f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hilang

Tersenyumlah Kalian di Sana yang Tumbang di Tangan Orang Tua Sendiri

Peringatan Hari Anak Internasional yang dirayakan setiap tanggal 20 November merupakan momentum dalam mengkampanyekan dan merayakan hak-hak anak di seluruh dunia. A Day to Reimagine a Better Future for Every Child adalah tema yang diusung untuk perayaan hari anak internasional 2020. Namun, akankah kekerasan pada anak akan segera berakhir?

Hingga hari ini, kita menyaksikan betapa banyak sekali pelanggaran hak-hak pada anak,; entah dari pemberitaan media massa, media sosial, atau bahkan menyaksikannya langsung; mulai dari tindakan kekerasan fisik, psikis, perlakuan eksploitasi yang dilakukan oleh orang tua, pengasuh, teman, atau bahkan orang lain dalam rentang usia bayi hingga remaja.

Dampaknya terhadap anak tentu sangat besar terhadap kondisi kesehatan fisik, psikologis, hingga sosial yang sangat boleh jadi dapat menimbulkan trauma psikologis saat ia tumbuh dewasa, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, hingga pada titik tertentu dapat mengalami kematian.

Dari tema yang diusung pada hari anak internasional tahun ini, seharusnya sudah tak ada lagi kekerasan, tindak kejahatan, eksploitasi, dan lain sebangsanya yang dialami oleh anak-anak. Namun nyatanya tidak semudah itu, hingga hari ini, kasus kekerasan terhadap anak masih marak terjadi; seperti dua kisah pilu di bawah ini yang seharusnya tak terulang lagi.

Arie Hanggara: Disiksa Kedua Orang Tuanya Hingga Tumbang

Rahmania mungkin pernah mendengar atau membaca kisah seorang anak bernama Arie Hanggara; seorang anak berusia 7 tahun yang tewas oleh karena ulah orang tuanya yang kerap menyiksanya.

Seperti dilansir tirto.id, di usianya yang masih belia, Arie seringkali disiksa oleh ayah dan ibu tirinya. Ia dipukul, ditendang, ditampar, kepalanya dibenturkan ke tembok, hingga dikurung di dalam kamar mandi. Musababnya, konon orang tuanya mendapati Arie mencuri uang. Di samping itu, kondisi ayahnya yang menggangur selepas usahanya bangkrut membikin situasi kian rumit dan mudah tersulut emosi. Saat ditanya gurunya perihal bekas luka yang ada di sekujur tubuhnya, ia berkilah bahwa bekas luka itu karena jatuh, tidak lebih.

Baca Juga  Belajar Budi Pekerti dari Sebuah Dongeng

Bocah periang dan mudah bergaul itu akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (8 November 1984) 36 tahun lalu. Sesaat sebelum ambruk, kepalanya dibenturkan ke tembok serta tak diperbolehkan makan dan minum. Ayahnya sempat membawanya ke rumah sakit. Namun nahas, di perjalanan, nyawanya tak tertolong.

Saat di autopsi, jenazah Arie dipenuhi 40 luka yang tersebar di hampir sekujur tubuhnya: di punggung, pinggang, pantat, dada, tengkuk, dan yang terbanyak di kedua lengan. Jasadnya dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jaksel.

Karena ulahnya, Machtino Eddiwan, ayah Arie, divonis 5 tahun penjara. Sementara Santi, ibu tiri Arie, divonis 2 tahun penjara oleh PN Jaksel.

Untuk mengenang peristiwa kelam dan menjadikannya sejarah agar kekerasan yang berakhir dengan kematian seorang anak tak lagi terulang, pemerintah hendak memasang patung Arie Hanggara di depan kantor Mendikbud. Namun, usulan itu tidak mendapat restu dari keluarga Arie, oleh karena menganggapnya hanya akan mengabadikan luka.

