f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
calling visa

Pemuda Sebagai Solusi dalam Pencegahan Covid-19

Tentunya kita mengetahui dan mengenal teori langsung yang diajarkan oleh Allah swt, yaitu “Wara’ alkarithati hikmah”. Yah betul, yang artinya setiap musibah pasti ada hikmahnya. Kini umat manusia sedang ditimpa ujian dari Allah berupa rahmat dan kasih sayangnya yaitu Virus Corona. Salah satu wabah yang tercatat paling mengerikan dan menjadi momok menakutkan.

Nyatanya, seseorang yang terjangkit virus tersebut tak hitung menit spontan langsung jatuh tergeletak meninggal di tempat. Cina negara sebelah misalnya (Robbin Brant, BBC News, Shanghai). Atau paling janggal di Indonesia yang terjangkit virus ini langsung jatuh sakit; pilek, batuk-batuk, demam, bahkan sesak napas yang berujung kematian.

Wabah ini bukan hanya mengenai orang-orang yang zalim yang membangkang terhadap-Nya, tapi juga mengenai orang baik, hamba-hambanya yang sholeh. Jelaslah bahwa wabah ini sebuah rahmat, tanda kasih sayang Allah terhadap hamba-hambanya. Sekaligus untuk mengingatkan umatnya agar selalu mengingat atas kekuasaan-Nya. Selalu bertawakal dan berikthiar sesuai perintah-Nya. Selain itu juga menyadarkan para hamba-Nya bahwa semua yang ada di muka bumi ini tak terkecuali pasti akan meninggal dan menghadap kepada sang Ilahi Robbi.

Menggalakkan Lagi Protokol Kesehatan

Berbagai kebijakan para emperium negara bekerja sama dengan dokter dan tenaga medis dalam menanggulangani wabah ini. Demi mencegah penularan Virus Corona. Mulai dari menerapkan PSBB (Social distancing), uzlah selama beberapa hari di rumah, para pedangan kaki lima. Serta tempat hiburan dan pasar ditutup, pendidikan menerapkan pembelajaraan lewat Via-daring (online) dan lain sebagainya.

Sekiranya kebijakan yang cukup bagus sesuai dengan perkembangan teknologi dewasa ini. Meskipun pemerintah lupa akan satu hal, beberapa daerah tertentu mereka sama sekali tidak terjangkau oleh jaringan internet.

Kalau dilihat secara ekplisit kebijakan pemerintah sekarang ini belum sepenuhnya maksimal merata di berbagai wiliayah. Masih terombang-ambing dalam wacana, ada yang nurut ada pula yang hanya mendengar, acuh tak acuh. Sama sekali tidak menghiraukan protokol yang dianjurkaan oleh tenaga medis. Sekiranya hal ini harus lebih digalakkan lagi, tidak boleh dibiarkan begituh saja apalagi dianggap remeh. Ini bukan lelucon, wabah ini sangatlah membahayakan.

Baca Juga  New Normal Life dan Dilema Baru Bagi Guru

Memang, yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 ialah dokter dan para tenaga medis. Namun, untuk mengatasi permasalahan yang marak terjadi sekarang ini harus ada upaya bersama. Agar wabah virus corona ini cepat usai tidak menyebar ke mana-mana dan demi mencapai kemaslahatan bersama. Harus ada upaya atau kerja sama dari berbagai elemen masyarakat dan paling utama ialah peran para pemuda.  Mengapa harus pemuda, bukankah mereka lebih baik di rumah saja ? Menunggu sambil rebahan, seakan-akan tidak terjadi apa-apa ?

Pemuda Sebagai Ujung Tombak Pembaharu

Dewasa ini, sebagian pemuda menyambut liburan sekolah dan pembelajaran daring dengan suka-ria rebahan, makan minum, dan tidur saja. Sangat disayangkan, sebenarnya peran pemuda di tengah Covid-19 ini sangat diperlukan dan sangat penting sekali. Terutama dalam hal memberi informasi dan edukasi kepada orang-orang sekitarnya. 

Karena mereka ibaratnya tulang punggung negara, sebagai agent of change, moral force, dan control social. Itulah mengapa mereka para pemuda sangat diperlukan untuk asbab terjadinya suatu perubahan. Apalagi para pemuda atau biasa dikenal dengan milenial sangat paham dan mahir terkait media dan teknologi informasi. Karena itu, kesempatan emas bagi para pemuda untuk memperbaharui atau mengupgrade jiwa kepemimpinannya di tengah pandemi. Menciptakan suasana baru di sela-sela kegaduhan dan kering-kerontak sekarang ini.

Tidak ada cara lain untuk mengatasi kondisi sekarang ini, apalagi sebagian masyarakat masih belum patuh menerapkan protokol kesehatan. Mungkin saja sebagian dari mereka juga belum paham atau belum mengerti terkait protokol tersebut. Mungkin sudah paham tapi sengaja tidak mau menerapkan dalam kehidupannya. Maka dari sinilah para pemuda wajib dilepaskan dan diberi bekal untuk turun langsung di lapangan mencegah penyebaran Covid-19.

Perlunya Gaungan Edukasi secara Masif

Dengan cara bersosialisasi dan edukasi menggaungkan tentang perlunya menerapkan protokol kesehata. Pentingnya hidup bersih, mengajarkan rajin cuci tangan setelah aktivitas di luar, menggunakan masker. Memperkenalkan dan memberi pemahaman terkait dampak buruknya virus ini.

