Site icon Inspirasi Muslimah

Hey, Orang Tua, Jadilah Orang Dewasa yang Tumbuh Baik

orang tua

“Pak, tahu kasus mahasiswa UIN? Aku kok cemas ntar anak-anak kita ketemu orang gila kayak gitu. Kayaknya anak-anak perlu diberi tahu, supaya nggak berlebihan perhatian ke orang lain. Karena, kita nggak tau jiwa mana yang kering kasih sayang dan punya kecenderungan psiko.” kataku dua malam lalu.

“Lho, jangan ngelihat Masnya aja yang keliru. Salah juga Si Mbak ini, kok terlalu perhatian dengan mas-mas yang kesepian.” kata suamiku.

“Lha, kalo Masnya nggak psiko juga nggak akan kejadian dibacok segala. Sakit jiwa. Dia yang kosong, dia yang ngrepotin, nyilakani pula.” kataku lagi. Anak-anak bengong melihat kami.

Dua Malam untuk Bahasan yang Panjang

Dua malam kami membahas masalah mahasiswa UIN yang tiba-tiba menyerang temannya itu. Tentu saja kami berdua sepakat bahwa perbuatan kasar Si Mas UIN tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Saya sebut mereka berhubungan sebagai teman, meskipun di penyelidikan ada cerita lain soal relasi mereka. Bagi saya, hal itu nggak terlalu mempengaruhi gagasan utama tulisan ini.

Jelas ada luka yang menganga di diri Si Mas UIN. Luka itulah yang membuatnya bisa menyakiti orang yang pernah ia sayang. Perbuatannya justru menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang obsesif dan posesif terhadap sesuatu yang sangat berharga buatnya.

Dalam dua malam, kami bicara dengan cara pandang masing-masing. Saya dengan pengalaman saya, suami saya dengan referensinya.

Tak begitu sulit memahami sikap posesif Mas tersebut, kami pun begitu antara satu dengan yang lain. Dan, apa yang dikatakan suami saya benar. Bahwa, rasa kesepian yang berubah jadi hangat itu yang ingin ia pertahankan tetap ada. Dan sedikit banyak, Si Mbak punya andil dalam menyalakan rasa hangat yang dibutuhkan Si Mas itu. Sayangnya, sebagai anak muda, ya sangat wajar ketika Si Mbak masih punya keinginan mengenal orang lain yang lebih baik, jauh lebih baik daripada Si Mas itu.

Menurut suamiku, si mas UIN itu kosong, kesepian, dan haus diperhatikan. Sama, menurutku juga begitu. Sementara Si Mbak mungkin seperti matahari, energinya untuk menyayangi tidak habis-habis. Dan bagiku itu nggak apa-apa. Pun ketika ia memutuskan tak lagi bersama Si Mas itu.

Tapi bagi suamiku, watak penuh kasih sayang itu saat dikombinasikan dengan sikap naif justru bisa jadi bumerang yang bisa membahayakan orang lain dan diri sendiri.

Masa Kecil yang Datang Lewat Kisah Orang Lain

Lalu, suamiku bicara tentang watakku. Kami pun membahas lebih panjang tentang masa lalu pada malam kedua. Tentang bagaimana menurutnya saya pernah bisa begitu bodoh karena kerap merasa dibutuhkan orang lain. Saya begitu senang berlaku seperti pahlawan. Padahal seringnya saya hanya dimanfaatkan. Ya, untung saja nggak ada yang ngebacok saya di masa lalu.

Kami bicara sangat panjang tentang masa lalu sebagai referensi dalam membahas cerita anak UIN itu. Saya ingat bagaimana ia menegur saya ketika saya sering merasa tidak enak menolak permintaan remeh temeh teman kuliah.

Obrolan panjang malam itu melebar ke masa kecil. Kami tumbuh dalam situasi serupa, nyaris tanpa pengasuhan yang penuh. Ia yang ditinggal dinas ke pulau lain oleh orang tuanya dan diasuh oleh keluarga besar. Ia kesepian. Saya pun begitu, dengan orang tua yang selalu berorientasi pada dagang dan uang.

Saya bercerita tentang bagaimana saya menciptakan sosok imajiner karena saya merasa saya butuh ditolong di rumah saya sendiri. Sementara suami saya, ia justru berimajinasi bahwa ialah tokoh super yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan orang lain yang ia sayangi.

Kami sama-sama anak yang kesepian. Tapi ia tumbuh menjadi pribadi yang hangat. Katanya, ia nyaman dengan suasana gloomy yang bisa dia recall dengan lagu dan musik. Saya pun sama dengannya. Bedanya, saya selalu berpikir bahwa dunia akan lebih baik jika saya tidak pernah ada. Sementara ia, begitu yakin bahwa dunia bisa lebih baik saat ia ada.