Kendati demikian, karena animo masyarakat Indonesia pada kala itu begitu besar; kisah Arie pun diangkat ke layar lebar berjudul “Arie Hanggara” dan lagu sendu ciptaan Idris Sardi berjudul “Alam Bebas Yang Damai”.

Semesta pun Menangisi Kepedihannya

Serupa namun tak sama, sosok yang dipanggil Adek–dalam saluran Youtube Sara Wijayanto berjudul Tante KUN – DMS [Penelusuran]–mengalami penyiksaan oleh kedua orang tuanya. Hampir setiap hari, ia dipukul bundanya sampai babak belur. Pernah pada suatu masa, ia dipukul bundanya tanpa ampun, padahal ia sudah memohon untuk berhenti memukulinya. Tapi nyatanya, sang ibunda tak menggubris permohonanya.

Kala itu, sang ayah hanya diam saja, tak melakukan pembelaan sedikit pun, seolah-olah mengamini perlakukan keji istrinya kepada anak semata wayangnya.

Baca Juga  Upaya Pemulihan Trauma Akibat Perundungan di Sekolah

“Bunda sering mukulin Adek, padahal Adek sudah ngomong, ‘Jangan pukulin Adek,’ tapi bunda tetap pukulin Adek, sampai Adek ngomong tapi nggak bisa keluar suara, ‘Bunda, bunda, bunda,’ Adek nggak tau harus minta tolong ke mana? Bunda nggak sayang ya sama Adek? Adek masih suka kangen sama bunda sama ayah. Adek salah nggak, ya?” Bocah malang itu menangisi kisah hidupnya yang lalu, yang suram, yang serba kalut.

Hingga pada akhirnya, kedua orang tuanya membuangnya di rerumputan dalam keadaan sekarat. Di sana, seluruh tubuhnya dikerubungi semut merah, ia semakin tak berdaya, ia tak bisa berbuat apa-apa. Pendeknya, ia tak bisa menyelamatkan diri sendiri. Benturan benda keras di kepala membikin situasi kian memburuk, otaknya mengalami pendarahan serius.

Puncaknya saat ditanya, “Kenapa orang tua Adek selalu kasar dengan Adek? Adek tetap sayang sama orang tua, ya?” ia pun menangis, hatinya bagai teriris sembilu. Memorinya langsung terlempar jauh ke belakang saat ditanya tentang ayah bunda dan perlakuan mereka kepadanya.

Di saat itu pula, semesta pun membersamai seluruh kepedihan hatinya. Malam itu, air Tuhan turun membasahi pipinya lalu menyatu dengan air mata yang semakin tak terbendung dan akhirnya jatuh ke tanah yang gersang itu.

Penyebab terbesar mengapa anak berusia 8 tahun itu meninggal adalah karena kehadirannya di dunia memang tak diinginkan sama sekali. Adek layaknya kerikil dalam sepatu yang harus disingkirkan.

***

Percaya atau tidak, seperti itulah nyatanya sekelumit kisah yang pernah dialami oleh seorang bocah yang hanya memakai satu sandal itu.

Arkian, seperti emas, setiap anak sejatinya merupakan sebuah karunia, anugerah, dan kebangaan yang harusnya dikasihi sepenuh cinta agar kelak ia tumbuh menjadi seorang manusia yang dapat memimpin dirinya sendiri dengan segala kedigdayaan yang dimilikinya.

Baca Juga  Mahkota untuk Ummi

Seperti yang dituturkan oleh sejarawan budaya asal Amerika, Robin Bernstein, “Semua anak berhak mendapatkan perlindungan yang sama di bawah hukum, bukan karena mereka tidak bersalah, tetapi karena mereka manusia.”

Setali tiga uang, perihal masa depan anak yang lebih baik, mendiang Michael Jakson dalam penggalan lagu “Heal the World” mengungkapan kecintaannya yang terdalam untuk anak-anak di seluruh dunia.

“Heal the world, make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place
For you and for me

“Heal the world we live in
Save it for our children
.”

Bagikan
Post a Comment