f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
petani muda

Refleksi Kemerdekaan Menyambut Bulan Agustus

Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia dirintis, diperjuangkan, dan didirikan oleh para pendahulu atas dasar tekad dan semangat untuk bersatu. Maka dari itu, jika tekad dan semangat untuk bersatu itu luntur dari hati sanubari bangsa Indonesia, berarti keberlangsungan negara ini dalam bahaya besar. Agar semangat para pejuang dan pendiri negara tetap berkobar. Nilai-nilai kepahlawanan perlu diwariskan kepada generasi muda.

Nilai-nilai kepahlawanan pada orde baru diberikan melalui jalur pendidikan, yakni melalui pendidikan sejarah perjuangan bangsa. Namun pelajaran tersebut kenyataannya telah “dipelintir” sebagai alat propaganda rezim tersebut. Akibatnya, saat ini mata pelajaran  ini telah dieliminasi dari kurikulum sehingga pembelajaran sejarah perjuangan bangsa hanya dapat diperoleh dari pelajaran sejarah, yang sifatnya masih umum dan luas (nasional dan internasional).

Terlepas dari persoalan di atas, yang perlu digarisbawahi bahwa pembelajaran sejarah berfungsi untuk menumbuhkan kearifan dalam diri anak didik. Belajar sejarah bukan sekedar membaca dan mengetahui suatu peristiwa, melainkan juga mengambil hikmah dari setiap peristiwa, sehingga akan timbul kesadaran kolektif untuk menuju masa depan bangsa yang lebih gemilang.

Kesalahan masa lalu, yang merupakan catatan kelam dalam sejarah, perlu diinsyafi sebagai cambuk untuk membenahi dan menata kembali sistem sosial, politik,  ekonomi, budaya, dan hankam yang lebih demokratis, manusiawi, dan modern. Pelajaran sejarah suatu bangsa senantiasa mengalami pasang surut. Kesalahan yang dilakukan para pendahulu  seyogyanya tidak dijadikan bahwa cacian dan alasan untuk tidak berkarya secara kreatif dan inovatif, akan  tetapi semua itu dijadikan bahan pembelajaran dan acuan untuk melangkah di masa depan.

Menegaskan nilai-nilai kepahlawanan:

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia selalu diliputi nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan. Perjuangan untuk mendapatkan kebebasan dari segala bentuk belenggu penjajahan. Perjuangan untuk menegakkan keadilan dan meraih kemakmuran  bangsa. Maka, tidak salah jika dikatakan bahwa bangsa Indonesia adalah  bangsa pejuang.

Baca Juga  Representasi Perempuan dalam Iklan: Peran Gender dan Komodifikasi

Nilai-nilai kepahlawanan harus selalu menjiwai setiap perjuangan anak bangsa. Untuk itu, nilai kepahlawanan perlu terus menerus ditanamkan dalam dada setiap anak bangsa. Perjuangan tanpa roh kepahlawanan hanya akan melahirkan para pecundang (bukan pejuang).

Dalam tulisan singkat ini, penulis mencoba memaparkan nilai-nilai kepahlawanan yang dapat dipetik dari sikap dan perilaku para pahlawan yang dapat dipetik dari sikap dan perilaku mereka untuk mempertahankan kemerdakaan Indonesia. Dengan harapan, setiap  anak bangsa dan generasi muda khususnya, dapat mewarisi nilai-nilai kepahlawanan tersebut dan mau mengejawantarkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai kepahlawanan yang di wariskan para pejuang atau pahlawan adalah:

Beriman  dan bertakwa pada  tuhan yang maha Esa

Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa mendorong seorang pejuang memiliki keberanian dan tidak takut menghadapi bahaya. Mereka memiliki keyakinan dan pendapat pertolongan Tuhan. Selama yang diperjuangkan adalah kebenaran. Ini penting ditanamkan mengingat bangsa kita saat ini didera berbagai macam musibah. Dengan adanya keimanan dan ketakwaan terhadap tuhan yang maha Esa, diharapkan seluruh bangsa  Indonesia bisa bersabar, tabah, dan tetap optimis akan mendapat pertolongan, Allah.

Menegakkan kebenaran dan keadilan

Saat ini, tampaknya sangat sulit mencari orang yang masih berjuang menegakkan nilai keadilan dan kebenaran. Menegakkan benang basah. Kondisi sosial budaya masyarakat yang carut marut sekarang ini tidak akan selesai, jika keadilan dan kebenaran tidak ditegakkan.

Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia

Esensi dari perjuangan adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, yakni pribadi dan bangsa yang jauh dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan antara manusia satu terhadap manusia lainnya, dan satu bangsa terhadap bangsa lainnya.

