Kemajuan Saf di Tengah Ramadan
Bulan Ramadan merupakan bulan yang spesial bagi umat Islam, bulan yang dinanti-nanti kedatangannya. Datangnya bulan ramadan menjadi tanda bahwa umat Islam harus melakukan puasa. Puasa Ramadan bertujuan agar menjadikan umat manusia yang bertakwa. Seperti yang Allah Swt. firmankan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Salah satu upaya untuk meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadan adalah dengan melaksanakan salat Tarawih, salat yang hanya ada di bulan Ramadan. Salat yang menjadikan sebagian umat Islam yang tidak pernah ke masjid datang ke masjid, yang tidak pernah salat, akhirnya ikut salat. Mengalahkan ibadah wajib yang telah Allah Swt. tetapkan, yakni salat lima waktu.
Sebuah kemajuan yang luar biasa bagi umat Islam, semua hati tergerak untuk mendatangi masjid di bulan Ramadan. Namun, tak semua kemajuan itu baik, seperti saf salat yang semakin ‘maju’ di bulan Ramadan ini. Maksudnya, jumlah saf jamaah semakin berkurang, sehingga semakin maju ke depan. Padahal, di awal Ramadan lalu, masjid-masjid atau musala penuh sesak oleh jamaah, khususnya saat salat Tarawih. Untuk menampung jamaah yang membludak, beberapa masjid bahkan sampai membuat tenda tambahan di halaman, atau bahkan rela menggelar sajadahnya di pinggir jalan.
***
Banyak yang tidak memahami hakikat dari ibadah, oleh sebab itu banyak yang menganggap ibadah salat tarawih lebih penting daripada salat lima waktu. Salat tarawih sebagai penyempurna ibadah kita di bulan Ramadan, maka jangan sampai kita tinggalkan ibadah-ibadah sunah di bulan Ramadan, karena semua ibadah kita hanya untuk Allah Swt., bukan yang lainnya.
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam”.
Di ayat lain juga dijelaskan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”
Lantas, sudah sampai mana ibadah Ramadan kita?
***
Mendekati akhir Ramadan banyak dari kita yang semakin sedikit melaksanakan salat tarawih, kebanyakan jamaah sibuk memenuhi kebutuhan hari raya daripada mengencangkan sabuk ibadah.
Perlu kita renungi salah satu hadis agar ibadah kita semakin kencang, tidak hilang di tengah-tengah ramadan.
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa bangun (salat malam) di bulan ramadan dengan iman dan ihtisab, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini bisa kita ambil pelajaran, jika kita melaksanakan salat Tarawih di bulan Ramadan dengan sungguh-sungguh hanya mengharap rida dari Allah Swt., maka Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Sungguh besar nikmat Allah yang Ia berikan di tengah Ramadan, tapi kenapa masih banyak orang yang terlena dengan diskonan yang terpampang di tempat perbelanjaaan. Padahal semua itu sifatnya sementara, tapi janji Allah Swt. kekal selamanya hingga ajal menjemput kita.
***
Selain itu, kita juga harus menata niat mulai dari awal Ramadan, karena ibadah membutuhkan ilmu bukan asal-asalan yang penting ibadah. Nikmat lain yang diberikan Allah Swt. di tengah ramadan, adanya malam lailatulqadar, ibadah di malam tersebut bernilai seperti ibadah 1000 bulan.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Maksud dari ayat di atas adalah ibadah di malam lailatulqadar itu lebih utama dari ibadah di seribu bulan lainnya yang tidak terdapat lailatulqadar. Ini merupakan nikmat yang sangat istimewa bagi umat manusia, tapi kenapa masih kita sia-siakan nikmat ini?
Belum tentu kita bisa bertemu dengan ramadan berikutnya, jadikan seluruh ibadah kita seolah-olah sebagai ibadah terakhir kita. Jika sudah kita tanamkan bahwa ini puasa terakhir kita, ini tarawih terakhir kita, ini salat terakhir kita, maka tidak akan ada rasa ingin menyia-nyiakan ibadah. Semoga kita senantiasa diistiqomahkan dalam setiap ibadah, baik wajib maupun sunnah. Aamiin!!!
(Wakil Kepala SD Mupat Kota Malang, Anggota LPP PCM Lowokwaru, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga)
