Empat Cara Istri Napiter Menghadapi Stigma Masyarakat
Tulisan saya sebelumnya di Rahma.id yang berjudul “Hikmah dari Dua Kisah Istri Terpidana Terorisme”, mengulas tentang dua istri narapidana terorisme (napiter). Kisah ini menceritakan ihwal kedua istri tidak mengetahui keterlibatan suami dalam jaringan yang terafiliasi ISIS sampai polisi menangkap suami mereka. Menariknya lagi adalah cara kedua istri ini bersikap dalam keterlibatan suami mereka, hingga suaminya merasa menyesal dan berniat untuk tidak bergabung dengan kelompok sebelumnya.
Pada tulisan saya kali ini, saya mengulik bagaimana para istri ini dalam menghadapi situasi dan kenyataan bahwa suami mereka saat ini berada di dalam jeruji besi. Tentunya hal ini bagi mereka tidak mudah. Bahkan, kita tahu bahwa para perempuan ini tidaklah bersalah dan tidak mengetahui keterlibatan suaminya. Tetapi, mereka mendapatkan stigma dan pengucilan dari masyarakat. Belum lagi para istri biasanya harus menghadapi beban ganda sebagai kepala rumah tangga sekaligus ibu dalam waktu yang bersamaan.
Di sisi lain juga para istri ini merupakan manusia biasa yang mana mereka memiliki rasa sedih, kecewa, atau marah kepada suami atas kondisi yang saat ini yang sedang mereka hadapi. Lalu, bagaimana mereka, perempuan tangguh ini, menghadapi masalahnya? Begitulah kiranya yang ingin saya bahas pada artikel kali ini.
Empat Koping Para Istri Narapidana Terorisme
Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa istri narapidana terorisme (napiter) yang pernah saya lakukan dalam Program Resiliensi Keluarga yang dilakukan oleh Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) tahun 2019. Saya menemukan beberapa cara para istri dalam menangani masalah yang sedang mereka hadapi (coping) . Yaitu, dengan cara menangis, memperbanyak ibadah, bercerita, dan menganggap bahwa kehadiran anak adalah anugerah. Sehingga, para perempuan ini tangguh dalam menghadapi masalahnya terutama stigma dari masyarakat.
Untuk memperjelas keempat koping yang dilakukan oleh para istri napiter, berikut penjabarannya. Pertama, menangis. Hal pertama kali yang mereka lakukan adalah mengeluarkan emosi yang mereka rasakan lewat air mata. Ketika suami mereka tertangkap, mereka merasa kaget dan sedih. Maka, air mata adalah bentuk emosi yang pertama kali mereka keluarkan untuk merasa lebih baik walaupun masih dalam kondisi sulit.
Kedua, perbanyak ibadah. Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (Allah) biasanya para istri lakukan ketika mereka merasa masalah ini sangat membebani kehidupan sehari-harinya. Bukan berarti sebelumnya para istri jarang beribadah. Tetapi, dengan masalah yang luar biasa ini datang membuat mereka menyadari bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah. Sehingga, mereka mendekat untuk meminta pertolongan dan kekuatan untuk menghadapi masalah mereka sehingga mereka lebih tenang dan bijak dalam bersikap.
Ketiga, bercerita. Dukungan sosial yang diterima para istri baik dari keluarga maupun teman dekat dapat membantunya merasa lebih baik dan optimis. Perhatian dan dukungan serta bercerita dengan orang-orang terdekat mampu membuat para istri ini merasa tidak sendirian. Selain mereka percaya bahwa Allah selalu ada untuk mereka, dukungan sosial yang mereka terima mampu membuatnya bangkit dan berusaha kuat dalam menjalani kehidupan demi diri mereka sendiri dan anak-anak.
Keempat, anak-anak, kehadiran anak dalam rumah tangga membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain harus bangkit dan bisa menjadi tulang punggung keluarga demi masa depan anak-anak mereka. Adanya anak-anak membuat para istri mau tidak mau menanggung beban ganda sebagai ibu dan kepala rumah tangga yang mencari nafkah. Meski lelah dan sedang down, para istri harus bangkit dan berusaha menutupi kerapuhan mereka untuk dapat menggantikan posisi sebagai “ayah” bagi anak-anak mereka sampai sang suami bebas dari bui.
Derita Istri Korban
Dari kisah para istri yang saya wawancarai ini, kita bisa tahu bahwa mereka memiliki empat cara untuk menghadapi masalah, yakni menangis, beribadah, bercerita, dan kehadiran anak-anak. Dari keempat cara ini, kehadiran anak-anak adalah hal paling krusial dan membuatnya jauh lebih tangguh dalam menghadapi masalah. Kondisi mereka yang memiliki peran ganda, mau tidak mau harus memikulnya demi merawat anak-anaknya agar tetap tumbuh seimbang, meski tanpa kehadiran sosok ayah untuk sementara waktu.
Kisah para istri napiter ini juga mengajarkan kita bahwa dampak ekstremisme kekerasan ternyata bukan hanya pada korban langsung. Melainkan berimbas pada istri dan bahkan anak-anak para ekstremis itu sendiri. Dari kisah yang saya bagikan ini semoga menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjaga keluarga kita dengan penuh tanggung jawab. Karena merawat keluarga merupakan jihad besar yang Allah jamin kita akan mendapatkan pahala darinya.
Catatan Kaki:
Sebagian dari tulisan ini juga disajikan ke dalam dua artikel lain: 1) Erikha, F., Rufaedah, A., Kurniati, E., Adiningsih, H. B., Cahyawan, W., & Putra, I. E. (in preparation). From Arrested Until Ready for Release: The In-Depth Experience of Women Behind Indonesian Violent Extremism Prisoners Cases Using Narrative Psychology 2) Kurniati, E., Adiningsih, H.B., Siregar, N. W., dan Al-Farizi, S. (dalam persiapan). Distres Psikologis dan Dukungan Sosial pada Istri Narapidana Terorisme.
Peneliti Muda dan Program Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) dan Lab. Bantenologi UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten.

Wurry Srie
Keren Mbk, membuat mataku terbuka lebih lebar dan menjadi lebih bisa memahami. Tak terbayang andai saya yg ada di posisi mereka.