f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gerakan sosial

Gerakan Sosial dan Semangat Islam Berkemajuan Muhammadiyah

Menurut Greene, gerakan sosial adalah bentuk perilaku kolektif yang bertahan lama, terstruktur, dan rasional. Greene menyebut beberapa ciri gerakan sosial, yakni; (1) adanya sejumlah orang; (2) tujuan umum untuk mendukung atau mencegah suatu perubahan; (3) adanya struktur dengan kepemimpinan yang diakui umum, dan adanya aktivitas yang dipertahankan dalam waktu yang cukup lama. Gerakan sosial relatif lebih permanen dan terorganisir dibandingkan dari tipe perilaku kolektif yang lainnya (Muhammad Amin, 2020 : 38).

Sebagai organisasi besar, Muhammadiyah telah banyak diteliti. Ada penelitian yang diarahkan untuk melihat tiga konteks epistemologi keilmuan dari Muhammadiyah. Mulai dari kurun waktu 1912-1950 (ditandai perdebatan fiqhiyah, tradisi dan mitologi); kurun 1950-2000 (Muhammadiyah dalam ranah modern islamic studies); dan kurun 2000-an hingga sekarang (Jinnan, 2015).

Penelitian dari Tahir (2010), Elhady (2017) dan Syamsyuddin (2017) menunjukkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam fokus pada pendidikan dan pelayanan sosial. Zuhri (2017) membuktikan bahwa Muhammadiyah merupakan civil society utama Indonesia yang mandiri dan menjadi kekuatan penyeimbang negara dengan melakukan fungsi sebagai counterbalancing the state (Muhammad Amin, 2020:40).

Sekiranya banyak jasa yang telah Muhammadiyah berikan untuk bangsa ini. Mulai dari berdirinya pada tanggal 18 November 1912, hingga umurnya yang sudah 108 tahun ini. Sehingga tidak bisa lagi dipungkiri bahwa sampai saat ini, Muhammadiyah hadir sebagai solusi terhadap permasalahan bangsa dengan gerakan-gerakan sosialnya di segala lini.

Pada aspek pendidikan, Muhammadiyah sebagaimana dilansir pada kumparan.com mempunyai 5.777 sekolah di seluruh Indonesia. Mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi yang berada hampir diseluruh penjuru Indonesia. Pada bidang kesehatan muhammadiyah juga memiliki rumah sakit yang cukup banyak. Bagitu juga pada bidang sosial lainnya.

Baca Juga  Bibit Pertumbuhan Hukum Islam
Konsistensi Gerakan Muhammadiyah

Belum lama kemarin, Muhammadiyah mengangkat tema “Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri”  pada miladnya yang ke-108. Tema ini menggambarkan kepada kita bahwa Muhammadiyah konsisten bersungguh-sungguh dengan gerakan-gerakan sosialnya yang diabdikan untuk bangsa.

Sebagaimana pada saat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini, Muhammadiyah tetap konsisten dalam tindakan dan seruan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Padahal, jika penulis lihat di sekitaran, banyak masyarakat yang sudah tidak peduli lagi dengan Covid-19. Oleh karenanya, kita dapat mengatakan bahwa Muhammadiyah secara tegas mengetahui apa yang menjadi prioritas bangsa ini.

Banyak manfaat yang telah diberikan Muhammadiyah untuk bangsa ini, tidak menutup diri untuk memberikan masukan pemikiran yang dimiliki untuk perserikatan Muhammadiyah.  Senada dengan perkataan Prof. Headar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah menyatakan bahwa “Muhammadiyah senang dikritik. Kritik itu energi positif untuk makin aktif berdakwah amar makruf nahi munkar yang berkarakter moderat berkemajuan …”.

Gerakan-gerakan sosial Muhammadiyah yang sekarang sangatlah masif di setiap sendi kehidupan. Lantas di manakah letak kekurangannya? Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Muhammadiyah memiliki sarana dan prasarana, misalnya lembaga pendidikan sebagai wadah untuk terus dikembangkan. Namun, pengembangan tersebut perlu arah yang jelas untuk mencapai sebuah hasil yang optimal.

