Site icon Inspirasi Muslimah

Menambahkan Titik pada Seharusnya Koma

koma

Katarina Retno

Dua mangkuk bakso hadir di tengah kita. Uapnya mengepul. Tentu segera menimbulkan selera yang tak bisa ditahan-tahan. Itu seperti ketika aku melihat dan menginginkanmu dengan segenap hatiku.

Kita berpandangan sejenak sebelum kamu menunduk. Samar kudengar kamu berkata perlahan, “Alloohumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaa bannaar.” Kamu mengusap wajahmu dengan kedua telapak tangan lalu menoleh padaku. Aku tersenyum dan membuat tanda salib.

Kulihat kamu menambahkan sambal. Terlalu banyak menurutku. Tanganmu kemudian meraih botol cuka. Rasanya mulutku yang bereaksi melihatnya.

“Mari makan.” katamu. Binar mata dan senyum di bibir tak pernah hilang saat berbicara denganku. Ah, tentu itu karena kamu yang ceria bukan semata-mata karena ada aku di hadapanmu.

Aku mesti sesekali membagi perhatian antara apa yang masuk ke dalam mulut dan yang masuk ke dalam hatiku. Cara makanmu yang bersemangat membuatku tersenyum. Tentu bukan karena kelaparan. Kamu memang selalu seperti itu. Segala yang ada padamu begitu hidup. Segalanya memiliki roh dengan caranya masing-masing, dengan kapasitasnya sendiri-sendiri.

***

“Kenapa? Nggak enak?” Aku tergagap. Mungkin aku terlalu lama memandangimu dan lupa bahwa kita ada di sini untuk makan. Aku menggeleng. Tentu saja sambil tersenyum meski tak bermaksud memberi kesan malu-malu.

“Sayang, di agamamu ada konsep reinkarnasi?” tanyamu. Aku tak menjawab. Aku yakin kamu ingin menyampaikan sesuatu. Bukankah cara pertama membuka pembicaraan adalah dengan mengajukan pertanyaan?

“Aku sering memikirkan ini, Sayang. Di kehidupan yang lalu, kita adalah sepasang kekasih. Lalu, di kehidupan ini kita memang sepasang kekasih. Dan di kehidupan selanjutnya kita pun masih sepasang kekasih,” katamu. Bibirmu berkilau dan memerah. Duh, tak tahukah kamu itu seksi sekali?

Ada titik-titik keringat di kening dan ujung hidungmu. Desis dari bibirmu menunjukkan bahwa sambal yang kamu campurkan telah memberi reaksi. “Lalu apa yang tidak selesai di antara kita?” tanyaku.

Pertanyaan itu mungkin mengganggu pikiranmu. Hal itu terlihat dari dua alismu yang bergerak nyaris menyatu. “Tidak selesai? Kenapa tidak selesai?”

“Bukankah reinkarnasi itu karena ada sesuatu hal yang tidak selesai?” Kulihat kamu menyeka keringat di keningmu. Mungkin kamu lupa ada titik keringat di ujung hidungmu. Atau bagaimana jika kuambil sapu tangan dan kuusap keringat itu?

“Aku tidak tahu. Tapi begini, bukankah ini hal yang asyik jika kita dipertemukan dalam kehidupan lalu, sekarang, dan akan datang?”

Aku bingung dengan pikiranmu. Kuputuskan untuk menyampaikan pemikiranku. “Aku tidak melihat asyiknya. Bukankah hidup adalah rangkaian sebab dan akibat? Karena kamu memilih jalan A, maka kamu bertemu B. Seandainya kamu memilih C, mungkin berjumpa D. Begitu seterusnya.”

“Seperti sebuah pola khusus?” tanyamu. Kita berpandangan.  Aku tahu tak perlu menjawab pertanyaan itu.  

***

Waktu terus bergulir meski kita menginginkannya diam sejenak. Kipas angin bergerak ke kanan dan kiri, mencoba mengembuskan angin segar yang sungguh sia-sia saja upayanya itu.

Kuletakkan sendok dan garpu secara rapi. “Jadi, menurutmu apa yang tidak selesai di antara kita? Apakah tentang kita yang bukan dua orang lajang yang bebas mengekspresikan cinta? Atau semacam cinta yang hadir pada dua orang berbeda kepercayaan?”

Matamu mengerjap. Senyum patah terulas. “Menurutmu, pada kehidupan yang akan datang, apakah kita bisa bersatu secara utuh?”

Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku tak memiliki jawaban. Namun, terlintas sebuah pertanyaan mengandung usulan di kepalaku “Mengapa harus menunggu di kehidupan mendatang?”

“Kamu sudah bilang tadi, ini tentang kita yang bukan dua orang lajang yang bebas mengekspresikan cinta.” Aku berharap kamu menambahkan bukankah demikian di akhir kalimat. Sebab, kalimatmu itu serupa kalimat tanya tanpa tanda baca.

Sejujurnya, aku tak ingin dikendalikan asumsi. Bagiku itu mirip dengan menggunakan huruf kapital pada seharusnya kata hubung di sebuah judul. Seperti meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. “Bukankah kita bisa memilih menjadi apa yang kita mau sekarang? Maksudku, memilih yang terbaik untuk kita?” tanyaku dengan nada hati-hati yang tak perlu.

“Ada yang musti diurai lebih dahulu. Dan hanya waktu yang bisa melakukannya.” Kamu mengalihkan pandangan pada kaleng berisi kerupuk setelah mengucapkan kalimat itu. Tentu aku paham kamu menolak perpisahan. Namun, untuk bersatu kita memang belum menemukan jalan. Tentu aku pun mengerti, ini bukan sekadar persoalan tak ingin dimengerti. Atau semacam sesuatu yang sangat egois.  

***

“Jadi, kali ini waktu kembali diberi tugas menyelesaikan? Kita kembali pada keputusan menikmati semuanya dalam situasi ini? Jalani saja?” tanyaku. Tidak. Aku tidak ingin mendesak apa-apa. Aku hanya sekadar mengingatkanmu pada sesuatu yang kita sepakati.

Kamu kembali menatapku. Tanpa kata. Namun, aku seolah mendapatkan pemahaman akan seluruh tentang kita.

Aku masih melihat titik keringat di dahimu juga di ujung hidungmu. Demikian pula bibir kemerahanmu. Seketika aku ingin mengingatkanmu bahwa aku tidak menyukai rasa pedas. Hmm, lebih tepatnya ada sesuatu yang membuatku tak bisa menerimanya. Namun, sepanjang itu berasal dari bibirmu, aku tak keberatan. Aku ingin mengambil risiko itu saat ini. Di sini, di tempat ini, sesuatu yang bisa kau terjemahkan sebagai titik pada seharusnya koma. []

*) Katarina Retno Widiyati

Bagikan
Exit mobile version