Tidak Semudah Itu Melepas Belenggu Abusive Relationship
Salah satu penyebab perceraian tertingggi di Indonesia adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan KDRT juga menduduki peringkat pertama dalam kasusu kekerasan pada perempuan. Pada dasarnya KDRT dilakukan dengan berbagai macam penyebab seperti adanya kultur patriarki, pola di keluarga, anger management issue, tingkah laku kriminal, maupun perselingkuhan.
Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dengan tujuan menekan dan mengancam korban, tentu saja akan mengakibatkan luka fisik, psikologis, bahkan hingga kematian. Lalu ada alasan apakah yang sering kali menyebabkan korban untuk tetap mempertahankan rumah tangganya?
Banyak alasan yang sering kali membuat para korban memilih untuk tidak berpisah seperti karena urusan anak, finansial, adanya nilai budaya yang melarang adanya perceraian, dll. Mungkin bagi sebagian orang pasti langsung berpendapat begitu bodoh nya ketika seorang wanita masih mau mempertahankan hubungan yang seperti itu. Namun pada kenyataannya memang keputusan itu bukanlah hal yang semudah membalikan telapak tangan.
Jika kita melihat pada kasus yang saat ini sedang menjadi perbincangan masyarakat Indonesia. Di mana Lesti Kejora yang melapor kekepolisian karena mengaku ia telah menjadi korban KDRT oleh Rizky Billar. Hal ini tentu sangat manarik simpati warganet. Namun pada akhirnya membuat masyarakat sontak terkejut dengan keputusan Lesti Kejora yang mencabut tuntutan laporan KDRT terhadap Rizky Billar. Banyak masyarakat yang tidak sependapat dan tidak sedikit dari kita yang mungkin bertanya-tanya, “Kenapa sih mau balikan? Tinggalin ajalah”
Dalam jurnal penelitian National Institute of Justice Amerika Serikat menjelaskan bahwa sebenarnya hubungan abusive ini akan mencapai tingkat paling parah ketika pelaku tahu kalau korban akan pergi meninggalkan pelaku. Dalam jurnal terebut menunjukan data akurat yang menunjukan bahkan beberapa kasus kekerasan yang terjadi akan berakhir menjadi kasus pembunuhan. Hal ini terjadi ketika pelaku mendapatkan ancaman berpisah dari si korban.
Menurut teori Lenore E. Walker hubungan abusive ini bisa ditandai dengan adanya pola repetitif dan bisa ditebak. Awalnya akan timbul masalah keluarga dan munculah tahap pertama yakni terjadinya Tension Building di mana korban selalu mengalah dan berusaha untuk menuruti pasangannya untuk memperbaiki keadaan. Jika korban telah gagal dalam menahan pelaku maka munculah tahap kedua yaitu Acting Out Period di sini pelaku mulai menyiksa dan melampiaskan emosinya kepada korban.
Setelah puas melakukan segala pelampiasan tersebut munculah tahap ketiga yakni Honeymoon Period di mana pelaku mulai merasa bersalah dan menujukan sikap menyesal serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Banyak cara yang mungkin akan pelaku lakukan seperti memberikan hadiah, merayu dengan kata-kata manis, dll. Dan pada tahap terakhir ada Calm Period. Pada tahapan ini biasanya korban dan pelaku akan berbaikan dan korban percaya bahwa pelaku tidak akan mengulanginya lagi.
Namun jika ada masalah yang muncul lagi maka otomatis akan mengulang dari tahap pertama lagi. KDRT merupakan lingkaran setan yang terus mengulang jika tidak kita selesaikan. Namun tentu saja kita juga tidak bisa asal judge saat melihat ada korban yang ujung-ujungnya balik kepada pelaku. Kita perlu lebih dalam mengetahui latar belakang dan alasan ia untuk dapat bertahan.
Bagi korban yang mengalami abusive relationship tentu saja akan mengalami kondisi psikologis trauma bonding. Trauma tersebut dapat tercipta ketika adanya perilaku kekerasan yang dilakukan namun setelah itu juga ada penguatan positif kepada korban secara berulang. Sehingga korban merasa pelaku tidak jahat dan hal tersebut merupakan hal yang biasa. Hal ini juga yang memicu orang sering kali tidak sadar bahwa ia sedang berada pada belengu abusive relationship. Lalu pertanyaannya bagaimana upaya kita keluar dari trauma bonding?
Cara keluar dari Trauma Bonding tentu saja bukanlah hal yang mudah dan bahkan cenderung sulit. Terlebih bagi pelaku yang sangat dekat secara emosional maka akan membuat korban enggan dan susah untuk berpaling dari pelaku. Namun kita harus menyadari bahwa di dunia ini ada hal yang dapat kita kontrol dan juga ada hal yang tidak dapat kita kontrol. Perilaku seseorang adalah hal di luar kontrol kita. Dan seseorang hanya dapat berubah ketika adanya motivasi internal di dalam dirinya.
Selain mencari bantuan keselamatan, support sytem tentu saja akan menjadi faktor terpenting untuk saat ini. Ini akan membantu anda agar tidak merasa terpuruk dan malu karena telah dilecehkan. Jika kalian tidak mampu mendapatkan support system yang baik di sekitar jangan ragu untuk segera mencari bantuan profesional dengan pergi ke psikolog. Perlu diketahui ini bukanlah sebuah aib. Dengan pergi ke bantuan profesional justru akan membantu kamu lebih lega dan mampu melihat situasi dari sudut pandang lain. Ingatlah bahwa diri kamu berharga dan kamu berhak untuk merasakan kebahagiaan.

