Apa Bedanya Curhat dan Konseling?
Terkadang hidup memang tidak bisa lepas dari suatu masalah. Dan masalah itu tidak bisa dihindarkan. Masalah bisa menghampiri kapan saja dan siapa saja, tidak mengenal usia dan status sosial.
Ketika sedang terkena masalah, biasanya, kita tidak lepas dari overload pikiran. Semua yang dijalani seolah menjadi gamang.
Oleh karena itu, setiap insan membutuhkan tempat untuk berbagi masalah, baik karena alasan ingin didengarkan saja, atau bahkan memang mencari pemecahan dan solusinya. Sebab, setiap masalah, harus bisa kita bagikan agar diri kita tidak terbebani, agar tidak terlalu berdampak pada psikis kita.
Maka yang sering kita temukan adalah metode curhat kepada teman atau orang yang dipercaya.
Metode Curhat
Kita pasti tidak asing lagi dengan istilah curhat, yang kepanjangannya adalah curahan hati. Hal yang tidak asing dan biasa dilakukan oleh kita, laki-laki maupun perempuan. Tentu curhat adalah kegiatan yang melegakan dan membantu perbaikan psikis kita.
Menurut KBBI sendiri, curhat ialah menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi pada orang terdekat seperti orang tua, teman, dan sebagainya. Dan tentunya, hal ini bisa dilakukan oleh semua orang dan siapa saja, tanpa harus melakukan pelatihan ataupun semacam keahlian dalam mengutarakan curhat bahkan menanggapinya.
Akan tetapi biasanya seringkali di masyarakat, masih terdapat ketidakpahaman mengenai perbedaan curhat dan konseling? Banyak orang yang beranggapan bahwasanya konseling bisa dilakukan oleh semua orang.
Ketika ada seseorang curhat, biasanya langsung dihibur untuk membuatnya gembira lagi, senyum dan menghilangkan sejenak apa yang menajdi keresahannya atau masalahnya. Berbeda halnya konseling, ia harus dilakukan oleh orang yang benar –benar memiliki ilmu dalam bidangnya.
Konseling dari Konselor
Mengutip dari KBBI, konseling adalah pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahamannya terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah; penyuluhan. Selain itu, proses konseling harus dilakukan oleh seorang konselor.
Untuk menjadi konselor haruslah menempuh gelar Strata 1 Bimbingan dan konseling dan mengambil pendidikan profesi konselor ataupun pendidikan profesi guru untuk jurusan bimbingan dan konseling. Hal ini juga diatur dalam undang-undang bahwasanya untuk dapat diangkat sebagai konselor, seseorang wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor yang berlaku secara nasiona
Demikian juga dalam proses konseling, ia tidak bisa hanya dilakukan satu kali. Walaupun ada beberapa teknik yang juga bisa dilakukan dengan konseling singkat. Bahkan ada yang sampai berobat ke klinik. Konseling sendiri juga bukan seutuhnya dikatakan solusi, akan tetapi ada kesepakatan antara konselor dan konseli. Konseli disini juga harus kooperatif, sehingga dalam proses konseling akan berhasil.
Hal ini tentu berbeda dengan curhat yang pada prosesnya dilakukan secara tidak sistematis dan runtut. Sedangkan proses konseling harus bertahap dengan tahapan yang runtut. Di dalam proses konseling juga harus mengedepankan asas-asas yang yang tertuang dalam kode etik seorang konselor. Seperti halnya “dokter dalam menangani pasien”, proses konseling dilakukan oleh konselor dengan menggunakan teknik dan pendekatan masalah yang sedang dialami konseli.
Konselor Profesional
Konseling yang profesional tentu saja memiliki prasyarat dan tuntutan yang lebih dari sekedar hubungan seperti curhat yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang non profesional. Oleh karenanya, hubungan konseling profesional perlu didukung kepribadian konselor, pengetahuan yang terkait dengan konseling dan ketrampilan konseling. Salah satu pengetahuan konseling yang sangat menunjang efektivitas layanan konseling adalah penggunaan pendekatan dan teknik konseling (Suwarjo,2012).
Konseling Individu dan Kelompok
Konseling juga ada jenisnya, ada yang berbasis kelompok dan juga berbasis individu. Menurut Gibson & Mitchel (2011: 51) mendefinisikan konseling individu sebagai hubungan yang berupa bantuan satu-satu yang berfokus kepada pertumbuhan dan penyesuaian pribadi dan memenuhi kebutuhan akan penyelesaian problem dan kebutuhan pengambilan keputusan.
Prayitno & Amti (2004: 105) menjelaskan bahwa konseling merupakan proses pemberian bantuan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang menjalani sesuatu masalah (konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli.
Sementara itu, ada konseling kelompok yang dapat memberikan invidu berbagai macam pengalaman kelompok yang membantu mereka belajar berfungsi secara efektif, mengembangkan tolerasni terhadap stress dan kecemasan, dan menemukan kepuasan dalam bekerja dan hidup bersama orang lain. Dan yang harus menjadi catatan bahwasanya konseling kelompok pun tidak akan efektif apabila konselor tidak memahami landasan berpikirnya.
Fungsi dan Alur dalam Konseling
Adapun fungsi dari konseling kelompok merupakan sebuah cara konselor untuk sifatnya preventif. Dalam artian individu yang dibantu memiliki kemampuan normal, namun memiliki kelemahan dalam kehidupannya.
Fungsi lainnya konseling kelompok yaitu bersifat penyembuhan yaitu untuk membantu individu untuk dapat keluar dari persoalan yang dialaminya dengan cara memberi kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu untuk mengubah sikap dan perilakunya agar selaras dengan lingkungannya.
Tentunya porses tersebut harus dibekali dengan teori-teori yang meliputi, metode dan teknik yang pada akirnya akan mengantarkan pada proses penyelesaian masalah.
Adapun beberapa faktor yang bisa mendukung dalam terapi konseling kelompok di antaranya:
- Membangkitkan harapan
- Universalitas
- Penyampaian informasi
- Altruism
- Rekapitulasi korektif kelompok keluarga
- Pengembangan teknik sosialisasi
- Perilaku iminatif
- Belajar interpersonal
- Kohesivitas
- Chatarsis.
Selain itu ada beberapa ketrampilan yang harus dimiliki dalam melakukan konseling itu sendiri di antaranya adalah:
- Active Listening
- Refleksi
- Klarifikasi dan Bertanya
- Meringkas
- Menghubungkan
- Ceramah singkat dan pemberian informasi
- Mendorong dan pendukung
- Pengaturan Nada
- Pemodelan dan Self-Disclosure
- Penggunaan Mata
- Penggunaan suara
- Penggunaan energy terpimpin
- Mengidentifikasi Pengikut
- Pemahaman Multikultural
- Focusing
- Cutting Off dan Drawing Out
Dengan penjelasan seperti di atas tentu kita dapat mengambil kesimpulan bersama-sama bahwasanya konseling itu merupakan suatu ilmu dan hanya bisa dilakukan secara profesional. Sehingga mulai secarang juga jangan ragu untuk mencarikan solusi bersama dengan konselor untuk mengentaskan bersama sama suatu yang sedang dirasakan.
Jadi mulai sekarang jangan salah mengartikan konseling sama dengan curhat ya Rahmania, sebab Keduanya sangat berbeda.
Guru BK SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan Alumni BK Universitas Ahmad Dahlan