Apa yang saling kami ceritakan membuat saya sadar bahwa saya beruntung. Ketakutan terbesar saya adalah anak-anak bertumbuh mirip saya di situasi finansial yang sedang buruk ini. Saya bilang, saya selalu memastikan anak-anak tidak tumbuh seperti saya. Saya cerita, bahwa saya gemetar jika anak pertama kami harus kena marah karena dulu sayalah yang selalu disalahkan jika ada yang tak beres di rumah.

Masa Kini yang Berbeda

Suami saya meyakinkan saya bahwa anak-anak kami tumbuh dalam dunia dengan kedua orang tua yang sama-sama sadar dan sepakat untuk berkomunikasi dengan baik, berkompromi dengan baik demi anak-anak. Dan inilah hal yang orang tua saya serta orang tua suami saya dulu tak punya. Komunikasi yang baik. Di sanalah kami pernah menjadi korban, tumbuh sebagai si sulung yang kesepian.

Kami sepakat bahwa kekosongan bisa diisi dan semestinya memang diisi lewat keluarga. Ayah yang hadir, ibu yang hadir, dalam keluarga yang lengkap. Dan kami mengupayakan itu.

Suami saya berkata nggak harus dengan keluarga yang lengkap sempurna sebenarnya kebutuhan batin anak bisa dipenuhi. Dalam keluarga dengan orang tua tunggal, bisa ibu saja yang hadir, atau ayah saja yang hadir. Kehadiran penuh dari orang dewasa yang membawa anak ke dunia bisa menjadi lentera dan penghangat bagi anak mana pun di dunia.

Mengapa Ada Anak yang Tersesat

Obrolan kami melebar hingga soal anak dengan suicidal thought. Segala permasalahan yang belakangan menyeruak termasuk perihal anak yang mengakhiri hidup di beberapa kota kami bahas. Kadang, kunci utamanya memang ada di soal hadirnya orang yang sudah mendatangkan anak-anak itu ke dunia. Yap, orang tuanya.

Dan ketika sebuah peristiwa atau tragedi telah terjadi, segala sesuatu soal peran orang tua tadi jelas sudah terlambat. Ketika anak sudah berpikir bahwa ia tidak seharusnya lahir, menurut suami saya, itu adalah bentuk keterlambatan pengetahuan orang tuanya.

Anak-anak selalu ingin tahu sangat banyak. Anak-anak juga pasti ingin disayang dalam-dalam. Setiap anak ingin dilihat lekat-lekat oleh orang yang mengasuh atau membawa mereka ke dunia. Begitulah kodrat anak di dunia ini. Dan jika bukan orang tua yang memberikan, mereka akan mengais dari yang bisa dikais, bahkan dari sampah dan sisa peradaban. Bahkan dari orang yang sesat dan tidak semestinya berada di dekat anak.

Demikianlah teori paling sederhana untuk memahami bagaimana grooming terjadi, lgbt menular dengan cepat, atau bagaimana penjahat di dunia maya mengeksploitasi anak. Mereka mengincar anak-anak yang punya ruang imajinasi sebagai bentuk pelarian dari dunia nyata si anak yang terlalu dingin. Mereka hadir dan memberikan pelukan semu untuk anak yang mereka incar.

Memang, akar dari ortu yang tidak bisa provide bisa saja kemiskinan struktural, bisa pula rantai trauma, bisa pula jutaan alasan lain yang semuanya berkaitan. Namun, saya jelas nggak mampu menautkan semua itu di tulisan yang lahir karena obrolan di rumah kami ini.

Sebuah Harapan

Jika kamu belum jadi orang tua, semoga kamu bertemu dengan pasangan yang sangat baik dan setara. Setidaknya, dengan punya pasangan yang setara secara pemikiran, kamu akan lebih mudah membahas segala sesuatu berdua.

Semoga kamu jika pun dulu tak punya kepenuhan dalam jiwamu, kini bisa mendapat apa yg menjadi kebutuhanmu lewat pasangan bahkan lewat wisdommu sendiri.

Supaya, tak ada lagi anak-anak yang terluka batinnya hanya karena orang dewasa yang gagal tumbuh baik. Orang tua mungkin sulit memahami, bahkan di rumah dengan ibu dan ayah yang lengkap, rasa kosong dan sepi yang bisa disesapi anak bisa membunuh anak itu tanpa ia harus benar-benar mengakhiri hidupnya. Dan betapa sedihnya hati saya karena dalam usia yang begitu tua ini, saya masih melihat beberapa anak yang seperti saya di masa kecil. Semoga kalian kelak tetap baik-baik saja, bisa tumbuh baik dan beruntung sepertiku.

Bagikan
Exit mobile version