Covid-19 mengubah cara hidup kita, hampir semua. Dari hal yang berkenaan dengan diri sendiri, maupun cara kita berhubungan dengan orang lain. Mulai dari cara menjaga kesehatan, cara makan, cara berbelanja, cara bekerja hingga cara bersekolah.
Ya, betul sekali. Pandemi Covid-19 membuat pemerintah untuk melakukan metode pembelajaran di rumah. Sehingga, seluruh orang tua yang anaknya bersekolah, mulai dari PAUD sampai jenjang universitas merasakan dampaknya. Rasanya seperti memindahkan sekolah ke rumah. Home schooling? Mungkin mirip, tapi home schooling yang dipaksakan.
Orang tua yang secara sadar memilih home schooling pasti sudah siap lahir batin. Ya, minimal belajar menyiapkan lahir batinnya. Nah, kalau orang tua di masa pandemi ini bagaimana? Orang tua tidak memiliki pilihan lain selain menerima siswa baru, membuka sekolah baru dalam rumahnya.
Orang tua dipaksa menjadi guru dadakan bagi siswa yang tidak lain adalah anaknya. Hasilnya, walau tidak semua, tapi banyak orang tua yang mengeluhkan kondisi ini. Dana membengkak, emosi pun memuncak. Kuota, listrik, air, logistik semua mencapai titik tertinggi dalam sejarah kehidupan keluarga karena pandemi ini.
Bayangkan, semua keluarga di rumah yang kebutuhan utamanya kalau tidak internet ya makan. Belum lagi mengelola emosi anggota keluarga, di mana biasanya kontak fisik hanya dilakukan beberapa jam saja, kini praktis kontak fisik yang terjadi lebih intens. Hal ini cenderung menimbulkan gesekan-gesekan yang berpotensi memunculkan konflik. Bisa dibayangkan operasional yang tinggi selama pandemi. Belum lagi biaya sekolah yang masih harus tetap dibayarkan meski sudah belajar di rumah, SPP misalnya.
Hal-hal Sulit dalam BdR
Masa pandemi ini, dalam konteks Belajar dari Rumah (BdR), yang harus disiapkan adalah pikiran dan hati untuk mendampingi anak. Bukan rahasia lagi, kalau pelajaran anak-anak sekarang sulit. Banyak komentar orang tua yang membandingkan tingkat kesulitan pelajaran anaknya dengan zaman mereka. Belum lagi anak yang kecanduan gadget, atau anak yangg kebosanan di rumah, sungguh memicu stres.
Ditambah dengan kemampuan mengendalikan emosi anak agar tetap bersemangat untuk belajar. Inilah bagian tersulit. Jangankan menjaga emosi anak, menjaga emosi orang tua agar tetap sabar menghadapi anak saja terkadang perlu pembelajaran lebih. Sisi lain, cara mengajar orang tua yang tentu berbeda dengan guru, lingkungan belajar yang berbeda dengan di sekolah.
Rasa sungkan dan hormat yang dirasakan anak kepada orang tua bisa saja berbeda saat kepada guru. Biasanya anak akan lebih nurut dengan gurunya. Lumrah kita jumpai anak-anak yang mudah diarahkan ketika berada di sekolah, ketika bersama dengan gurunya, akan tetapi mereka menjadi berbeda justru ketika bersama orang tua. Faktor ini pulalah yang menjadikan belajar di rumah menjadi lebih menyeramkan, bukan menyenangkan.
Home Education sebagai Fitrah Keluarga
Namun, apabila kita mau jujur, bukankah pandemi ini justru memperjelas kualitas hubungan orang tua dengan anak? Sejauh mana orang tua mengenali dan memahami anak. Sejauh mana peran orang tua dalam pendidikan anak. Apakah mereka termasuk tipe orang tua yang asal tahu jadi? memasrahkan sepenuhnya kepada sekolah, atau orang tua yang berperan aktif? merasa sekolah hanyalah bagian dari pendidikan besar anak.
