Tausyiah ataupun sabda soal harum dan ranumnya cinta merupakan relasi yang begitu menggairahkan di kalangan lintas generasi. Cinta dalam pendefenisiannya yang universal bisa menarik seseorang (laki-laki maupun perempuan) untuk ingin mengenalinya secara totalitas. Memang benar apabila kita membahas tentang cinta, mungkin tidak berujung pada pondasi–pandangan–yang pas kenapa bisa dinamakan cinta. Kendati demikian, rasanya setiap orang, mencintai itu seakan diam-diam menyelinap dan tetap hidup, tidak dapat tertebak; akan tetapi acapkali menjebak. Pembahasan ini akan lebih kepada keberadaan perempuan yang mungkin tanpa sadar menghadapi dilema sebelum atau sesudah mencintai, hingga berakhir pada proses sakral yakni pernikahan.
Dialektika Hubungan
Masa pacaran terkadang menyisipkan duka karena di sanalah ajang menentukan pasangan bagi para pecinta; tak jarang terjadi kontak seksual tanpa adanya persetujuan (consent); sebaliknya bila pasangan itu melakukannya atas dasar suka sama suka dan kemudian laki-laki let she go hanya untuk mempermainkan perempuan yang ia cintai, hal ini merupakan kebiadaban laki-laki.
Terasa sulit bagi perempuan menerima kenyataan pahit yang ia alami ketika terjebak pada konsep laki-laki yang mengkhianatinya dengan iming-iming janji manis; ketampanan; dan kemapanan yang seakan-akan dapat menjamin kehidupannya. Dari janji manis di atas, perempuan akan “terfokus” dan beruaha untuk melakukan segalanya demi pria yang sangat ia cintai hingga akhirnya hanya mendapat penderitaan. Dari kesalahan tersebut, seorang psikoanalis Erich From mengemukakan konsepsi gagasan dasarnya, yakni care (perhatian/kepedulian); responsibillity (tanggung jawab); respect (hormat) dan knowledge (pengetahuan). Setidaknya, dengan memenuhi dan mempelajari konsep tersebut, kita dapat menjajaki asmara dengan orang yang benar-benar kita cintai; sehingga saling mengimplementasikan secara dua arah untuk tiba pada cinta yang setara.
Romantisme Semu Sembilu
Menanggapi persoalan di atas, pada tahun 80-an oleh para feminis yang memandang cinta yang produktif seperti Luce Irigay; Julia Kristeva; Bell Hooks; Audre Lodre dan masih banyak lagi, menganggap cinta sebagai ideologi yang melegitimasi penindasan perempuan dan membuat mereka terjebak dalam hubungan heteroseksual yang eksploitatif. Selain itu, cinta juga dipandang membuat perempuan itu sangat rentan, bukan hanya terhadap eksploitasi tetapi juga akan tersakiti oleh laki-laki.
Kaum puritan dalam naungan filsuf Rousseau mengatakan bahwa cinta sejati harus diperoleh tanpa hasrat seksual; ditambah lagi oleh kaum pesimis menyatakan “cinta romantis” akan selalu gagal karena hasrat seksual adalah hal yang paling utama dalam cinta. Hasrat yang dipengaruhi hormon dapat muncul meskipun bukan kepada orang yang ia cintai. Para pejuang feminis, baik perempuan maupun laki-laki berpaham feminisme melihat perempuan yang memberhalakan cinta romantis (romantic love) secara lebih mendalam dan kritis; mengingat romantisme merupakan pusat heteroseksual dan ketidak setaraan itu berasal. Jadi, sebetulnya romantisme tidak perlu menjadi prioritas untuk melihatnya sebagai cinta dan soal cara menyampaikan rasa sayang.
*
Dalam Islam, perempuan memiliki maqom yang mulia. Selain itu, perempuan juga dinobatkan sebagai kaum “perasa” dan “agung”. Perempuan sangat mudah sensitif, termasuk ketika menghadapi permasalahan; kemudian laki-laki fuckboy alias “buaya” memilih menyudahi hubungannya tanpa ethic of care, di sini perempuan merasa sesak.
