Site icon Inspirasi Muslimah

Mengenang Bapakku

bapakku

Sekitar seminggu menuju minggu sibuk-sibuknya di semester 5, ujian akhir semester, Bapakku ulang tahun. Seperti kebiasaanku, bahkan orang-orang yang baru dikenal saja aku menggucapkan ulang tahun, apalagi untuk Bapakku. Tapi biasanya ia memasang muka biasa aja dengan raut muka berbicara “cah lebay” .

Pagi itu sekitar jam 8, aku membuat status untuk merayakan ulang tahun Bapakku. Aku yang di perantauan tentu tak bisa mengucapkannya langsung.

Namun siapa sangka? Akhir tahun lalu, duka menyelimutiku. Iya, Bapakku meninggal tepat dihari ulang tahunnya.

Ia adalah Bapakku

Bapakku adalah seorang laki-laki tangguh dan kuat. Pikirannya penuh ide cemerlang dan tangannya terampil membuat apapun. Masakannya selalu membuatku insecure karena lebih enak dari masakanku.

Seorang sosok yang tenang, bijaksana, penuh cerita yang luar biasa dan aku rasa ia tau segalanya. Sungguh, hal membuatku mengagumi sosok laki-laki yang aku namai Bapakku itu.

Bapakkulah yang memotivasiku menyukai pelajaran matematika. Aku selalu merasa ingin terus belajar, ingin tau tentang segala hal, dan tentu saja Bapakkulah yang aku tanyai tentang apapun yang ingin aku ketahui. Mulai dari cara memancing supaya dapat ikan di sungai, sampai pelajaran sekolah.

Bapakku memang bukan tokoh terkenal seperti tokoh-tokoh yang dikutip orang orang karena teori dan karya tulisnya, dengan jabatan dan kontribusinya, atau apalah yang membuat tokoh-tokoh itu dikenal. Hahaha, bapakku saja tidak melanjutkan ke sekolah menengah, bahkan ijazah sekolah dasarnya entah dimana.

Berdasarkan cerita tentang petualangan hidupnya, selesai sekolahnya yang tidak dilanjut itu, ia pergi ke gunung untuk bekerja. Berbulan-bulan tidak bertemu orang, memanen durian dan semua buah-buahan di hutan, begitu kata Bapakku yang menceritakan sendiri petualangannya. Tentu aku semangat sekali menyimaknya.

Bapakku pernah berpesan “Nduk, belajar yang rajin, sekolah yang tinggi, selama bapak mampu, kamu nggak boleh putus sekolah”

“Siap pak!” kataku sambil memasang posisi hormat tentara kepada komandannya.

Bapakku dan Anaknya

Bapakku selalu menyuruh anaknya, yaitu aku, untuk membantu pekerjaannya. Banyak sudah keterampilan yang aku dapatkan darinya, memancing ikan, mencangkul tanah, menggergaji kayu, memanjat pohon, mengupas kelapa, memperbaiki genteng bocor, mengangkat galon air, memasang gas, memasak, mencuci dari mencuci piring, baju sampai motor SupraX biru kesayangan Bapakku, belum lagi pekerjaan yang tidak bisa kusebutkan satu persatu.

Ia mengajariku cara memancing. Cacing tanah adalah umpan yang menjadi favoritku untuk memancing, karena cacing tanah yang membuatku hoki mendapatkan ikan. Selain itu keong dan ulat pohon pisang menempati daftar selanjutnya sebagai pilihan umpan penghuni kail.

Sebagai seorang anak petani di desa, mainanku ya lumpur bersama anak-anak desa lainnya. Membuat bendungan di comberan dan menangkap ikan-ikan kecil dengan tempat nasi plastik bekas kenduri yang kami ambil di rak piring dirumah. walaupun hasilnya hanya beberapa ikan kecil, tapi itu membuatku senang. Kadang mamaku marah, tapi Bapak kelihatan bangga, hehehe.

Bapakku mengajariku menaiki sepeda, terjatuh-jatuh aku dibuatnya. Kaki, tangan, sampai muka penuh luka. Namun saat aku menangis, aku dibilang anak cengeng, belum lagi Ia suka marah dan ia suka mengancam akan mengikat aku di batang pohon pisang. Tentu saja aku langsung diam, siapa juga yang mau diikat di pohon pisang. Disaat itu aku merasa jadi anak paling menderita, tapi esoknya aku main sepeda lagi diajari Bapak sampai bisa.

