Site icon Inspirasi Muslimah

“Banyak Anak Banyak Rezeki” itu Perintah Hadis, Benarkah?

hadis banyak anak

Islam merupakan agama yang komprehensif dan relevan dengan zaman. Islam juga memiliki sumber rujukan, yakni Al-Qur’an dan hadis. Kendati demikian, ada juga ketentuan yang tidak relevan. Namun karena manusia memiliki kemampuan akademik, maka ketentuan yang mereka bilang “kuno” dapat menjadi tidak kuno. Saat kondisi seperti inilah peran seorang ulama sangat penting.

Salah satu sumber keislaman yang mencakup semua permasalahan yaitu Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw. Walaupun posisi Al-Qur’an telah menjadi sumber utama, akan tetapi Al-Qur’an bersifat universal. Oleh karena itu butuh kemampuan akademik untuk mengungkapkannya. Selain itu juga Keotentikan hadis tidak sama dengan Al-Qur’an dan perlu penelitian terkait suatu hadis.

Pentingnya Penelitian Hadis Menurut Syuhdi Ismail

Pertama, hadis Nabi merupakan sumber ajaran Islam.

Kedua, tidak semua hadis ditulis pada zaman Nabi.

Ketiga, telah terjadi pemalsuan dan manipulasi hadis.

Keempat, proses penghimpunan hadis yang memakan waktu cukup lama.

Kelima, jumlah kitab hadis yang banyak serta cara yang digunakan dalam periwayatan pun bervariasi.

Keenam, telah terjadi periwayatan hadis secara makna. Oleh karena itu, perlu kita kritisi bersama terhadap suatu hadis yang belum terbukti kualitasnya.

Banyak Anak, Banyak Rezeki

Anak merupakan anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang harus kedua orang tuanya jaga sampai ia dewasa. Begitu pula dengan pendidikannya harus ditanggung dan dibebankan kepada orang tuanya. Semakin baik pendidikannya maka sang buah hati akan tumbuh menjadi anak yang pandai. Dengan kepandaian yang anak miliki, maka akan menghasilkan penghasilan yang cukup atau lebih.

Terdapat hadis yang mengatakan dari riwayat Ahmad, yaitu :

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاشِرٌ بِكُمُ اْلأَنْبِيَاءَ يَومَ الْقِيَامَة

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat”. Sahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik.

Secara mantuq kita dapat memahami hadits tersebut sebagai hadis yang menyatakan bahwa memiliki banyak anak akan memberikan rezeki berlimpah. Karena terdapat keberkahan tersendiri dari Allah. Sederhananya ketika memiliki anak yang banyak, rezeki akan berlimpah kepada kita.

Kendati demikian, ekspektasi kerap kali berbanding terbalik dengan realitas. Realitas yang terjadi di tengah masyarakat, kita sering melihat keluarga yang memiliki anggota keluarga yang cukup banyak. Tetapi fakta yang terjadi banyak dari mereka yang secara ekonomi masih rendah. Apabila kita lihat antara hadis dan realitas yang terjadi di masyarakat terdapat kontradiktif.

Program KB Adalah Solusi

Indonesia juga memiliki sejarah terkait hal ini tetapi di Indonesia terkenal dengan istilah KB (Keluarga Berencana). Pada tahun 1953 gerakan KB yang dirilis oleh tokoh-tokoh masyarakat sudah berkembang. Namun pada tahun 1957 berdiri organisasi swasta yang bernama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mulai mempelopori program KB.

Prof Sarwono Prowiroharjo dan Prof. Judono merupakan tokoh pendiri PKBI yangt erpusat di Jakarta. Hal ini mereka lakukan karena melihat bahwa kemajuan-kemajuan pada bidang teknologi dan usaha kesehatan rakyat. Maka Indonesia yang merupakan negara berkembang (developing Countries) mengalami angka kematian menurun pesat sedangkan angka kematian makin tinggi.

Sebelum di Indonesia KB berkembang, pada abad 19 sudah ada tokoh yang mempeloporinya yaitu Thomas Robert Malthus, Charles, Knowlton, Dr. A. Jacobs, dan Dr. Drysdale.

Bahkan isu kontemporer yang saat ini sedang terjadi adalah fenomena childfree. Wacana ini sebenarnya sudah muncul pada awal abad 19 di Amerika. Namun, viral kembali oleh salah seorang youtuber sekaligus influencer bernama Gita Savitri. Gita melalui video Youtubenya secara terang dan jelas mengadaptasi prinsip childfree.

Reallitasnya hadis tentang banyak anak ini cukup ironi, satu sisi ada yang hidupnya sejahtera. Sisi lain, ada juga yang hidupnya cukup memprihatinkan. Oleh sebab itu, ajaran yang terkandung dalam hadis tersebut, menurut penulis harus seimbang dengan situasi dan kondisi keluarga tersebut.

Dari paparan di atas, penulis memberikan kesimpulan bahwa prinsip tidak memaksakan (banyak anak) sama dengan kaidah yang ada dalam regulasi Haji yakni berangkat bagi yang mampu. Begitu pula ajaran tentang banyak anak, banyak rezeki harus sesuai dengan kemampuan ekonomi, sosial, dan lainnya.

Editor : Fadhil Azhar Permana

Bagikan
Exit mobile version