Site icon Inspirasi Muslimah

Hidayah dan Petunjuk

Hidayah

Kalau kita menonton film-film religi tentang hidayah dan petunjuk di televisi. Biasanya ada satu tema yang sering diangkat menjadi plot umum dalam film, yaitu kisah sang tokoh utama yang sebelumnya memliki tabiat dan perangai yang tidak baik. Lalu kemudian bertaubat dan berubah menjadi sesosok orang dengan tabiat dan perangai yang lebih baik.

Kita sering menyebut perjalanan kisah tokoh tersebut sebagai perjalanannya. Dalam menjemput “hidayah” dan petunjuk melalui perjumpaan dan pengenalan tokoh terhadap ajaran agama untuk dapat berubah menjadi lebih baik.

Pada zaman Rasulullah dulu kisah-kisah seperti ini dapat kita temui pada awal penyebaran Islam di kota Mekkah pada waktu itu. Salah satu kisah yang mungkin paling terkenal dalam periode awal penyebaran Islam adalah kisah Umar bin Khattab saat dirinya memeluk Islam.

Umar sebelum masuk Islam adalah salah satu orang yang sangat keras menentang ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Bahkan puncak penentangan Umar terhadap ajaran nabi adalah ketika Umar berencana untuk membunuh nabi.

Kisah Adik Umar Memeluk Islam

Akan tetapi rencana ini ternyata justru merupakan jalan Umar dalam memeluk agama Islam. Alkisah, saat Umar berada di tengah perjalanan dalam melaksanakan rencananya tersebut. Ia bertemu dengan salah satu orang yang menginfokan bahwa adiknya ternyata diam-diam memeluk Islam tanpa izin dan sepengetahuan darinya.

Mendengar berita ini Umar pun naik pitam dan bergegas menuju rumah adiknya untuk mengklarifikasi berita yang ia dengar tersebut. Begitu sampai, ia langsung marah ketika melihat adiknya sedang memegang dan membaca lembaran Qur’an. Mereka pun bertengkar hingga tanpa sengaja umar memukul adik perempuannya tersebut.

Karena menyesal dan insyaf atas perbuatannya, umar pun akhirnya meminta maaf kepada adiknya. Dan karena penasaran memintanya untuk memperlihatkan apa yang sebenarnya ia baca. Ketika ia membaca lembaran Qur’an yang berisi potongan awal ayat surah Thoha. Umar pun meneteskan air mata karena terkagum dengan keindahan lafaz quran yang ia baca.

Niatnya untuk membunuh nabi berubah menjadi niat untuk memeluk agama Islam. orang yang paling keras permusuhannya terhadap Islam kelak berubah menjadi salah satu pejuang Islam yang paling disegani. Dengan menjadi Khalifah kedua setelah Abu Bakar dan berjasa dalam melakukan ekspansi islam ke wilayah eropa pada masa kepemimpinannya.

Dua Orang yang Berpengaruh Besar di Mekkah

Rupanya di balik kisah masuk islamnya Umar itu, nabi ternyata pernah berdoa sebelumnya. Meminta supaya Allah menguatkan Islam dengan membuka pintu hati salah satu di antara Umar bin Khattab atau Umar bin Hisyam (Abu Jahal).

Kedua orang ini pada waktu itu merupakan orang yang memiliki pengaruh besar di Mekkah. Selain itu keduanya merupakan orang yang paling kuat menentang ajaran nabi. Akan tetapi, dengan kekuatan keyakinan dan doa nabi Umar bin Khattab akhirnya terbuka pintu hatinya untuk menerima islam.

Kisah masuk Islamnya Umar ini berbanding terbalik dengan kisah Abu Thalib yang merupakan paman nabi. Abu Thalib yang meskipun membantu dan membela perjuangan nabi secara gigih, justru hingga akhir hayatnya tidak bersedia untuk memeluk Islam. Bahkan nabi hingga akhir tetap mendampingi pamannya menjelang sakaratul mautnya sambil membujuknya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Hal ini bertujuan agar pamannya termasuk termasuk golongan orang yang dapat ia beri syafaat di hari akhir kelak. Tetapi takdir berkata lain dan abu Thalib paman yang paling nabi sayangi meninggal dalam keadaan belum berislam.

