Site icon Inspirasi Muslimah

Kepentingan Anak Bukan Undian Batu Gunting Kertas

batu gunting kertas

Dalam dunia permainan anak-anak, kita mengenal batu gunting kertas; cara suwit untuk mengundi. Bertujuan menentukan siapa yang menang atau yang boleh bermain. Batu mengalahkan gunting. Gunting mengalahkan kertas. Dan kertas membungkam batu. Begitulah rumusnya.  Apabila seri, musti diadu terus.

Lalu, bagaimana jika cara saling mengalahkan ini dilakukan oleh orang dewasa untuk menentukan siapa yang pantas menjadi “orang tua”?  Belum lama ini, kisah pasangan selebriti Vanessa dan Bibi meninggal karena kecelakaan di jalan tol menjadi trending topic. Di era lambe turah, isunya kemudian beralih menjadi “rebutan anak” antara dua keluarga mendiang ayah ibunya.

Memakai kacamata yang positif, mungkin ini baik. Tanda kesalehan dua keluarga yang merasa bertanggung jawab. Kesediaan mengasuh juga tradisi yang mulia. Apalagi jika si anak ditinggal mati orang tua. Masing-masing merasa kompeten, mampu dan bertanggung jawab. Masalahnya, terkadang berujung pada merasa paling berhak. Merasa paling hebat dalam mengasuh si anak.

Drama rebutan anak di lingkungan para pasangan selebritis sebelumnya juga banyak diberitakan. Cobalah sebentar telusuri di google. Maka keyword “rebutan anak” menampilkan deretan kasus rebutan anak di sekililing kita. Tentu yang diikuti dengan drama, konflik, kekerasan, pengadilan bahkan pembunuhan.

Etalase Kesalehan atau Potensi Kesalahan?

Tampaknya di luar orang tua dan keluarga, kehendak menyayangi anak juga kerap dimaknai dengan menguasai anak. Bukan cuma dalam domain privat atau personal. Jika kita telisik, repotnya hal ini terjadi secara struktural dan terlembagakan. Sebut saja dalam konteks sistem penempatan anak dalam pengasuhan di lembaga. Perihal model dan praktik panti asuhan seperti menjadi “arus utama” dalam mengatasi masalah sosial anak. Banyak anak-anak yang terpaksa berada di luar keluarganya. Jumlah anak yang berada dalam pengasuhan alternatif cukup besar. Perkiraan UNICEF (2020) ada 2,2 juta anak Indonesia yang tidak tinggal dengan orang tua.

Sampai di sini, mungkin kita tak perlu cemas. Toh, sebagian besar mereka berada dalam  asuhan lembaga panti. Kocek modal sosial kita tampaknya masih, jauh dari kata bankrut. Mem “panti” kan anak seolah menjadi pilihan terbaik dan merupakan etalase kesalehan kita. Namun, semangat dan kesalehan ini bukan berarti tak ada potensi kesalahan atau kekeliruan. Ambil contoh, anak-anak di panti asuhan. Ternyata mereka masih mempunyai orang tua kandung, setidaknya kerabat atau keluarga besar. Sebagian besar dalih yang tersampaikan adalah alasan kemiskinan.

Kajian dari UNICEF menunjukkan sebagian besar motifnya adalah agar dapat mengakses pendidikan. Jika iya, kenapa tidak kita biarkan mereka tinggal bersama keluarga inti atau keluarga besarnya, namun tetap dapat bersekolah?

***

Sedikit banyak, adanya keaktifan lembaga untuk melakukan rekrutmen anak, bisa kita maknai sebagai “merebut” anak dari keluarga. Kita terlalu mudah mengambil alih peran keluarga. Upaya pemerintah untuk memberikan pemahaman bahwa pengasuhan anak berbasis lembaga adalah alternatif terakhir belum berhasil. Tak sedikit lembaga yang bermindset tetap : tanpa adanya anak-anak yang tinggal di dalam lembaga, sulit untuk membuktikan bahwa mereka memang melayani anak-anak. Di pihak lain, donatur bertanya, “Lho anak-anak asuhnya mana?”

