Site icon Inspirasi Muslimah

Keuangan dalam Pernikahan

perselingkuhan

Uang bisa menjadi sumber kebahagian, sekaligus biang keributan. Setangguh apa dirimu mempercayai pasangan pada persoalan uang?

Urusan ekonomi menjadi salah satu titik pusat kelemahan di bahtera rumah tangga. Ia pemicu keretakan. Pemantik pertengkaran. Biang pemisah. Tukang hasut. Sudah banyak kejadian di luar sana yang menjadikan urusan uang sebagai alat pemisah. Tidak ada pasangan yang bisa benar-benar tangguh mempertahankan keutuhan jika uang sudah sangat sering jadi masalah.

***

Banyak pasagangan yang alergi membicarakan uang. Tidak berani mengungkapkan secara terang pendapatan dan pengeluaran. Padahal sikap terbuka justru mampu menghindari keributan. Sedikit banyaknya saldo rumah tangga, jika dibicarakan terbuka bisa meminimalisir goyangnya biduk. Ombak besar pun bisa dihadapi sama-sama.

Pasangan yang miskin literasi finansial biasanya tidak punya strategi keuangan yang solid. Tidak tahu menyimpan, memutar, dan membelanjakan secara bijak. Apa yang masuk akan sama besarnya dengan yang keluar. Saat ego belanja impulsif memuncak bahkan akan minus. Solusi untuk memenuhi hasrat belanja adalah berutang. Dan itu sangat berbahaya. Kapal mulai oleng kapten. Urusan utang bukan perkara sepele.

Saat keuangan rumah tangga menuju sekarat yang ada hanya pertengkaran. Saling tuding siapa yang impulsif. Pasangan adalah partner berunding. Manfaatkan situasi untuk membicarakan tentang uang. Berpikir terbuka. Jangan memasang perseps pada pasangan tanpa ada diskusi. Keadaan ekonomi rumah tangga masih bisa diperbaiki jika adanya lapang dada untuk sama-sama mengakui kesalahan. Bukannya saling tuduh tidak ada yang becus mengatur. Susun waktu runding. Temukan titik sepakat.

***

Di dalam rumah tangga, jika ada dua keran penghasilan, rembukkan uang siapa yang akan digunakan untuk kebutuhan bulanan rutin? Tagihan-tagihan reguler semacam listrik, air, BPJS siapa yang bayar? Patungan tidak masalah. Asal bicarakan di muka. Atau berbagi tugas pengeluaran juga bisa. Tergantung kesepakatannya bagaimana.

Perlu diingat-ingat, tebalnya saldo bukan berarti pertengkaran bisa berjarak. Bisa jadi itu awal mula tersendatnya kepercayaan. Seringkali ada pasangan yang menyembunyikan nominal pemasukannya. Takut jika pasangannya semena-mena meminta dan membelanjakan tanpa peduli mana kebutuhan dan mana perilaku boros. Jika sudah memasang sekat semacam itu akan timbul bibit-bibit perpecahan. Bisa saja pasangan menuding kalau di luar sana ada pihak lain bukan keluarga yang kita biayai hidupnya. Itu sebabnya sikap terbuka jauh lebih diutamakan agar mengeliminasi segala bentuk kecurigaan.

Kalau uangku juga uangmu, semestinya ada rem tangan untuk mengendalikan pengeluaran. Kita berpegang pada prinsip yang masuk harus lebih besar dari yang keluar. Dengan begitu, setidaknya, kebutuhan rumah tangga masih bisa tertolong. Besar pasak daripada tiang harus dihindari sejauh mungkin. Belum sampai di ujung bulan, keuangan sudah ambruk. Siap-siap membidik yang bisa diutangi.

***

Tidak penting siapa yang mencari rejeki, terlepas itu suami atau istri, yang terpenting adalah bagaimana mengakomodasi penghasilan bisa menutup kebutuhan rumah. Sisi beruntungnya, ada kelebihan untuk ditabung atau memuaskan keinginan.

Bersepakat dengan pasangan siapa yang menjadi juru atur pengeluaran ada baiknya dilakukan. Siapa yang unggul secara literasi finansial bisa maju ke depan untuk berperan sebagai manajer keuangan keluarga. Ia mampu menekan pengeluaran. Punya strategi jitu memperlakukan uang. Di akhir bulan, tidak ada istilah makan apa yang ada asal kenyang. Karena di awal sudah terstruktur. Sehingga tak ada protes saat di meja makan hanya ada itu-itu saja. Semua sudah tersepakati di muka.

Urusan uang rumah tangga adalah beban bersama pasangan. Jika ia minus, jangan main salah-salahan. Saat saldo membludak, jangan gelap mata seolah-olah kaya mendadak. Roda berputar, terkadang jumawa di atas, di waktu lain tiarap. Lama bangkitnya.

Tiada salahnya terbuka soal uang dengan pasagangan. Jangan sampai kata pisah menyertai buruknya situasi keuangan. Saling lempar kesalahan. Tak ada yang mau melepas ego dan mengaku salah. Jika memang rusak, ya diperbaiki. Uang adalah segalanya. Ia bisa mempertahankan kebahagian. Yang mengatakan uang bukan segala-galanya, mungkin ia tidak pernah merasakan hari ini makan ayam goreng, besok tiba-tiba terpaksa merapel sarapan dan makan siang.

Bagikan
Exit mobile version