f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
DBD

Belajar dari Pengalaman, Pencegahan DBD perlu Inovasi yang Ciamik

Drrrt, drttt, drrtt, gawai pintarku bergetar. Saya melihat ada notifikasi di salah satu Whatsapp Group untuk membuat dan memasangnya di media sosial pribadi, foto dengan Twibbon “ASEAN Dengue Day 2022” yang biasa diperingati setiap tahunnya pada tanggal 15 Juni. Ajakan untuk membuat foto dengan tema tersebut cukup membuatku ragu.

Entahlah, kadangkala di hati ini ajakan untuk menyemarakkan suatu hari-hari besar tampak sekedar simbolisasi semata. Spanduk, umbul-umbul, baliho, twibbonize, tagar hanya wujud dari formalitas kegiatan peringatan hari-hari besar perlu ditinjau lebih dalam dari sisi esensi dan solusi.

Mengingat PR penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) seperti berulang tiap tahunnya dan seolah-olah tidak pernah terselesaikan dengan happy ending. Apalagi keluarga kami pun mengalami pengalaman pahit dengan si “Nakal” ini, nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.

Berkenalan dengan DBD yang mengakibatkan anak bungsu kami yang berusia 2 tahun pada bulan Februari lalu harus dirawat selama 5 hari, setelah 3 hari di rumah mengalami demam yang naik-turun. Orang tua mana yang tidak cemas melihat anaknya yang lemah-lunglai di tempat tidur karena suhu tubuhnya panas tinggi hingga 39,5 derajat celcius, tidak mau makan-minum; padahal biasanya cerita dan penuh semangat.

Menjadi warning buat kami ketika hari keempat si bungsu masih mengalami demam dan segera membawa ke RS untuk pemeriksaan. Makdredeg, hasil laboratorium balitaku positif DBD sehingga dokter spesialis anak menyarankan agar dirawat di RS untuk penanganan CITO.

Ingin rasanya hanya merawat si kecil di rumah saja karena memikirkan keriweuhan dan ketidaksanggupan melihat anak berusia 2 tahun yang harus bolak-balik merasakan jarum untuk infus dan cek darah setiap hari. Namun, dr. Ari Prayogo, Sp.A. yang menangani si bungsu di RSUD Tebet mengatakan bahwa penanganan DBD itu ada 2 hal yang harus diperhatikan. 

Baca Juga  Kita Butuh Opini Dokter Lain

Yang pertama, perhatikan asupan cairan tubuh dengan minimal meminum air 1,5-2 liter/hari. Kedua, manajemen waktu yang tepat untuk tata laksana penanganan DBD yang mengalami fase kritis pada hari ke-4 s.d. ke-6 semenjak demam timbul. Jadi, memang tidak memungkinkan merawat penderita DBD dengan segala keterbatasan di rumah.

Bulan Februari lalu memang sepertinya menjadi fase puncak kasus DBD di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat jumlah kasus DBD kumulatif sebanyak 13.776 kasus DBD hingga 20 Februari 2022. Sementara, jumlah kematian akibat DBD sebanyak 145 kasus.

Inovasi Pencegahan DBD yang perlu Didukung dan Dikembangkan Lebih Luas Lagi

Dari hasil penyelidikan epidemiologi, di rumah kami ternyata di piring alas pot tanaman ditemukan vektor penyebab DBD. Miris rasanya mengetahui ternyata di rumah ada biang kerok penyebab si bungsu terkapar akibat DBD. Padahal kami merasa selalu membuang air di pot tanaman jika tertampung, membersihkan bak mandi 1 minggu sekali, dll. Qadarullah, si kecil diuji Allah Swt. dengan DBD dan hal itu membuat kami introspeksi diri dan lebih memperhatikan kebersihan lingkungan rumah.

Pengalaman dengan si “Nakal” ini ternyata tidak hanya dialami keluarga kami saja. Di bulan yang sama di lingkungan tempat tinggal, ada 3 anak tetangga yang juga menderita DBD hingga dirawat di RS. Menyedihkan jika melihat anak-anak yang enerjik dan riang, terkapar di RS karena DBD.

Persoalan menahunnya penyakit DBD kerapkali dijargonkan dengan cara pencegahan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan 3M Plus (Menguras; Menutup penampungan Air; Mengolah limbah barang bekas; dan Plus memakai losion antinyamuk, dll). Adapula, penawaran dari salah satu perusahaan farmasi, PT Sanofi Pasteur untuk pencegahan dan perlindungan DBD dengan vaksin DBD yang telah diproduksinya.

Baca Juga  Bingung Cara Memilih Pembalut? Begini Caranya

Namun, Kemenkes sendiri pada konferensi pers update DBD pada akhir bulan Januari 2022 mengakui pemerintah Indonesia belum menjadikan vaksin DBD ke dalam program nasional. Kemenkes menyatakan saat ini vaksin DBD masih harus melalui fase kajian-kajian seperti efektivitas hingga keamanannya.

Organisasi kesehatan dunia, WHO juga menyatakan vaksin bukanlah alat yang efektif untuk mengurangi demam berdarah di daerah-daerah di mana penyakit ini sering mewabah. Pencegahan gigitan nyamuk dan pengendalian populasi nyamuk masih menjadi metode utama untuk mencegah penyebaran demam berdarah.

Para pemegang kebijakan di negeri tercinta ini bolehlah mempertimbangkan dan mengembangkan secara luas inovasi yang dikomandoi oleh Prof. Adi Utarini atau biasa dipanggil Prof. Uut. Peneliti Utama UGM ini bersama dengan tim Riset World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta telah meneliti dan memanfaatkan bakteri Wolbachia untuk menghambat penularan kasus DBD. 

Mengutip dari media online CNN Indonesia, Prof. Uut masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah TIME. Prof. Uut ini mengatakan penelitian nyamuk demam berdarah ini dilakukan selama 10 tahun. Penelitian dimulai pada 2011 dengan menyebarkan telur nyamuk Aedes Aegypti wolbachia pada 2016-2020 di sejumlah wilayah Yogyakarta.

“Wolbachia dalam tubuh nyamuk, itu dia bekerja dengan menghambat perkembangan virus demam berdarah. Jadi virus tidak berkembang. Kalau nyamuk gigit manusia maka penularannya sangat terhambat,” ungkap Prof Uut dalam wawancara bersama CNNIndonesia TV, dikutip Sabtu (18/9/2021).

Para peneliti WMP mencoba melepaskan dan meletakkan telur dari nyamuk di ember. Kemudian, ember dititipkan ke masyarakat. Setiap dua minggu diganti telur, air, sehingga dengan berjalan waktu lebih kurang enam bulan, seluruh nyamuk mengandung bakteri alami wolbachia.

Baca Juga  Skincare: Investasi Cantik dan Sehat di Masa Depan

Dari hasil penelitiannya terbukti angka kasus penularan demam berdarah dapat ditekan hingga 77 persen. “Ada intervensi nyamuk wolbachia dan tanpa intervensi wolbachia. Dengan cara itu kami bandingkan berapa banyak yang terjadi kasus di wilayah yang intervensi wolbachia dan tanpa wolbachia,” jelas Prof Uut.

Semoga angin segar untuk pencegahan penularan DBD dari Prof. Uut dan tim WMP Yogyakarta bisa direalisasikan dalam skala besar. Atau, bisa juga ada inovasi-inovasi lainnya karena mencegah lebih baik daripada mengobati dan agar Indonesia bisa terbebas dari hantu “Endemis DBD”.

Bagikan
Post a Comment