Memahami Sejenak
Mengenang jasa para pahlawan yang gugur mendahului kami, bukan berarti suatu akhir dari perjuangan.
Teringat sesosok pahlawan tanpa tanda jasa kala itu, bercerita akan sejarah baginda kita tercinta; berkata pada saat usai menjalani perang yang begitu besar, bahwa ini bukan perang yang sesungguhnya. Sebab perang yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu, yang ada pada diri tiap-tiap manusia.
Seketika itu, aku dengan segenap jiwa mulai kembali mengingat kesalahan-kesalahan, yang sempat kuperbuat selama ini. Tidak lain adalah bahan untukku mengumpulkan kekuatan, untuk kembali melakukan jihad dalam hijrahku kali ini.
Meratapi Memori Senja
Jika dahulu seorang ulama memiliki karir pendidikan yang luar biasa, dengan kehausan ilmunya yang sangat tinggi; merantau ke sana ke mari untuk menimba ilmu. Maka kali ini berbeda denganku, yang baru sekali merantau namun bukannya dipenuhi oleh haus akan ilmu, melainkan hanyalah nafsu.
Punya cita-cita tinggi tapi ketika waktunya belajar digunakan untuk main HP, kesempatan untuk mengerjakan tugas, beralih untuk tidur, sedangkan waktu untuk tidur, terpakai untuk main game, dan streaming YouTube.
Itu baru membahas persoalan sekolah tugas kampus, belum ke pembahasan kewajiban masing-masing. Sebagai seorang hamba, sudah seyogyanya ketika mendengar kumandang azan, bergegas meninggalkan kegiatan; dan segera menunaikan kewajiban pada RabbNya. Tapi ini, justru terpakai untuk stalking orang di media sosial, berjam-jam.
Kesempatan membaca Al-Qur’an beralih ke membaca story. Bangun tidur, sewajarnya seorang muslim adalah segera membaca doa, ini justru langsung membuka handphone.
Dari gambaran fenomena di atas sebenarnya adalah suatu pola yang sudah terbentuk menjadi tradisi buruk di kalangan umat manusia saat ini secara umum. Dan apabila dikaji dalam sosiologi -agama, ini merupakan suatu hal yang urgen dan sesegera mungkin mencari akar problematikanya.
Meratapi Fakta Modernisasi Sosial-Agama
Jika kita melihat zaman modern saat ini, anak baru lahir normalnya di perdengarkan oleh ayahnya kumandang azan. Hal tersebut telah menjadi tradisi positif, yang kemudian tiba-tiba tergantikan dengan teknologi. Mengapa bisa seperti itu? sedangkan dengan adanya teknologi segala hal menjadi terasa lebih mudah?
Justru jika hal itu sampai terjadi, maka peran-peran yang seharusnya alami di laksanakan oleh seseorang menjadi tidak berguna dan punah. Dan dengan hadirnya teknologi ini, dapat menjadi penetrasi akan tradisi sosial-agama. Sertadan menggeser tradisi yang sudah terjalin sekian abad lamanya, seperti yang terjadi pada peran ayah mengumandangkan azan pada anaknya yang baru lahir.
Jika dalam islam amalan ibadah yang dikerjakan secara istiqomah walaupun kecil akan mendapat ganjaran yang besar, seketika dengan hadirnya teknologi, lalu manusia bergantung dan mencari kemudahan padanya; bisa jadi esok bahkan sekarang sangat jarang dan sulit kita temukan amalan riyadloh-riyadloh yang semestinya.
Contoh lagi fenomena menonton ceramah-ceramah ustaz. Di zaman modern ini, karena akses internet yang canggih memudahkan kita dalam belajar dan mencari informasi. Namun, lagi-lagi, sebagai umat yang tidak pernah luput dari kesalahan, sering kali berusaha mencari kemudahan-kemudahan yang sebenarnya tapi justru melalaikan kebenaran.
