Site icon Inspirasi Muslimah

Ibu Rumah Tangga VS Ibu Bekerja: Fenomena yang Terjadi Dikalangan Ibu-Ibu

ibu rumah tangga bekerja

Raodhatul-Jannah

Dahulu kala, masyarakat memandang sebelah mata peran ibu rumah tangga, kata mereka menjadi ibu rumah tangga saja tidak cukup berkontribusi bagi keluarga, belum lagi jika ada embel-embel gelar sarjana di belakang nama yang semakin membuat tertekan. Katanya “masa sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya di dapur”,“buang-buang uang orang tua saja, kalau ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga.”

Penilaian masyarakat terhadap ibu rumah tangga pun bertambah dengan menganggap “ibu rumah tangga sih enak, duduk diam di rumah tinggal menunggu nafkah bulanan dari suami” Tetapi, pengalaman yang berbeda dirasakan para mereka ibu rumah tangga yang menganggap bahwa peran ibu rumah tangga minim apresiasi dan tidak mendatangkan keuntungan dari segi materi.

Belum lagi mengerjakan pekerjaan rumah yang itu-itu saja. Sehingga terkuak fakta bahwa memilih peran sebagai ibu rumah tangga bukanlah keputusan dari istri itu sendiri melainkan keinginan suami semata. Sebab suami menganggap kondrat seorang istri adalah di rumah.

Paradigma yang merugikan ibu rumah tangga itulah menjadi pemicu adanya perbandingan dengan para ibu yang bekerja. Memunculkan anggapan bahwa menjadi ibu yang bekerja lah yang lebih baik. Ibu bekerja dianggap lebih mandiri, berpenghasilan sendiri, tanpa berharap gaji dari suami. Apalagi jika ia bekerja sebagai ASN. Dijamin peran ibu bekerja akan lebih terpandang, dan tingkat gengsinya pun meningkat.

Oleh sebab itu, tak jarang banyak ibu rumah tangga yang ingin beralih menjadi ibu yang bekerja dengan niatan ingin mendapatkan penghasilan, kalau bisa sih bekerja di tempat yang bergengsi.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah paradigma dahulu kala masih relevan dengan zaman sekarang yang sudah lebih modern? Jika penilaiannya tentang mencari penghasilan, di zaman yang modern sekarang ini lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah.

Misalnya menjadi freelance sesuai dengan passion, reseller atau dropshipper barang, momfluencer yang dibayar dengan meng-endorse barang atau jasa, content creator, dan masih banyak lagi pekerjaan yang bisa ibu rumah tangga kerjakan dari rumah.

Bahkan untuk soal penghasilan, keuntungan yang didapatkan bagi para ibu rumah tangga  yang bekerja di rumah jauh lebih besar dibandingkan dengan ibu bekerja di ranah publik. Fakta di lapangan pun membuktikan bahwa ibu rumah tangga zaman sekarang bisa membangun kerajaan bisnisnya di rumah.

Munculnya berbagai komunitas online pun dijadikan peluang bagi para ibu rumah tangga untuk berperan aktif mengaktualisasikan diri sesuai dengan minat dan bakatnya. Apalagi jika ikut berkontribusi diberbagai komunitas yang berbeda-beda.

Gengsi pun semakin meningkat jika diundang sebagai pembicara dalam kegiatan komunitas tertentu. Nah, yang tidak kalah bergengsi lagi apabila seorang ibu rumah tangga mampu mendirikan sebuah komunitas yang memiliki followers ribuan, ratusan hingga jutaan di instagram, yang membuat komunitas tersebut terkenal di masyarakat.

Apakah kalian masih meragukan sepak terjang ibu rumah tangga? Bisa mengerjakan pekerjaan domestik, bisa mendampingi tumbuh kembang anak, pun bisa berkontribusi di masyarakat, hingga melahirkan karya dan mempunyai penghasilan sendiri. Sebuah prestasi yang luar biasa bukan? Ternyata dari rumah saja, semuanya bisa dilakukan.

Dengan adanya pergeseran budaya inilah, seorang ibu rumah tangga tidak lagi menjadi pihak yang dirugikan dan dibanding-bandingkan dengan ibu bekerja. Sebab keduanya sudah sama-sama berdaya dan menghasilkan uang.

Fakta-fakta di atas mampu membuka pemikiran masyarakat, bahwasanya ibu rumah tangga adalah peran yang membanggakan. Betapa tidak, seorang ibu rumah tangga mampu menjalankan tugasnya, baik sebagai seorang individu, istri, dan ibu.

Tetapi, kehidupan yang serba modern ini malah menimbulkan isu tebaru terkait ibu bekerja. Ibu bekerja di ranah publik dianggap ibu yang egois. Egois karena tidak mengambil peran secara utuh dalam mengasuh anak. Anak ditinggal di rumah bersama pengasuhnya atau menitipkan ke daycare atau rumah orang tua.

Sehingga orang lain yang melihat beranggapan bahwa menyewa pengasuh atau menitipkan anak ke daycare adalah upaya yang sia-sia, karena hanya menambah pengeluaran “lebih baik ibunya saja yang berhenti kerja, wong sama saja kan membayar pengasuh atau daycare”, “kasian masa tua orang tuanya tidak bahagia, malah dititipin cucu setiap hari.“

Anggapan-anggapan tersebut, mempengaruhi sebagian ibu bekerja untuk resign dari pekerjaannya,  dengan alasan ingin fokus mengurus anak. Tetapi adapula yang beralih profesi sebagai mompreneur atau momfluencer dengan sambil mengasuh anak dan juga mempunyai penghasilan tambahan.

Pada dasarnya ibu rumah tangga dan ibu bekerja sama-sama individu yang bekerja. Hanya saja yang membedakan ibu rumah tangga bekerja di ranah domestik, sedangkan ibu pekerja bekerja di ranah publik. Setiap peran, baik itu ibu rumah tangga maupun ibu bekerja, sama-sama memiliki nilai plusnya.

Hanya bagaimana mereka menyikapi perannya. Lagi pula akan ada masanya ibu rumah tangga menjadi ibu bekerja, dan ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga. Karena peran ini hanyalah persoalan waktu yang akan menyesuaikan kondisi keluarga.

Bagikan
Exit mobile version