“Miyo tokaino sora akete kyo kujitsu takaku kagayakeba…”
Sebuah lagu Jepang ini sesekali masih dilantunkannya. Sambil tersenyum riang dia menyanyikan lagu, semasa masih sekolah dulu, dengan penuh penghayatan. Kadang aku sengaja bertanya apa arti lagu tersebut. Dia hanya menjawab bahwa lagu itu bila dinyanyikan bersama teman-temannya di sekolah terasa seru dan menyenangkan. Bila kuminta menyanyi lagi, berbinarlah wajahnya tanda dia sedang bahagia.
Tak hanya menyanyi, dia sering berdoa yang sehari entah berapa kali dirapalkannya hingga aku hafal di luar kepala saking seringnya.”Allahumma anta Robbi laa ilaaha illa anta…dst” adalah salah satu doa favorit yang selalu dikumandangkannya tanpa bosan.
Entah kerena terlalu hafal atau karena lupa. Kadang, pada saat mandipun dia membaca doa itu sambil mengusapkan sabun di badan. Sebentar nyanyi, sebentar kemudian berdoa. Bila bosan ganti berdoa dengan bahasa jawa memohon semoga di akhir hayat husnul khotimah.
Begitulah rutinitas kesehariannya selain makan, tidur, mandi, kadang masih ingat dan minta ditemani shalat.
Dialah ibuku yang sudah lanjut usia dan sudah berkurang kemampuan dirinya untuk berbuat segala sesuatu yang dulu pernah dilakukannya dengan mudah. Daya ingat, penglihatan, pendengaran dan gerak tubuh, semua sudah tidak seperti dulu lagi. Anehnya, hal ini sering disebut orang sebagai sakit tua.
“Kau lahir bukan dari sebongkah batu dan bila kau mau sehatnya harus mau pula sakitnya…!”
Orang yang mengucap kalimat seperti itu merasa sudah menasehatiku. Menurutnya itu merupakan kata-kata bijak bestari, namun bagiku lebih sebagai kata-kata kurang enak yang mampir di telingaku dari sebagian kecil manusia yang suka menilai orang lain dari dhohirnya (lahirnya) saja.
***
Terlahir sebagai seorang perempuan yang sering dituntut kelemahlembutannya, bukan tidak boleh sesekali bersikap tegas, berani dan bermental baja. Khususnya bila berhadapan dengan orang-orang yang suka nyiyir, merasa diri paling benar.
Mereka tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu kata-kata pedas yang diucapkan berdampak melukai perasaan orang lain atau tidak. Seperti yang kualami beberapa tahun lalu ketika sekian tahun merawat ibuku yang sudah sepuh.
Selama kurang lebih 15 tahun, ibuku mangalami bermacam masalah dengan kesehatannya. Semakin lama, secara perlahan, keluhannya semakin bertambah. Di tahun ke 5 sejak kurang sehat, dia mengalami kepikunan. Saya kurang tahu apa bahasa medis dari pikun. Setahuku karena usia lanjut, sering lupa, suka marah dan kadang seperti anak kecil.
Dikaruniai usia panjang atau pendek itu murni urusan Allah. Kita tidak bisa minta harus mencapai usia sekian dan sekian. Begitupun ibu kita. Ada yang ditakdirkan panjang usianya hingga lanjut dan ada pula yang dipanggil ketika kita masih kecil dan masih sangat membutuhkan kehadirannya. Semua sudah tertulis. Bersyukurlah kita yang hingga hari ini masih bisa mendampingi bahkan merawat ibu di usia senjanya.
Demikian juga tentang anak. Meski sekarang jaman sudah maju, sudah ada program KB yang bisa mengatur jumlah anak. Tapi takdir tetap ada di tanganNya. Ada yang dikaruniai banyak anak, satu anak, atau tidak ada anak sama sekali. Sebagai orang yang beriman, hal ini justru bisa membuat kita makin bersyukur dan makin mendekat kepada Dia Dzat yang Maha Berkehendak.
Seperti ibuku yang garis nasibnya memiliki banyak anak. Ketika anak-anak masih kecil, bisa dibayangkan betapa repotnya, letihnya, bagaimana kesabarannya dalam mendidik, merawat, mendampingi tumbuh kembang anak hingga dewasa.
***
Merawat dan mendidik banyak anak tentu tidak sama dengan merawat dan mendidik satu anak saja. Orang tua hanya tahu anak adalah titipan, merawat dan mendidik merupakan kewajiban yang harus ditunaikan; karena kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya. Itulah sebabnya, meski ibuku memiliki banyak anak, tak satupun anak yang diperlakukan istimewa dari anak yang lain.
Pendidikan anak semasa kecil dari orang tua, guru maupun lingkungan tempat tumbuh kembangnya anak, sangat berpengaruh kelak hingga dewasa. Ini bisa dilihat ketika orang tua kita sudah sepuh dan menjadi kewajiban kita sebagai anak untuk merawat dan mendampinginya. Rasa hormat dan penuh kasih tak boleh berkurang, meski orang tua sudah pikun.
Sebagai anak yang berbakti, kita dituntut untuk memiliki kesabaran 200% bahkan 1000% terhadap mereka. Wujud dari birrul walidain atau berbakti kepada orang tua, benar-benar kita upayakan tidak hanya karena rasa “kasihan” terhadap orang tua; tapi karena merupakan perintah dari Allah swt.