Membela kaum yang lemah

Sikap yang dimiliki seorang pahlawan adalah keberpihakannya pada kaum yang lemah. Keberpihakannya ini didasari pada kesadaran kesamaan harkat dan derajat sebagai manusia. Orang yang lemah baik secara sosial ekonomi maupun fisik bukan untuk dikalahkan, melainkan perlu ditolong agar bisa bangkit dari segala himpitan problema yang dihadapi. Kondisi sosial politik masa kini yang serba materialis selalu meminta korban dari kaum yang lemah. Mereka menjadi kambing hitam dari segala keburukan, kesalahan dan kegagalan, sehingga mereka selalu dipinggirkan dan disingkirkan dalam setiap derap langkah pembangunan.

Baca Juga  Toxic Parents dan Mitos Keluarga Ideal

Masih banyak lagi nilai-nilai kepahlawanan yang perlu digali untuk diwarisi oleh generasi penerus perjuangan bangsa, baik di masa kini maupun di masa  mendatang. Kearifan dan kesadaran generasi penerus untuk mewarisi nilai-nilai lurur yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa ini  adalah sebuah keniscayaan.

Meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi/golongan

Sikap tersebut saat ini hampir bisa dikatakan tinggal slogan. Padahal, nilai-nilai ini  diagungkan oleh para pahlawan dalam upaya mendirikan negeri ini. Apalagi dalam iklim otonomi daerah dan liberalisasi politik dan ekonomi saat ini, telah muncul manusia-manusia primordalis individualistic. Kepentingan pribadi, kelompok, golongan, daerah telah mengalahkan kepentingan bangsa dan Negara.

Mencintai rakyat dan bangsa:

Bukti cinta para pahlawan kepada rakyat dan bangsa adalah kerelaan mereka mengorbankan harta benda bahkan nyawa. Pengorbanan mereka semata-mata hanya untuk sebuah kemerdekaan dan kemakmuran rakyat dan bangsanya. Rela berkorban untuk kepentingan Negara dan bangsa itu adalah sikap yang dimiliki para pahlawan sendiri bangsa ini. Namun, sikap  seperti itu saat ini sepertinya sudah makin langka. Bahkan kalangan elit politik  justru “rela mengorbankan” rakyat dan bangsanya demi  ambisi pribadi dan kelompoknya.

Menghindari ketergantungan pada bangsa lain:

Perjuangan para pahlawan dilandasi semangat dan sikap ingin mendirikan negara dan bangsa yang merdeka dan mandiri. Namun, saat ini para elit politik justru membuat kebijakan yang menggantungkan diri pada pihak asing. Mereka menumpuk hutang  luar negeri dan menggadaikan Negara dan tanah airnya kepada  pihak asing.

Masih banyak lagi nilai-nilai kepahlawanan yang perlu digali untuk diwarisi oleh generasi penerus perjuangan bangsa, baik di masa kini pun di masa mendatang. Kearifan dan kesadaran generasi penerus untuk mewarisi nilai-nilai luhur yang telah  diperjuangkan para pendiri bangsa ini adalah sebuah keniscayaan.

Baca Juga  Pesan Penting Azyumardi Azra untuk Pesantren

Keteladanan kunci keberhasilan penanaman nilai-nilai kepahlawanan: Para pejuang, perintis, dan pendiri Negara ini, telah mewariskan nilai-nilai kepahlawanan kepada bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang amat mulia tersebut harus tetap terpatri dalam sanubari bangsa Indonesia. Jika bangsa ini menghendaki tetap tegaknya negara Indonesia, jika bangsa ini menghendaki tetap tegaknya negara Indonesia. Nilai-nilai tersebut harus diwariskan dari generasi ke generasi dan diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, dituntut adanya keteladanan dari para elit politik, tokoh masyarakat, para guru, dan orang tua. Keteladanan yang dimaksud adalah bahwa para generasi tua harus “menjadi” bukan sekedar “memberi” teladan. Seiring dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, makin sulit mencari pemimpin yang bisa dijadikan teladan bagi pewaris nilai-nilai kepahlawanan.

Kondisi seperti ini jika dibiarkan terus-menerus niscaya berakibat sangat fatal. Nilai-nilai kepahlawanan yang mestinya melandasi dan mendasari dan mendasari sikap dan perilaku setiap komponen bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kini justru digantikan oleh nilai-nilai materialistik, individualistik, konsumerisme, hedonistik, dan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. Kewarisan dan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan dan keteladan  dari para pemimpin mutlah diwujudkan, bukan sekedar dibicarakan.

Bagikan
Post a Comment