Banyak dari kalangan pemuda yang senang menyaksikan serta mendengarkan ceramah-ceramah dan motivasi para ustaz melalui media sosial. Bukan berarti sang ustaz yang berceramah melalui media sosial kemudian salah, namun justru tidak menjamin mendengarkan dan menyaksikan ceramah-ceramah melalui media sosial itu sebagai wasilah bagi mereka para pendengar.
Meski niat yang dikehendaki oleh sang ustaz adalah kebaikan. Dengan adanya media sosial ini kemudian dapat menjadi wasilah ilmu bagi umat. Nah, ternyata setelah diperhatikan lebih lanjut dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang dari kalangan para pemuda yang memperdengarkan ceramah-ceramah dan motivasi-motivasi itu hanyalah sebagai pengantar tidur. Maka apa bedanya ketika tidur ketika sang khatib berkhutbah dalam suatu kesempatan shalat Jumat berjamaah?
Memahami Ilmu sebagai Amalan
Maksudnya sebagai pengantar tidur ini memiliki dua arti, yakni seperti ketika memutar video di medsos tentang ceramah; tak jarang sesekali yang kemudian tertidur dan membiarkan HP-nya terus menyala. Kemudian pengantar tidur berikutnya adalah bagaimana seseorang yang telah menyimak suatu ceramah; pelan-pelan meresapinya untuk kemudian mengamalkannya.
Karena puncak dari keilmuan seseorang adalah kesadaran untuk mengamalkannya. Namun, yang menjadi fenomena sekarang adalah bagaimana kita mengetahui satu kebaikan; jika kemudian langsung menguploadnya ke medsos, yang sebenarnya belum tentu mengamalkan dan menerapkannya pada diri kita. Dari hal-hal tersebut, dapat kita petik bahwa ada nilai-nilai yang telah hilang dari spiritualitas seseorang.
Memang, membagikan postingan-postingan yang berisikan kebaikan itu suatu hal yang positif, akan tetapi jauh lebih baik jika ia mengamalkannya terlebih dahulu kemudian membagikan postingan tersebut. Termasuk hal-hal yang seharusnya bersifat privasi antara seseorang dengan penciptanya, malah di posting di media sosia. Seharusnya itu tidak terjadi karena kita tidak membutuhkan orang lain untuk melihat urusan kita. Begitu pula sebaliknya mereka juga tidak membutuhkannya.
Jikalau terjadi hal seperti itu, muncul penilaian-penilaian baru dari orang-orang yang melihatnya. Bahkan akan memicu permasalahan baru dan berimplikasi pada respon yang bermuatan negative; dan dapat mengakibatkan seseorang tersebut mendapatkan ganjaran-ganjaran dosa atas perbuatan tercelanya. Seperti; menggunjing, menggibah, menghina, bahkan sampai kepada fitnah. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
Maka daripada itu, hendaknya kita sebagai hamba Allah Swt; tetap fokus pada perubahan diri sendiri. Dan untuk tidak terfokuskan untuk merubah orang lain dengan postingan-postingan dan hal-hal semacam itu. Juga berusaha menyimpan kebaikan-kebaikan apapun yang telah dilakukan. Karena kebaikan tersebut yang mengetahui hanyalah hamba dan penciptanya.
Catatan Sang Penulis
Terakhir kali, menasehati diri sendiri dan mengajak saudara-saudara seiman. Bahwa penting bagi seorang hamba mengenal penciptanya. Dengan cara terus melakukan renungan-renungan, berpikir akan ciptaan-ciptaannya, rezeki dan nikmat yang diberikannya, yang darinya sampai saat ini kita masih dapat bernafas dan terus beribadah kepadanya.
Selanjutnya, teruslah perbanyak membaca Al-Qur’an; karena ia adalah al-huda petunjuk bagi umat manusia dan juga yang akan memberi syafa’at bagi siapa yang ridho dan cinta kepada Al-Qur’an. Yaitu dengan rajin membaca, memahami, dan mengamalkan tiap-tiap nilainya.