Bukankah setiap anak memiliki ikatan emosional dan psikologis dengan keluarga dan komunitasnya? Apakah sudah melewati asesmen situasi pengasuhan oleh orang tua dan keluarga? Setiap anak itu unik, latar belakang beragam dan pengalaman yang bineka. Lalu, pertanyaan kritisnya apakah tinggal di lembaga lebih karena kepentingan program atau keberlangsungan lembaga? Itulah beberapa pertanyaan kritis yang perlu kita ajukan.

Cara berpikir, kebiasaan dan pola penanganan dalam pengasuhan berbasis lembaga membuat banyak anak tercerabut dari akarnya. Belum bicara tentang lemahnya pemantauan dan pengawasan. Beberapa kasus yang hadir, memberikan kewaspadaan dalam lembaga tak ada jaminan steril dari praktik yang justru tidak memihak kepentingan terbaik anak.

Berbasis Keluarga

Berlomba menyayangi dan peduli anak, bukan berarti berlomba menguasai mereka secara fisik. Menguasai anak secara fisik tatkala ada keluarga yang lebih berhak, bukan tanda kearifan. Selama ini, banyak lembaga yang mengambil alih asuhan begitu saja dari keluarga.

Belum lagi, anak-anak yang diadopsi tanpa mempertimbangkan apakah ada keluarga terdekat yang lebih layak. Mencerminkan kegagapan kita dalam mencegah anak-anak keluar dari asuhan yang utama. Bukankah lembaga dan adopsi adalah pengasuhan alternatif terakhir? Dan keluarga adalah prioritas utama.

Jangan-jangan kita suka bicara tentang penguatan keluarga. Pada saat yang sama, sedang melemahkannya. Tentu, bukan berarti kita harus meniadakan eksistensi dan peran lembaga-lembaga yang ada. Melainkan bagaimana keluarga menjadi basis pelayanan, sementara pemerintah dan masyarakat melalui lembaga-lembaga memberi penguatan.

Tentunya tetap harus tersedia lembaga yang siap dan aman, manakala ada anak-anak yang memang membutuhkan perlindungan sosial.Merespon soal siapa yang mengambil peran pengasuhan seharusnya bukan metode batu gunting kertas. Cara yang kita jalani seharusnya tidak berorientasi relasi menang kalah. Pemerintah dan legislatif telah melahirkan kertas-kertas regulasi.

***

Media tak hanya melulu menggunting berita sana sini apalagi berisi drama-drama yang kontraproduktif. Lembaga dan masyarakat tak seharusnya jadi batu, yang tak mau berubah dalam orientasi pelayanan ini. Kepentingan yang terbaik bagi anak harus jadi pemenangnya. Seringkali anak-anak menjadi korban. Entah itu atas alasan keegoisan, ekonomi, kekuasaan, kemenangan psikologis dan mungkin keberlangsungan program dan eksistensi lembaga.

Menentukan siapa yang mengasuh anak itu bukan permainan. Anak-anak jangan menjadi korban konflik orang dewasa dan perbedaan kepentingan. Kepentingan anak adalah mereka tumbuh dan berkembang dengan baik, terpenuhi hak-hak dasarnya, terlindung dari diskriminasi dan kekerasan. 

Cukuplah anak-anak saja yang bermain dengan undian. Ingin berperan dalam pengasuhan anak jangan kita lakukan dengan relasi saling meniadakan. Peduli juga tak harus menguasai. Inilah mindset yang harus kita praktekkan bersama. Membela anak tidak dengan cara mirip bermain batu gunting kertas.  Kepentingan terbaik anak tidak boleh kita undi. Sebab, taruhannya terlalu besar. Bisa-bisa kemanusiaan, kegembiraan dan masa depan anak yang akan terampas. Kepentingan anak kok kita undi? 

Bagikan
Exit mobile version