar yang dibatasi oleh dinding kelas, bukan pula transfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid; melainkan suatu proses aktif dan kreatif yang manusia lakukan secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. Dan dalam pendidikan semacam ini tentu memerlukan peran nalar atau akal yang sehat.

Manusia, secara esensialnya menurut Ibnu Khaldun itu bodoh, dan menjadi berilmu (cerdas) melalui pencarian ilmu pengetahuan. Pada dasarnya manusia bagian dari jenis binatang yang diciptakan Allah Swt. Namun, Dia menganugerahi manusia akal pikiran sehingga berbeda dengan binatang yang lain. Kemampuan manusia untuk berpikir akan tercapai setelah sifat kebinatangan manusia menjadi sempurna, yaitu melalui proses membedakan (pendidikan). Yang mana sebelum tahap tersebut, manusia seperti halnya binatang pada umumnya.

Setelah manusia mencapai eksistensinya, manusia akan senantiasa berpikir tentang segala hal. Dari pikirannya ini, maka tercipta beragam ilmu pengetahuan dan keahlian. Kemudian, manusia ingin mencapai sesuatu yang menjadi tuntunan wataknya, yakni ingin mengetahui segala sesuatu, lalu ia akan mencari orang yang lebih dahulu memiliki ilmu atau kelebihan.

Selanjutnya, manusia akan mencurahkan segenap pikiran dan pandangannya terhadap hakikat kebenaran. Bahkan, ia cenderung memaksimalkan potensi nalarnya untuk mencermati dan merenungkan peristiwa-peristiwa yang dialaminya; serta mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang berguna bagi dirinya. Akhirnya, manusia kian terlatih sehingga pengajaran terhadap gejala hakikat menjadi kebiasaan (malakah) baginya. Itulah yang disebut oleh Ibnu Khaldun sebagai aktivitas pendidikan.

Bagikan
Exit mobile version