Output Muhammadiyah

Arah jelas yang penulis maksud adalah hasil ataupun karya yang dapat dinikmati oleh publik. Sehingga Muhammadiyah tidak lagi menjadi konsumen yang terus menerus, Muhammadiyah akan menjadi produsen dalam banyak hal. Hal inilah yang disebut juga dengan karya. Di mana hasil karya tersebut akan menjadi sangat bermanfaat bagi publik luas.

Pada bidang pendidikan, Muhammadiyah setiap tahunnya melahirkan sarjana dan insinyur-insinyur baru di perguruan tinggi yang dimilikinya. Pada ranah keilmuan, Muhammadiyah telah memiliki cendekiawan-cendekiawan dari golongan tua maupun golongan muda. Sehingga tidak heran, jika kita sering menemukan diskusi-diskusi ilmiah yang diadakan dan diisi oleh cendekiwiawan-cendekiawan Muhammadiyah dengan online ataupun offline.

Pun, tulisan dan buku-buku hasil dari buah tangan kader Muhammdiyah, tak ada henti-hentinya diterbitkan. Namun, hal demikian hanya akan bermanfaat bagi masyarakat yang sempat membaca. Lantas bagaimana dengan petani, buruh, nelayan dan semacamnya yang bisa dikatakan tidak sempat untuk membaca karena sibuk dengan kerjaannya?

Baca Juga  Menjaga Kedermawanan, Membangun Kesejahteraan, Mewujudkan Kemerdekaan

Oleh karenanya, saatnya Muhammadiyah tampil bukan hanya dengan pendampingan; tapi dengan karya yang akan membantu masyarakat luas sebagaimana gerakan sosial Muhammadiyah. Misalnya dengan menciptakan alat ataupun platform untuk bertani, bernelayan dan sebagainya yang itu dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan dan perkotaan.  

Muhammadiyah Harus Tampil sebagai Produsen

Hemat saya, dengan karya tersebut, gerakan-gerakan sosial Muhammadiyah akan lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. Sebagaimana sesuai dengan semangat Islam berkemajuan oleh Muhammadiyah; yang merupakan respon terhadap globalisasi yang muncul dalam pergumulan peradaban. Sehingga akan muncul peradaban baru yang akan dipelopori oleh Muhammadiyah untuk merespon kebutuhan bangsa ini; di mana budaya konsumen berubah menjadi budaya produsen, yang kemudian akan merubah pandangan negara-negara lain terhadap Indonesia.

Sehingga, Indonesia tidak perlu lagi untuk mengimpor barang dari luar negeri, cukup bekerja sama dengan Muhammadiyah. Adapun, hasil-hasil karya tersebut, tentu tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Indonesia tetapi masyarakat luar negri juga.

Last but no least, Muhammadiyah harus tampil dengan menjadi produsen berbagai produk-produk yang dibutuhkan oleh masyarakat luas, senada dengan semangat gerakan sosialnya. Sebagaimana Muhammadiyah memiliki Lembaga Pendidikan; mulai dari Taman Kanak-kanak Hingga Perguruan tinggai.

Dilansir dari tabloidcermin.com bahwa data Majelis Diktilitbang PP Muhammaidiyah menyebutkan bahwa per Juni 2019 PT Muhammadiyah di seluruh Indonesia berjumlah 166. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah naungan Kemenristek Dikti RI yang berjumlah 122 PTN.

Dengan demikian, seharusnya lembaga pendidikan tersebut dapat menjadi wadah untuk bagaimana menciptakan produk-produk yang kemudian akan sangat berguna untuk masyarakat. Sebagaimana yang dikatakan oleh bapak Anies Baswedan dalam ucapan selamat milad Muhammadiyyah yang ke 108 bahwa “mudah, tua, tidak ditentukan oleh hitungan tahun, tapi orientasi. Kalau orientasinya ke masa lalu, maka sesungguhnya sudah tua. Tapi ketika orientasinya ke masa depan, maka tetap muda”.  

Bagikan
Post a Comment