Site icon Inspirasi Muslimah

Maling Kualat: Senjata Makan Tuan (1)

pisah

Adzan berkumandang. Satu per satu santri berhenti dari kegiatan. Bersiap mengenakan pakaian sholat dan mulai tampak berjajar mengambil air wudhu. Keadaan kamar-kamar santri perlahan mulai sepi dan saatnya Supri beraksi.

Tidak seperti santri kebanyakan yang beranjak ke masjid, ketika adzan berkumandang. Berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah. Justru Supri mulai melancarkan aksi. Memasuki setiap kamar dengan mengendap penuh hati-hati. mencari target lemari yang tidak terkunci.

Sudah sekitar dua bulan Supri melakukan kegiatan ini. Sudah puluhan lemari pernah ia jarah. Dari santri yang baru masuk, hingga santri senior. Ia tak pandang bulu dalam melancarkan aksi. Lemari siapa pun akan dia hampiri, apalagi yang tanpa gembok dan tidak terkunci. Semua ini berawal dari keisengannya membuka lemari teman satu kamarnya. Ketika hendak meminta pasta gigi untuk mandi.

Ketika itu, sang pemilik mempersilakannya untuk mengambilnya sendiri. Di saat yang bersaman, selesai mengambil sesuatu yang diminta, Supri tergiur oleh makanan yang tersimpan dalam lemari temannya. Satu potong ia ambil tanpa bilang dan akhirnya keterusan hingga sekarang.

Sebenarnya Supri tergolong santri dari keluarga yang berada. Segala kebutuhan pokok selama di pondok semuanya tercukupi. Bahkan di dalam lemarinya banyak makanan tersimpan  yang berasal dari kiriman ayahnya tiap minggu. Mungkin sifat alami manusia yang rakus dan tamak membuatnya terus merasa kurang dan tidak cukup.

Supri dan Lemari

Kamar 1 C terletak dipaling sudut bangunan Andalusi. Supri mulai masuk perlahan, membuka daun pintu tanpa suara dan matanya mulai menyapu keadaan sekitar. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan. Melihat target yang diincar. Lemari berwarna hijau tanpa gembok. Tanpa melihat dua kali, ia langsung datang menghampiri.

Dia bergumam dalam hatinya dengan sumringah. Lemari tersebut penuh dengan makanan dan barang berharga lainnya. Ada uang pecahan dua puluh ribuan di rak atas, jam tangan hitam, dan tentunya makanan yang melimpah ruah di rak ketiga. Perhatiannya langsung tertuju ke rak ketiga. Mengambil semuanya. Memakannya di tempat dan sisanya dibawa untuk disimpan dalam lemarinya.

Pendapatan sore ini pikirnya lumayan, lemari hijau tadi membuatnya lebih dari cukup untuk tidak melanjutkan aksinya. Ia pergi tanpa meninggalkan jejak. Merapihkan kembali lemari yang telah dijarahnya. Menutup pintunya rapat dan melenggang pergi menyeret kakinya keluar kamar.

Aksinya tidak pernah ketahuan oleh siapa pun, dari penjaga kamar hingga keamanan yang sering berkeliling area kamar. Semuanya belum pernah memergoki aksi Supri.

Hingga pada suatu ketika dewi keberuntungan tidak lagi berpihak kepadanya…

Kepergok

“Supri!!! Apa yang sedang kamu lakukan?” Suara dari balik pintu tiba-tiba mengagetkannya. Ia adalah seorang penjaga kamar, yaitu Kang Adnan.

“Eh, aku sedang mencari kunci lemariku yang jatuh sekitar sini.” Jawabnya gelagapan. Tangannya meraba sekitar berpura-pura mencari sesuatu.

“Kamarmu kan di sebelah, kok mencari kuncinya di sini.” Tanya Kang Adnan kepada Supri. Menatapnya heran, seolah dirinya tidak mengetahui aksi Supri.

Tanpa menjawab, Supri melenggang pergi. Ketika hendak keluar, Kang Adnan mempersilakannya tanpa mencegat dan menanyakannya terlalu dalam. Ia hanya tersenyum penuh arti ada suatu rencana yang ingin ia lakukan.

