f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
membahagiakan

Tetap Membahagiakan Anak Sekolah di Masa Pandemi

Beberapa saat, setelah saya mengirim rapot kenaikan dan pengumuman libur via WA, ada sebuah pesan masuk. “Pak, kapan kita mulai belajar di sekolah? Bosan kalau dari rumah terus”. Begitu pertanyaan yang saya terima dari salah satu murid. Sebut saja Indah. Namun, saya tidak langsung menjawabnya.

Saya merenung sejenak. Biasanya, kalau informasi libur sekolah, anak-anak akan bersuka cita menyambutnya. Tapi ini kok tidak. Tampaknya, liburan bukan sesuatu yang diharapkan olehnya. Ada ekspresi kegelisahan atau ketidakbahagiaan dalam hati Indah dalam menyambut libur akhir tahun ajaran ini. Yang bisa jadi dialami juga oleh teman-temannya.

Lalu apa yang menyebabkan Indah gelisah? Saya menduga, penyebabnya adalah sesuatu yang sedang ia pikirkan. Ia ingin kembali beraktivitas ke sekolah. Seperti hari-hari sebelum pandemi korona, ia dapat berinteraksi langsung bersama teman-temannya.

Pandemi Sebabkan Perubahan dalam Pendidikan

Memang, pandemi korona ini telah menyebabkan perubahan yang drastis dalam dunia pendidikan. Pembelajaran dilakukan dengan skema jarak jauh. Nyaris tidak diawali dengan persiapan yang memadai. Dalam pelaksanaannya, pebelajaran jarak jauh (PJJ) banyak menimbulkan kebingungan, baik orangtua, pendidik, dan peserta didik. Tidak semua pihak dalam kondisi siap dan mampu untuk mengikuti PJJ secara ideal.

Tidak banyak sekolah yang mampu mengemas kegiatan PJJ secara menarik. Banyak kendala dan keterbatasan. Bagi peserta didik, inilah awal tekanan psikologis. Peserta didik harus menyiapkan dan melakukan pola rutinitas yang sebelumnya belum pernah ia lakukan. Apalagi untuk jenjang SD.

Soal PJJ misalnya, peserta didik sering mengerjakan tugas yang tidak proporsional. Mereka, dalam sehari sebagian besar waktunya digunakan untuk PJJ. Ditambah, waktu satu sampai dua jam (bisa lebih) untuk menyelesaikan tugas-tugas dari guru. Ada yang harus bergantian menggunakan perangkat komunikasi, ada yang sambil membantu adik, bahkan ada yang membantu orang tua di kebun. Enerjinya terkuras. Rasa bosan, jenuh menghinggapi.

Baca Juga  Langit Tanpa Bintang

Mungkin kondisi demikian yang dialami Indah, juga murid-murid yang lain. Karena berbagai faktor, PJJ menjadi pengalaman yang tidak membahagiakan. Rentan menyebabkan stress karena bertentangan dengan spirit pendidikan

Pendidikan Yang Membahagiakan

Di masa pandemi ini, awal tahun ajaran baru sudah dipastikan dengan skema baru melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Kementrian terkait tentang penyelenggaraan proses belajar mengajar tahun ajaran 2020-2021 tanggal 15 Juni 2020.

Namun untuk menentukan awal masuk sekolah di tiap daerah tidaklah sama. Salah satu syaratnya mengacu pada status daerah tersebut merah, kuning atau hijau. Hanya daerah dengan status zona hijau yang diperbolehkan membuka aktivitas belajar mengajar di sekolah. Itupun harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Ada ataupun tidak ada pandemi, tatap muka ataupun PJJ pendidikan harus tetap berjalan. Sekolah merupakan tempat memproses generasi penerus dalam jumlah skala yang besar. Lulusannya diharapkan mampu mengupayakan kelangsungan hidup sebaik-baiknya dengan segala potensi yang dimiliki. Untuk tujuan kebahagiaan.

Ya, bahagia. Semua orang ingin hidup bahagia. Bahagia dan membahagiakan orang lain. Itu artinya selama menempuh pendidikan di sekolah baik dengan skema tatap muka ataupun jPJJ, perlu ditumbuhkembangkan karakter-karakter tertentu yang membuat anak memiliki peluang lebih besar untuk bahagia. Karakter yang tertanam kuat akan dibawa kemanapun sampai kapanpun anak berada.

Dalam buku Haidar Bagir yang berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia, karakter yang diperlukan untuk menjadikan anak bahagia adalah segala jenis karakter yang mampu menghasilkan emosi-emosi positif. Emosi positif merupakan kebutuhan penting sehari-hari untuk kelangsungan hidup, dan untuk hidup bahagia (Clifton dan Rath).

Membahagiakan dengan Karakter Positif Anak

Meskipun tinggi rendahnya kualitas lulusan ditentukan oleh berbagai faktor, pendidik tetaplah menjadi faktor penentu. Akan lebih baik, dapat melakukan cara-cara bijaksana dalam mengaktualkan potensi anak. Sedapat mungkin menghindari kondisi yang menyebabkan anak menjadi tertekan dan terbebani. Agar anak tidak kehilangan peluang untuk memiliki karakter yang mendukung kebahagiaan.

Baca Juga  Kado untuk Mbah Yem dan Mbah Inah

Prosesnya, memang tidak mudah. Perlu kesabaran, kesadaran, kreativitas dan niat yang kuat. Tapi ini demi generasi lho. Sambil menunggu tahun ajaran baru tiba, mari kita ubah paradigma dalam mendidik anak. Melalui tatap muka ataupun PJJ kita fokuskan proses pendidikan pada pemenuhan syarat-syarat untuk bahagia, meskipun pintar juga penting.

Sudah semestinya kita, para guru menekankan proses pendidikan pada penanaman karakter-karakter positif anak. Selain itu, semestinya kita juga menjadi pendidik yang selalu menfasilitasi suasana yang nyaman bagi anak-anak kita, selalu memelihara harga diri mereka, dan memberi ruang seluas-luasnya bagi anak untuk mencoba dan salah.

Hanya dari itu semualah, kreativitas bisa lahir. Dan hanya dengan kreativitas, kita bisa berharap banyak untuk kebahagiaan hidup anak-anak kita. Jika bukan kebahagiaan, apalagi yang dicari orangtua untuk anak-anaknya?

Lalu saya jawab WA murid saya. “Mulai tahun ajaran baru, dari rumah atau sekolah kita akan belajar dengan bahagia”.

Bagikan
Comments
  • Mulailah dari diri kita sendiri untuk menjadi pribadi yg bahagia dan membahagiakan orang lain, mantap pak sigit teruslah menulis karena lewat tulisan nama kita tak lekang dimakan zaman.

    Juli 6, 2020
    • Sigit

      Terima kasih Bu Sri

      Juli 6, 2020
  • Gding

    Profesi ini adalah profesi yang mulia pak…terus tebarkan ilmu yg bermanfaat bagi generasi bangsa n semuanya .. tetap semangat terus ciptakan goresan2 pengalaman 2 sebarkan untuk pencerahan bagi semua….Slam sehat n sukses Pak…

    Juli 6, 2020
Post a Comment