Pun tulisan ini merupakan suara yang ingin membela perempuan agar tidak mudah terjebak ke dalam lubang narasi romantisme semata. Meskipun penulis sendiri berstatus lajang bin jomlo bertahun-tahun lamanya. Kembali ke bahasan, bukan hanya keromantisan saja yang membuat perempuan terjebak; melainkan sebagian perempuan kerap berhadapan dengan materi dan mengabaikan bahwa pentingnya menemukan pendamping hidup yang memiliki paham kesalingan dalam menuntun sebuah hubungan; ini memang sangat luas jika dijabarkan, namun intinya dengan cara itu kita bisa membawa pasangan pada hubungan yang sehat dan tidak mengecewakan. Karena aktivitas berpikir logis dan obyektif seringkali diabaikan dalam menjalani hubungan.
Institusi Pernikahan
Pemaknaan cinta hanya dapat diraih atau diperoleh secara intuitif, pada tataran perasaan dan tidak dapat dikomunikasikan dengan tepat (Jakson 1999). Apa yang dikemukakan Jakson menginisiasi bahwa cinta dipandang sebagai suatu kebutuhan dan hasrat personal dan lebih cenderung menaruh kata cinta itu ke ruang privat. Dalam gagasan tersebut, cinta tidak dapat terpisahkan dari konstruksi sosial dan budaya yang sebenarnya ikut memengaruhi; dan sebagai penuntun dalam menentukan makna dan defenisi dari cinta. Tapi kita sangat abai mengkaji hal tersebut dan diterima begitu saja dengan pasrah. Penafisran cinta memiliki dua tempat dominan (Grossi 2014), di mana cinta itu dipandang mempunyai keterikatan atau hubungan yang sangat kuat dengan patriarki dan heteroseksualitas.
Pernikahan yang membawa narasi cinta khususnya bagi perempuan, memang kebanyakan memiliki preposisi yang mengarah pada keluarga; rumah tangga; relasi monogami; sisi keibuan; dan kesetiaan. Dari hal tersebut dapat kita menebak bahwa bagi perempuan cinta dan pernikahannya sebagai seorang istri yang sibuk mengurus rumah dan menjadi ibu. Kemuliaan seorang perempuan dalam Islam adalah menjadi seorang istri yang melayani suami dan mengurus anaknya juga tidak sepenuhnya salah; tapi kita ingin menyetarakan keadaan. Perempuan tidak terikat dengan adanya pembatas sosial. Yang harus perempuan ucapkan adalah tentang kebebasan, persamaan dan agensi tanpa penindasan. Legitimasi kuat dari pernikahan membuat perempuan merasa terkurung di tengah kesanggupannya dalam metode serta bidang kehidupan lainnya. Kerangka tersebut menjadi penyokong bagi ketidaksetaraan gender dan kekerasan terhadap perempuan.
Cinta Tak Harus Politis
Mencintai itu sebuah virtue ethic yang mestinya harus diperlakukan secara filantropis “Politik Etis”, bukan dalam kerangka “Politis” yang menganggap perempuan itu sama; seolah-olah laki-laki itu mempraktikkan jurus kasih sayang dan segalanya ia berikan atau korbankan hanya untuk sekedar meyakinkan perempuan. Setelah mendapat “kehendak” ia dapat menentukan kerangka kehidupan perempuan dan ditentukan kembali oleh tindak-tanduknya laki-laki. Di saat itu juga perempuan sebenarnya mendapatkan penindasan secara kultural dan ideologis terutama di ruang yang bersifat romantis sesaat. Perempuan tersubordinasi jika dilihat dari identitas maskulinitas sehingga tidak dianggap.
Kiranya sangat perlu diingat hal ini merupakan sebuah peringatan pada intensitas cinta yang paradoks. Kita akan merasa berbahagia dan merasa sakit sekaligus. Ketika kita mencintai seseorang, itu tidak mudah dan akan menyakitkan. Risiko itu adalah keniscayaan yang akan timbul karena dalam mencintai kita siap saling mempelajari dan mempraktikkan cinta yang otentik sepanjang waktu.