Pandemi ini membuat keluarga menemukan kembali fitrahnya. Keluarga harus terlibat aktif dalam pendidikan anak. Ayah ibu kembali menemukan perannya.
Inilah pentingnya home education. Sebab, baik home schooling, unschool atau bersekolah di suatu lembaga pendidikan, mereka merupakan bagian dari sistem home education. Kita (orang tua) tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada lembaga. Apalagi di tengah kondisi pendidikan kita hari ini.
Sekolah dengan segala keterbatasannya sangat wajar jika melakukan penyeragaman sisitem pendidikan. Masalahnya, penyeragaman ini cenderung tidak mengakomodir potensi anak yang kurang sekalian dengan sistem. Semua anak diperlakukan sama. Padahal sebagaimana kita ketahui dan kita setujui bahwa setiap anak adalah unik dengan segenap potensi dan karakter yang disertakan Allah padanya.
Disinilah letak urgensi home education. Keluarga mengisi kekosongan yang tidak bisa dijangkau oleh sistem pendidikan. Keluargalah yang mengenali dan mengasah potensi unik setiap anak.
Contoh Kasus, sekolah bisa mengajarkan cara membaca yang baik. Akan tetapi, belum tentu bisa menanamkan minta baca yang baik kepada anak. Minta baca tumbuh ketika anak mengetahui manfaat dan fungsi dari membaca tersebut. Anak dibuat haus dan lapar akan ilmu, sehingga mendorong anak untuk terus memenuhi laparnya. Hal ini bisa diawali dari minat anak tersebut.
Mengoptimalkan Potensi dan Menumbuhkan Karakter Anak
Minat anak terhadap sesuatu membuatnya penasaran dan terus mencari jawaban dari keingintahuannya. Bukankah sifat dasar anak adalah selalu ingin tahu. Masalahnya, minat setiap anak berbeda. Di sinilah letak peran orang tua. Guru dengan segala keterbatasannya tidak bisa melayani satu per satu keinginan anak. Tapi orang tua bisa. Bahkan orang tua bisa mengembangkan, menggali lebih dalam minat anak tersebut. Bahkan lebih jauh lagi bisa menggali potensi dan bakat anak.
Misalnya lagi, cara mengerjakan soal matematika dapat diajarkan oleh guru, juga bisa dikerjakan dengan pintar oleh kalkulator dan Mbah Google. Namun, ketekunan, kesabaran, sikap pantang menyerahnya anak dalam menemukan jawaban tidak bisa sepenuhnya diajarkan oleh guru.
Disinilah orang tua berperan mendampingi anak untuk menumbuhkan karakternya. Sebagaimana kita pahami bersama, justu karakter di atas yang menentukan kesuksesan dan kebermanfaatan seseorang di masa depan. Dunia ini lebih membutuhkan orang yang peduli daripada yang pintar.
Apabila orang tua sekarang mengeluhkan sulitnya mengajar anak, sulitnya memahami anak, lalu siapa lagi yang bisa diharapkan untuk memahami dan mendidik mereka? Apabila orang tua sendiri kebingungan dan tidak paham dengan anak mereka sendiri lalu siapa lagi yang dituntut untuk memahami anak.
Pandemi ini akhirnya memaksa orang tua, ayah dan ibu, untuk kembali ke keluarga mereka. Ayah ibu yang tersibukkan dengan aktivitas mencari nafkah dan aktivitas domestik lainnya, kini dipaksa untuk menjalankan peran sesungguhnya sebagai pendidik anak.
Tak tertarikkah orang tua untuk melahirkan generasi yang gemilang? yang tidaak hanya pintar namun juga berbudi. Tak hanya kaya harta namun bisa bermanfaat bagi semesta. Generasi yang menemukan peran mereka dalam peradaban.
*Penulis adalah Ibu yang selalu belajar dari kedua buah hatinya
Penulis adalah ibu yang selalu belajar utamanya dari kedua buah hatinya.