Orang tua di masa usia lanjut sebenarnya tak membutuhkan sesuatu yang ada hubungannya dengan materi. Dia hanya butuh dirawat, didampingi, ditemani dan sesekali didongengi hal-hal yang menyenangkan hati.
Selama masih bisa diajak berkomunikasi, dia masih bisa menangkap apa yang kita sampaikan. Walau dikatakan pikun, bukan berarti setiap detik setiap waktu adalah pikun. Ada saat di mana memori ingatannya bagus. Kadang suka ngomong sendiri hal-hal yang pernah dialami dan benar apa yang dikatakan. Saat itulah waktu yang tepat bagi kita untuk mengajaknya ngobrol tentang hal-hal yang menyenangkan dan membuatnya bangga.
***
Belum ada sejarah yang menceritakan bahwa orang tua khususnya ibu yang meminta kembali air susunya. Tidak ada. Karena kedudukan ibu sangat agung yang dalam hadis pun, diterangkan bahwa ibu disebut sebanyak tiga kali, baru kemudian ayah satu kali, jasa dan pengorbanannya tidak bisa kita balas dengan apapun. Andaikan kita mampu menggendongnya keliling dunia tak akan sebanding dengan satu kali dia mengejan ketika melahirkan kita.
Selama 15 tahun merawat orang tua yang sudah sepuh, banyak sekali drama yang harus kulalui. 15 tahun bukanlah waktu yang singkat. Suka duka selalu ada. Bila suatu saat aku merasakan sesuatu yang sedikit kurang berkenan di hati terhadap orang tua, bapak ibu, sering kuatasi dengan banyak mengucap istighfar sambil menghela nafas panjang. Lega. Mereka bukan beban tapi mereka adalah tanggungjawabku di hadapanNya.
Tak cukup sampai di situ. Menghadapi mereka berdua dengan karakter yang berbeda ternyata membutuhkan energi yang berlipat ganda demi menata hati, menata emosi dan menata lisan agar tak melukai perasaan mereka.
Di tahun ke 13 bapakku berpulang meninggalkan ibu yang tingkat kepikunannya sudah semakin nyata; hingga tak tahu dan tidak sadar bahwa bapak telah mendahuluinya. Momen ini menjadikan kami anak-anaknya telah kehilangan salah satu ladang pahala menuju pintu surgaNya.
Dalam keluarga besar kami aku yang terdekat dengan orang tua. Pintu rumahku di sebelah rumah bapak ibuku. Tiba masanya mereka renta akulah yang menemani dan melayaninya setiap hari. Secara berkala dan terjadwal saudara-saudara datang membantu di hari tertentu. Sebab hampir semua saudaraku ada di luar kota.
Bahkan beberapa di antara mereka berebut ingin memboyong ibu di rumahnya setelah bapak tiada, agar aku bisa sedikit “istirahat”. Tapi tak lama kemudian ibupun kembali ke rumahku. Alasan yang paling utama adalah karena kebetulan aku bukanlah perempuan pekerja. Aku adalah ibu rumah tangga biasa di rumah yang memiliki banyak waktu luang dibanding mereka yang berkarir di luar rumah.
***
Kami, semua anak-anaknya sadar. Merawat dan menjaga ibu menjadi kewajiban kami. Aku sangat bersyukur ketika akhirnya ibu kembali dan kesempatan ini kumanfaatkan sebaik mungkin demi mendapatkan berkah dan ridha Illahi.
Bagiku, 15 tahun merawatnya belum berarti apa-apa. Karena aku merasa ketika diriku berusia 0-15tahun belum mampu berbuat apapun. Makan, minum, sandang dan pangan, semua masih kudapat dari orang tua. Seandainya ibu masih dipanjangkan umurnya pun aku siap sedia dan masih sanggup merawatnya dan aku yakin hanya Dia yang tahu aku ikhlas atau tidak menjalaninya.
Selain fisik, perasaan ibu juga aku jaga hingga menjelang ajal. Apa saja yang kulakukan terhadap ibu sehari-hari, orang lain tidak perlu dan tidak harus tahu. Meski kadang rasa penat sangat mendera dan membuatku hampir menyerah, namun dengan cepat segera bisa kuatasi.
Rasa syukurku tak terhingga lantaran telah Dia pilihkan aku seorang pendamping yang sangat mencintaiku dan sangat menghormati ibuku. Tanpa dukungannya, tak akan sekuat ini mental dan fisikku dalam menjalani rutinitas sehari-hari yang lebih sering membutuhkan
Dan berkah dari merawat orang tua itu nyata ada. Kemudahan dan kelancaran dalam berbagai urusan telah aku dapatkan. Yang semula tidak ada dalam mimpi, anganku atau sekedar bayanganku, tiba-tiba menjadi nyata. Aku yakin semua ini karena keberkahan yang kuperoleh semenjak kumerawat ibu dengan sungguh-sungguh serta berusaha ikhlas dan sabar meski tidak mudah.
Satu tahun lalu ibu tiada. Hilang lagi satu pintu surga buatku selain pintu surga karena berbakti kepada suami. Bagi yang masih punya orang tua hingga lanjut usia, berbahagialah, bersyukurlah. Pintu surga ada di depan mata. Sudah seharusnya pintu itu jadi rebutan. Semua punya kesempatan untuk menggapai dan merebutnya. Pintu menuju ridhaNya.
Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