Substansi Persoalan Hidayah

Dari kedua kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran. Bahwa persoalan hidayah adalah persoalan yang tidak hanya berdasarkan dari usaha manusia semata. Tetapi juga ada kehendak dari Allah dalam memberikan petunjuk kepada orang yang ia kehendaki.

Umar yang dulunya merupakan musuh nabi yang paling keras, dengan kehendak-Nya kelak menjadi salah satu tokoh Islam yang paling penting dalam sejarah islam. Sedangkan abu Thalib paman nabi yang merupakan anggota keluarga terdekatnya justru sampai akhir hayatnya tidak dapat beliau ketuk pintu hatinya.

Berkaitan dengan peristiwa ini, Allah kemudian menurunkan firman-Nya;


إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau tidak mampu menunjuki orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang menunjuki siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).

Dalam riwayat, disebutkan bahwa asbabun Nuzul dari turunnya ayat di atas adalah sebagai pengingat dari Allah kepada nabi. Bahwa tugasnya sebagai rasul adalah untuk menyampaikan risalah Wahyu semata, dan tidak bertanggung jawab terhadap akibat-akibat perbuatan yang ditimbulkan orang lain setelahnya.

Persoalan seseorang menerima atau menolak keimanan setelah pesan kenabian sampai kepadanya adalah urusan orang tersebut dengan Allah semata. Kita tidak dapat memaksa orang untuk mengikuti ajaran islam bila dari orang yang bersangkutan belum mendapat hidayah-Nya. Atas kehendak-Nya lah orang mendapatkan petunjuk dan bukan atas kedekatan personal ataupun keinginan pribadi diri manusia.

Tugas Manusia Hanya Menyampaikan Pesan-Nya

Bilamana standar keberhasilan dakwah adalah jumlah orang yang berhasil diajak untuk memeluk islam secara nyata. Maka seorang nabi pun bisa dibilang gagal dalam menjalankan misinya. Nabi Nuh gagal dalam mengislamkan anaknya. Nabi Musa tidak berhasil dalam mengislamkan firaun, dan Nabi Muhammad luput dalam meyakinkan pamannya.

Misi utama dari para nabi dan rasul serta orang-orang muslim sekarang hanyalah untuk menyampaikan ajaran agamanya semata. Bukan mengislamkan orang secara langsung. Perkara orang tersebut mau menerima atau tidak bukanlah tanggung jawab manusia lagi.

Oleh karena itu kisah di atas juga memberikan kita pelajaran. Bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menerima kebaikan ataupun menolak kebaikan. Tidak ada yang hitam di atas putih. Orang dengan masa lalu sekelam dan seburuk apapun masih memiliki potensi untuk mendapatkan hidayah dan petunjuk. Sebaliknya, orang baik dan terdekat dengan kita juga punya potensi untuk tergelincir dan menolak kebaikan.

***

Hanya kewenangan Allah-lah yang berhak menilai siapa yang pantas dan berhak dalam menerima hidayah dan petunjuknya. Sekalipun di mata manusia terdapat keraguan dan keinginan yang berbeda dari ketetapan-Nya. Tugas manusia hanya menyampaikan pesan-Nya semata, sedangkan menurunkan hidayah dan memberikan petunjuk adalah mutlak kewenangan-Nya

 لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Apapun harta yang kamu infakkan, maka ()kebaikannya) untuk dirimu sendiri, Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apapun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan di dzalimi (dirugikan).(Al-Baqarah (2) : 272)

Editor : Amanat Solikah

Penulis : Rahmat Tri Prawira

Bagikan
Exit mobile version