Site icon Inspirasi Muslimah

Mari, Menjadi Ibu yang Asertif

hobi

Dalam sosok ibu sering kali kita temui sikap suka mengalah dan memendam perasaan. Biasanya, seorang ibu dengan mudahnya mengesampingkan kebutuhannya dan mendahulukan kebutuhan anggota keluarga yang lain. Sikap mudah mengalah ini sebenarnya tidaklah buruk. Sayangnya, jika keterusan, ibu bisa lupa bagaimana cara memprioritaskan kebutuhannya sendiri. Padahal, rumah tangga yang harmonis juga butuh ibu yang terpenuhi kebutuhannya, bukan? 

Apalagi dalam keluarga yang usia pernikahannya dapat masih belia. ada banyak sekali sosok ibu muda yang memilih untuk mengerjakan seluruh pekerjaan domestik sendirian. Tanpa meminta bantuan suami atau pun orang lain. Ibu begitu pontang-panting menyelesaikan “tugas”, hingga kebutuhan personal seperti makan, mandi dan istirahat sering disisihkan. 

Alasan pada umumnya, karena punya anak balita yang hanya mau bersama ibu dalam banyak hal. Tapi persoalan hanya mau dengan ibu ini, kadang juga terjadi sebagai akibat dari ketidakpercayaan ibu pada orang dewasa lain di sekitarnya. Semacam bumerang yang akhirnya membuat ibu kelelahan sendiri. Meski kadang juga karena suatu fase saja, yaitu fase separation anxiety, di mana dalam usia tertentu anak benar-benar cemas jika terpisah dari ibu atau pengasuh utamanya. 

Yang saya maksud dengan ketidakpercayaan ibu pada orang dewasa lain di sekitarnya adalah sikap enggannya seorang ibu untuk meminta bantuan dari orang lain, karena khawatir orang lain tak bisa mengerjakan sesempurna ibu. Padahal ibu sudah kepayahan, cukup lelah dan seharusnya mengambil jeda untuk istirahat. Tapi justru memforsir diri, dari pada harus minta bantuan.

***

Semua keruwetan yang saling berkaitan dan membuat ibu kewalahan itu, seringnya hanya berakhir di benak ibu. Jarang atau bahkan tidak pernah membahasnya bersama dengan pasangan yang seharusnya wajar saja saat turut mengerjakan pekerjaan domestik di rumah. Mana bisa perkara yang membuat lelah tubuh dan pikiran bisa selesai hanya dengan “ilmu kebatinan”?

Nah, terkadang, kekurangmampuan mengomunikasikan pikiran, perasaan, keinginan dan pendapat dalam diri ibu terlihat sebagai sikap suka mengalah. Padahal bisa jadi bukan karena mengalah, melainkan karena kesulitan ataupun enggan, karena belum mampu bersikap asertif.

Pengertian dari sikap asertif sendiri adalah suatu kemampuan untuk menyampaikan pendapat, keinginan, serta pemikiran secara lugas dan terbuka dengan tetap menghargai dan menghormati hak orang lain. Artinya, bersikap asertif tidak sama dengan mengungkapkan perasaan dengan omelan panjang plus keluh kesah nan emosional sehingga berpotensi menimbulkan konflik. Tapi, mampu mengungkapkan pemikiran dengan lugas tanpa menyakiti perasaan orang lain.

Bersikap asertif memiliki manfaat yang baik bagi pribadi ibu serta keluarganya sendiri. Tak hanya soal mampu mengomunikasikan kebutuhan, sikap asertif juga dapat kita lihat dengan kemampuan menolak atau berkata tidak atas permintaan orang lain, tanpa merasa tak enak sesudahnya. Wajar kok, menolak permintaan karena ibu tidak mau atau tidak bisa, tanpa harus mencari alasan tertentu karena merasa tak enak hati. 

Teladan ibu untuk bersikap asertif di rumah, akan ditiru oleh anak. Sehingga dalam keluarga tercipta suasana demokratis yang ideal. Menolak sesuatu yang dirasa bertentangan dengan pemikiran bisa dilakukan dengan mudah dan biasa saja tanpa membuat anggota keluarga yang lain merasa sakit hati. Tentu saja, ini gambaran ideal yang semua orang harapkan dari tumbuhnya sikap asertif dalam suatu keluarga. Dimulai dari ibu.

***

Untuk yang sudah terlanjur membentengi diri dengan sikap tidak asertif, butuh latihan supaya kembali terbiasa bicara secara terbuka dengan tenang. Cara melatihnya bisa dengan mencoba dulu antara ibu dan pasangan. Jika sulit secara verbal, maka media teks berupa chat pada aplikasi seperti WhatsApp juga bisa dicoba , lho. 

Untuk membiasakan mengutarakan pemikiran, ibu juga bisa mencoba dengan mulai membahas tentang apa saja. Bisa hal aktual yang diikuti lewat televisi, bisa juga kegemaran yang pernah disukai ibu dan pasangan. Dengan mempersering ngobrol, maka kemampuan untuk bersikap asertif pun perlahan terasah. 

Memang tidak mudah, saya sendiri merasa bahwa bersikap asertif itu sungguh sulit. Jauh lebih mudah berasumsi walau akhirnya pusing sendiri dengan aneka beban yang berkecamuk dalam pikiran karena hanya dipendam saja. 

Sebenarnya, kadang dukungan sikap asertif muncul dari pasangan, dengan kalimat “Mbok bilang dong maumu gimana?” Sering dengar yang seperti itu bukan? Hanya saja, ketika mendapat ucapan seperti itu, banyak juga ibu yang malah berasumsi bahwa pasangannya menganggapnya sebagai orang yang sulit. Padahal, ucapan tersebut bisa jadi hanya upaya mendorong keterbukaan yang juga dirindukan oleh kaum adam, yang sulit menerjemahkan keinginan pasangannya hanya dari mimik wajah. 

Segala sesuatunya bisa jadi lebih nyaman ketika sudah mulai bisa menyuarakan pikiran dan perasaannya secara verbal. Bagi Ibu yang biasanya sulit menolak permintaan, dengan membiasakan diri untuk menyuarakan pikiran, menolak permintaanpun menjadi lebih mudah dan tak lagi merasa bersalah. 

Manfaat dari bersikap asertif ini juga akan terasa sekali di lingkungan pergaulan anak. Salah satu sahabat saya, sesama Ibu, membiasakan anaknya untuk bersikap asertif sejak PAUD. Yang ibu tersebut lakukan adalah upaya mencegah tindakan perundungan yang mungkin saja bisa menimpa anaknya jika tak biasa bersikap asertif. Tentu saja, beliau sudah memberi teladan terlebih dahulu dalam lingkup keluarganya. Jadi, tunggu apalagi, yuk coba menjadi ibu yang lebih terbuka dengan bersikap asertif.

Bagikan
Exit mobile version