Politik dan Pak Bayan

Oiya, Bapakku juga pernah jadi kepala dusun. Siapapun yang menjadi Kepala Dusun di tempatku, maka ia dipanggil panggil dengan gelarnya, Pak Bayan. Bapakku salah satunya. Namun, bukannya bangga, aku malah malu.

Bapakku terpilih sebagai Pak Bayan ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar. Bukannya aku tidak bersyukur atau apa karena bapakku jadi tokoh di desaku, tapi sebutan Pak Bayan juga jadi ejekan temanku kepadaku. Aku dipanggil “Anake Pak Bayan”. Ya tidak ada yang salah, memang benar aku anaknya Bapakku, tapi entah kenapa, teman kelasku mengejekku dengan sebutan itu, dan aku merasa terbully.

Bapakku tidak menyelesaikan periode jabatannya sampai tuntas. Aku memang sering mengeluh, “Pak, Bapak ngga usah jadi Pak Bayan lah, Bapak sekarang jarang pulang. Sok sibuk banget” wkwkwk aku jadi merasa aku yang membuat Bapakku tidak menyelesaikan periodenya jadi Pak Bayan.

Namun sejak Bapakku jadi Pak Bayan. Aku jadi penasaran sama yang namanya pemerintahan. Aku suka membaca buku tentang politik, cara memimpin, sejarah, geografi dan lain-lain sewaktu aku masih sekolah dasar . Aku membaca buku “Harus Bisa! Seni Memimpin ala SBY” karya Dr. Dinno Patti Djalal yang berisi catatannya tentang kepemimpinan Presiden Indonesia ke 6 itu, dan aku suka membaca buku pelajaran PPKn. Tema pertanyaanku yang aku lontarkan ke Bapak pun berisi topik-topik itu. Nilai PPKn-ku pun memuaskan.

Tentu saja Bapakku selalu menjawabnya. Namun sekali waktu, Bapakku berpesan “Jangan suka masuk ke dunia politik ya nduk.” “Emang kenapa pak?” “Ya jangan deh, trus jangan jadi polisi sama hakim” lanjutnya berpesan. “Jangan jadi Hakim juga, jangan main-main sama hukum itu” begitu katanya.

Mengenang Bapak

Pagi hari di Hari Jumat itu, mendung membuat langit menjadi kelabu. Status ucapan selamat ulang tahun sudah ku-posting. Tiba-tiba telepon masuk.

“Bapak sakit, kritis di rumah sakit, bisa pulang kan?” kalimat singkat dari Mamaku.

“Kenapa nggak bilang dari kemaren, aku lagi minggu tenang, kuliah tinggal UAS doang, iya aku pulang!” entah kenapa aku ada firasat yang tak baik. Air mata tiba-tiba deras mengucur. Temanku bingung entah kenapa. Aku cuma bilang “Aku mau pulang!”.

Perjalanan dari Ciputat ke Lampung bisa ditempuh sekitar 8 jam hari itu. Pukul 11.30 aku sudah melihat, sosok lelaki yang kunamai Bapak itu terbujur kaku dengan kain putih membungkusnya.

Kejadian itu, bayangan itu, kenangan itu, semua muncul dalam otakku setiap malam. Pesan-pesan Bapak banyak sekali. Aku tidak ingat persis, berapa banyak aku bertanya ini itu kepadanya. Pesan beliau yang paling sering disampaikan kepadaku adalah “Jangan lupa makan dan belajar yang rajin”.

Dan kini, hanya kepada buku-buku dan Google-lah aku bertanya. Sesekali bertanya ini itu kebeberapa orang, tapi sayang, aku rindu jawaban Bapakku. Aku suka bertanya yang kadang tak terfikirkan orang. Kadang aku bingung dengan hal-hal sepele. Setiap malam aku teringat lagi dan lagi.

Aku bahkan bingung, mau ngucapin ulang tahun lagi atau mengenang bapak di tanggal 22 November nanti. Yang pasti, doaku tak henti-hentinya untukmu pak. Semoga tenang di sisi-Nya ya Pak. Doaku selalu ada untukmu.

Bagikan
Exit mobile version