Baik itu kepada masyarakat awam, golongan tua, remaja, maupun anak usia dini sekali pun. Dengan ciri khas karakteristik lemah lembut, intelek, serta kuatnya analisis yang dimilki oleh pemuda. Sangat berpeluang dan efektif mendidik para masyarakat agar lebih peduli lagi terhadap virus ini yang sangat tidak boleh untuk di abaikan.

Baca Juga  Indonesia dalam Perspektif Kajian Kepemudaan

Dan juga, sekarang ini banyak keluarga korban yang terjangkit Covid-19 yang sama sekali tidak diperhatikan secara serius. Banyak dari kita tidak empati, dan tidak memiliki jiwa persaudaraan antara sesama. Memang, virus ini sangatlah berbahaya ia menular lewat kontak fisik. Akan tetapi, kalau dilihat sekarang ini korban maupun keluarga korban sama sekali tidak mendapatkan bela sungkawa terhadap masyarakat lainya. Dan akhirnya membuat mereka semakin terpuruk, keluarganya yang meninggal ditambah lagi kesusahan ekonomi dan lain-lain.

Hal tersebut sangat rancu dan seharusnya tidak boleh terjadi walaupun mereka terjangkit Covid-19. Bukan menjadi alasan atau landasan untuk kita agar tidak membantunya, tidak berempati kepadanya. Kita harus meringankan beban keluarganya baik dari sisi ekonomi maupun aspek lainya.

Jauhi Virusnya Bukan Manusianya

Sebaiknya, kita jauhi virusnya tapi jangan jauhi orangnya. Bagimanapun, mereka tetap saudara kita se-iman, se-budaya, se-agama, se-darah dan se-bangsa tanah air. Sebagaimana yang termaktup dalam sila-2 yang mengajarkan kepada kita semua nilai-nilai ritual ibadah dan humanisme; “Kemanusian yang adil dan beradab”. Dimana tafsirnya, manusia sejati yang baik hubungan dengan Tuhanya, dan baik pula hubungannya dengan sesama mahluk lainya.

Dan lagi-lagi, tidak ada orang lain yang bisa menetralkan kondisi ini melainkan antusiasme dari para pemuda. Apalagi sekarang ekonomi meraut ke bawah, para pekerja semuanya di PHK, nasib mereka sangtalah malang. Para pemuda harus serius dan optimis dalam membantu negara mengusir Covid-19 sekalian menetralkan kondisi ekonomi sekarang ini. Dengan pergerakan mereka yang diharapkan dan di tunggu-tunggu oleh masyarakat menengah ke bawah.

Bisa juga salah satunya dengan membuka peluang donasi. Membantu ekonomi baik dalam bisnis kuliner yang dilakukan dengan pemasaran melalui sosial media, suka rela menjadi relawan. Bersosialisasi dengan mengumpulkan dana dari berbagai khalayak, elemen masyarakat menengah ke atas, maupun dari perangkat negara sekali pun.

Baca Juga  Kisah Semangat Berbagi Civitas Akademika di Unisa Yogyakarta
Menciptakan Dakwah Transformatif

Selain yang dipaparkan di atas, tidak hanya golongan tua saja yang diperhatikan oleh Covid-19. Yah, memang mereka lebih rentan sakit dan cepat sensitif terhadap virus ini. Tatapi anak-anak juga perlu di rangkul dan di perhatikan pula. Karena kita tahu di balik senyum dan bahagianya mereka karena liburan sekolah. Mereka juga mengalami tekanan psikis maupu psikolog akibat wabah ini. Mereka pastilah ketakutan dan sangat khawatir. Oleh karenanya kita sebagai pemuda harus lebih produktif dan optimis terhadap segala hal, kita harus melek dengan sosial sekarang ini.

Lebih dan kurangnya kita menciptakan suasana baru agar mengobati kegelisahan dan kekhawatiran hati anak-anak dengan berbagai cara. Di antaranya mengajarkan dan menanamkan  kepadanya tentang nilai-nilai agama, moral dan ketuahan yang di mana semua itu bisa membuat mereka paham akan eksistensi Tuhanya dan esensi dari sebuah bala bencana yang terjadi. Agar mereka juga menjadi pribadi yang insan kamil, sabar-tabah, penuh pengharapan dan sikap menerima apa adanya. Selain itu, tidak lupa juga merefleksikan mereka dengan berbagai hiburan dan hal-hal positif  yang membuat mereka merasa nyaman di kala guncangan melanda,-

Melalui tulisan ini, penulis berharap para pemuda di era sekarang ini melek dan lebih memperhatikan sanak-family kita di luar sana. Kita sebagai pemuda juga mengambil peran dalam hal ini dengan sumbangsih dalam hal pemikiran. Kita harus menjadi motor penggerak untuk bangsa dan negara.

Saat orang tua sudah tak layak dan tidak kuat untuk berdiri, maka penerusnya ialah kita para pemuda yang di pundak kita terletak arah bangsa. Peradaban di tangan kita, baik dan buruk bangsa ini tergantung tangan-tangan kita sendiri. Bapak proklamasi pernah berkata ,

“ Berikan aku 1000 orangtua, aku akan cabut semeru. Berikan pula aku 10 pemuda, niscaya aku akan guncangkan dunia.”

Editor : Vika

Bagikan
Post a Comment