Mencari Lemari tanpa Kunci

Setelah kepergok kemarin, Supri mulai jarang bergerilya mencari lemari tanpa kunci. Ia enggan untuk melakukan aksinya lagi. Terlebih jika mulut Kang Adnan bocor. Melaporkannya kepada pihak keamanan atas ulahnya tempo hari. Ia akan merasa sangat malu. Dan tentunya mendapatkan hukuman yang cukup berat.

Untungnya sudah satu minggu semenjak ketahuan, Kang Adnan sepertinya tidak melapor. Supri menganggap Kang Adnan tidak tahu akan aksinya. Bisikan setan perlahan menjalar ke kupingnya. “Ayo segera lakukan aksimu lagi, kali ini tidak memburu lemari. Akan tetapi warung Mak Iti yang banyak menjajakan jajanan, kebutuhan pokok dan lauk-pauk.”

Bagai kerbau dicucuk cungurnya, Supri mulai mengikuti ajakan setan untuk tetap menjalankan aksinya. Ia berpikir, mencari cara agar bisa mengambil. Tanpa ada yang melihatnya.

Mengambil Kesempatan

Selain mengeksplor beberapa lemari sebagai aksinya, warung Mak Iti juga menjadi target lainnya. Di saat keadaan sedang ramai oleh para santri. Membeli jajan atau lauk untuk makan. Tangan Supri bak ular gesit. Meliuk di antara kerumunan menerkam target, satu potong gorengan ia dapatkan tanpa ketahuan oleh sang pemilik.

Beda hari, berbeda lagi mangsa yang ia dapatkan. Semua lauk dan jajan kering pernah diambilnya. Masih dengan tangan ularnya yang gesit, menerkam dalam ramai kerumunan. Meliuk dengan santai seolah tidak ada mata yang mengawasinya hingga suatu ketika…

Satu orang menatap tajam ke arahnya, ketika tangan ularnya berhasil mengambil satu potong ayam goreng. Supri memberikan isyarat jari telunjuk dikatupkan pada bibirnya. Temannya mengerti, ia tidak melaporkannya. Supri melenggang pergi meninggalkan.

Jefri, teman kamarnya yang tempo hari mengetahui ulah Supri mengambil sepotong ayam kemarin merasa kesal. Ia berencana untuk memberikannya pelajaran. Membuat Supri kapok agar tidak keterusan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia berunding dengan teman satu kamarnya tentunya tanpa sepengetahuan Supri.

Berunding dengan Teman

“Assalamulaikum…”. Seseorang mengetuk pintu kamar, suaranya berat khas bapak-bapak.

“Walaikumsalam.” Jawab Jefri yang kebertulan sedang berada dalam kamar. Ia membukakan pintu dan bertemu dengan ayahnya Supri.

“Suprinya ada? Saya mau menjempunya pulang. Kebetulan besok ada acara keluarga.”

“Sebentar pak, akan saya panggilkan orangnya. Dia sedang di luar kamar.”

Selang beberapa saat, Supri pergi pamit pulang. Bersama dengan ayah yang telah menjempunya. Saat keduanya telah hilang dari pandangan. Jefri memanggil seluruh teman-temannya dan mulai melancarkan rencananya.

“Ayo Jef kita bagi tugas.” Tukas Amir langsung kepada aksinya.

Amir, Fuad, dan Anto. Kalian bertiga bertugas menjadi keamanan. Melihat keadaan sekitar, berjaga jika sewaktu-waktu ada orang yang hendak masuk. Menahannya sejenak sampai operasi ini selesai. Jefri menyampaikan gagasanya dengan tegas bak komandan dalam suatu pasukan.

“Yes sir!” Balas ketiganya berbunyi serentak. Dan langsung menempati posisi yang sudah diperintahkan sebelumnya.

Jefri dan Mail langsung saja melakukan operasi. Mencari kunci lemari di sekitar lemari Supri. Barangkali ia meninggalkannya. Meraba permukaan hingga mencari di setiap sudut. Berdasarkan pengamatan Jefri, biasanya Supri jarang membawa kuncinya. Sering kali ia selipkan di sekitar lemari. Tapi bagian mana entah Jefri tidak memperhatikan sejauh itu.

Bersambung

Bagikan
Exit mobile version