Site icon Inspirasi Muslimah

Mencari Bekal Pulang

Pak gimin

Surau kecil di pesisir pantai ini, kini semakin lapuk dimakan usia. Tiang-tiangnya tampak mulai dihinggapi rayap hingga setiap saat butiran-butiran kayu serupa pasir memenuhi bagian bawahnya. Batu bata tersusun setengah badan tanpa plester mengelilingi bangunan surau sekadarnya, hanya untuk menjadi sekat agar hewan tak mendekat ke tengah surau.

Kendi-kendi sebanyak lima buah berjejer pada sisi kanan, sebagai tempat berwudhu. Rutin Pak Gimin menimba air dari sumur kerek yang ada tak jauh dari sana. Mengisinya hingga penuh. Meski peluh kerap menghiasi wajahnya yang mulai keriput tak jua ia menyerah. Baginya, bisa memberikan kemudahan untuk orang-orang yang akan melaksanakan salat adalah sebuah kebahagiaan.

Pak Gimin memandang surau dengan lesu dan mata yang sedih. Pedih hatinya melihat surau tak mampu ia perbaiki. Penghasilannya sebagai nelayan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian saja. Kotak-kotak amal yang terpajang di depan surau tak banyak membantu.

“Sedikit sekali infak yang masuk, Li,” Suara seraknya memecah keheningan.

“Nggih, Pak. Malah dua kotak ini kosong.” Sahut Ali sembari memperlihatkan kotak sedekah yang melompong tanpa isi.

“Padahal pantai ini selalu ramai. Coba lihat itu.” Pak Gimin menunjuk ke arah pantai.

Benar saja, ramai orang lalu-lalang. Beberapa malah duduk dengan santai menikmati aneka panganan laut, mulai dari kepiting, udang hingga ikan bakar yang harganya tidak bisa dibilang murah. Hati Pak Gimin mendadak miris melihat pemandangan yang berbanding terbalik dengan kotak amal surau.

“Ayo azan, Li.” Perintah Pak Gimin pada Ali.

***

Ali adalah seorang anak kerabat jauh Pak Gimin. Orang tua Ali sengaja menitipkan Ali padanya. Kenakalan Ali membuat ayahnya malu dan mengungsikannya jauh dari kota. Bisa dibilang, Ali anak yang dibuang untuk menghindari petaka nama baik keluarga besar.

Beberapa bulan bersama Pak Gimin, Ali belajar banyak hal salah satunya adalah tentang keikhlasan. Kasih sayang Pak Gimin tulus tanpa pamrih. Perintah-perintahnya dibarengi dengan tindakan nyata, semisal saja. Saat Pak Gimin menyuruh Ali salat itu bukan sekadar ucapan salah, tetapi Pak Gimin memang melaksanakan salat.

“Salat tepat waktu, Li seperti Allah yang selalu tepat memberikan kemudahan dalam hidupmu.”

Ada cinta dalam setiap pitutur Pak Gimin. Semua tindak tanduknya adalah panutan. Makan seadanya, tanpa pilih-pilih. Bersyukur karena diberi kesehatan dan anggota tubuh yang sehat juga pikiran waras. Apa lagi yang dibutuhkan? Semua kekayaan dan kesenangan hidup bisa tergapai jika jiwa raga sehat. Tidak ada alasan untuk mengeluh.

“Salat, Li. Sebelum kamu disalatkan.” Petuah lain dari Pak Gimin yang tepat menghujam nurani Ali.

Ali memandang wajah tua Pak Ali. Kesedihan Pak Ali mampu ia rasakan. Pak Gimin tak ingin surau itu roboh karena surau itu satu-satunya pengingat bagi orang-orang yang sedang asik plesiran untuk tidak melalaikan salat.

Ali masih ingat betul saat ia bertanya pada Pak Gimin alasan lelaki tua itu bertahan. “Pak, kenapa nggak pergi saja dari sini?”

“Bapak udah tua, Li. Cuma ingin cari bekal pulang,” katanya dengan tatapan menerawang jauh. “Orang-orang sibuk berlomba menyaksikan keindahan laut. Mereka kadang lupa waktu. Jika azan tak berkumandang, mungkin saja mereka masih asik bermain,” lanjutnya lagi.

***

Lamunan Ali buyar, saat Pak Gimin kembali memerintahkan ia untuk azan. “Azan, Li!”

“Pak, waktu Azar sudah lewat. Magrib masih lama,” tolak Ali halus.

“Tidak apa-apa! Azan aja lagi. Siapa tahu, saat azan tadi orang-orang itu sedang tertutup telinganya. Hingga tak mendengar. Buktinya tak ada yang datang salat tadi.”

Ali tak terlalu paham maksud ucapan Pak Gimin, tetapi ia memilih patuh melaksanakan perintah darinya.

“Allahuakbar … Allahuakbar …! Suara Azan terdengar keras memenuhi seluruh pantai.

Orang-orang melihat ke arah surau dengan tatapan heran. Kenapa ada suara azan, padahal waktu Magrib masih lama.

Seorang lelaki berusia empat puluh tahun mendekat dengan wajah merah dan berkata dengan setengah berteriak, ” Hai, kalian gila, ya.  Belum Magrib sudah azan.”

Dengan senyum ramah Pak Gimin menyahut, “Silakan bersihkan badannya, Nak. Biar cukup waktu untuk magriban nanti. Atau kalau misal belum Salat Ashar bisa salat dulu mumpung waktunya masih ada.”

Wajah lelaki itu bertambah merah. Wajahnya tertunduk. Ia malu dengan ucapan Pak Gimin tadi. Benar saja, ia bahkan belum Salat Azar, terlalu asyik menemani anak-anaknya bermain air di pantai.

Belum usai mereda malu, mendadak ada teriakan dari arah pantai.

“Ada anak tenggelam! Ada anak tenggelam!” Teriakan itu bersahut-sahutan. Wajah orang-orang menegang.

Ombak mengapu beberapa anak-anak yang sedang bermain tadi. Gelak tawa berubah menjadi lolongan ketakutan dan tangisan histeris.

Ali, Pak Gimin dan lelaki tadi berlari kencang menuju arah pantai. Tanpa pikir Pak Gimin segera menerjang ombak dan berenang kearah tiga anak.

Dengan sisa napas terakhir Pak Gimin berusaha keras menyelamatkan bocah-bocah itu.

Anak-anak berhasil selamat sayangnya Pak Gimin berpulang tepat saat Azan Magrib berkumandang.

Surau mendadak ramai petang itu, mengabarkan kisah kepulangan Pak Gimin dengan cara patriot. Pahlawan! Begitu orang-orang menyebutnya.

Setelah kepulangan Pak Gimin, surau kecil itu terbangun megah kini. Yah, para orang tua yang anaknya berhasil diselamatkan menukar nyawa Pak Gimin dengan infak pembangunan surau.

Bagikan
Exit mobile version