Minat dan Bakat Anak, Orang Tua Harus Peka
Oleh : Lya Fahmi*
Ada satu hal yang belum lama kusadari dari kebiasaanku menulis, yaitu kalimat-kalimat yang kususun dalam satu paragraf begitu mudah menjadi berima. Misalnya, kalo aku menulis dengan nada yang berujung a, maka masih bisa dua tiga kalimat setelahnya berakhiran a. Kalo aku nulis dengan ujung yang bernada u, maka dua tiga kalimat setelahnya juga berakhiran u
Dari mana aku mendapatkan kemampuan menulis dengan kalimat-kalimat berima begitu? Terus terang, aku menulisnya begitu saja tanpa rencana. Itu sesuatu yang seolah-olah otomatis kulakukan. Tapi, jika ditarik ke kehidupanku pada masa-masa awal, aku mengerti dari mana kemampuan itu berasal.
Proses literasiku dimulai dari ayah yang senang membaca buku dan koran. Saat usiaku lima tahun, saat aku belum bisa membaca, aku mencontoh huruf-huruf dari kalimat yang menjadi headline koran. Minatku terhadap baca tulis dimulai dari melihat kebiasaan orang tua.
Saat sudah mampu membaca, aku mulai membaca cerita bergambar. Lama-lama, aku mulai membaca cerita pendek. Lebih lama lagi, aku mulai membaca satu buku kumpulan cerita pendek. Semakin lama, aku mulai membaca novel. Sampai akhirnya, aku menetapkan cita-cita menjadi penulis fiksi. Cita-cita yang belum kesampaian sampai sekarang
Dengan perjalanan yang begitu, pengalaman membaca dan menulisku banyak terekspos oleh kalimat-kalimat indah dan berima. Ditambah lagi, aku besar di Tanah Melayu yang menekankan kemampuan berpantun. Teman-temanku dulu, membuat pantun sekali jalan saja. Pantun-pantun itu keluar begitu saja dari mulut mereka, persis seperti Jarjit dalam kartun Upin Ipin.
Berbagai paparan itu membuatku terampil secara verbal. Sejak SD, aku sudah tahu kalau aku sangat suka membaca dan menulis. Yang kulakukan selanjutnya hanyalah mengulang-ulang kedua aktivitas itu setiap harinya. Aku mulai menulis cerita saat SD dan menulis esai saat SMP.
Pengalaman dan Aktivitas Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
Belakangan, aku menyadari bahwa hal-hal yang kita alami dan lakukan terus menerus sewaktu kecil bisa berdampak signifikan pada saat kita dewasa. Pengalaman dan aktivitas sekecil apa pun, tampaknya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kita. Aku menduga apa yang menjadi kemampuan kita hari ini adalah akumulasi dari apa yang kita lakukan secara terus menerus dalam fase hidup sebelumnya.
Kesimpulan ini tentu saja tidak kutarik berdasarkan pengalaman pribadi saja. Aku ingin ceritakan pada Tuan dan Puan tentang Wregas Bhanuteja.
Saat balita, Wregas senang merekam acara TV dengan video betamax. Setelah direkam, Wregas memutarnya berulang-ulang. Uniknya, acara TV yang direkam itu-itu saja. Keluarganya sempat menganggap ini perilaku yang ‘aneh-aneh,’ tapi tampaknya dibiarkan saja.
Saat SMA, Wregas menunjukkan minat pada produksi film. Tahun 2011, CPMH minta tolong padanya untuk dibuatkan video pijat bayi. Membuat video pijat bayi untuk lembaga yang baru saja lahir tentu tampak seperti hal yang kecil jika dilihat dari kacamata sekarang. Tapi, tahukah Tuan dan Puan sekalian apa yang didapat Wregas pada tahun 2016?
Silakan Googling, Wregas Bhanuteja menjadi sutradara Indonesia pertama yang berhasil meraih penghargaan film pendek terbaik dalam ajang Cannes Film Festival. Ini tentu bukan prestasi yang main-main, sekali pun prestasinya dimulai dari merekam-rekam acara TV saat balita.
Lain Wregas, lain pula dengan Afkar. Iya, Afkar si remaja laki-laki yang pandai membuat kue-kue enak itu. Beberapa waktu lalu, saya ngobrol dengan bapaknya. Bagaimana mulanya Afkar berminat pada dunia perbakingan?
Bapaknya cerita bahwa sejak kecil Afkar selalu menunjukkan minat yang besar jika simboknya sedang baking. Saat bermain game pun, Afkar paling senang memainkan game Cooking Mama.
Perilaku Afkar yang menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas dapur ditanggapi serius oleh orang tuanya. Kemudian, orang tua Afkar memilih memfasilitasi minatnya itu.
Hasilnya? Hasilnya ya itu, foto cinnamon roll seliweran tiap hari di timeline. Bikin ngeces aja.
Apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman Afkar, Wregas, dan pengalamanku sendiri? Anak-anak sangat mungkin menunjukkan minatnya sejak balita. Tinggal, apakah orang tua menyadari dan mengakui minat anak itu atau tidak? Memilih memfasilitasi atau tidak?
Orang Tua Harus Peka dan Mengapresiasi Minat dan Bakat Anak
Isu mengenali minat dan bakat adalah salah satu isu yang menarik minat orang tua mana pun. Setiap orang tua, sangat berhasrat mengetahui minat bakat anaknya sedini mungkin. Saya sering ditanya soal pengetesan untuk minat bakat anak. Menurut saya pribadi, minat dan bakat anak itu tidak perlu dites. Cukup observasi dan keluasan hati untuk menerima diri anak apa adanya.
Persoalan yang sering terjadi adalah anak sudah menunjukkan minat, tapi orang tua nggak mau itu yang jadi minat anaknya. Kadang, minat anaknya nggak cukup berharga di mata orang tua. Lalu, diminta lah anaknya mendalami hal lain. Nanti kalo anaknya tampak malas ngapa-ngapain, njuk sambat .
Kupikir, anak yang paling beruntung di dunia adalah anak yang minatnya diakui dan bakatnya didukung oleh orang tua. Dukungan dari orang tua itu adalah bensin yang menggerakkan anak menjadi tidak mudah menyerah.
Sebagai penutup tulisan ini, aku ingin mengutip apa yang ditulis Mbak Edilburga Yayie, tantenya Wregas, sesaat setelah tersiar kabar Wregas berhasil memenangkan penghargaan di ajang Piala Cannes.
"Kemenangannya ini mengingatkan saya bahwa penting untuk selalu peka dan mengapresiasi minat anak. Apapun itu. Karena bisa jadi minat itu yang akan menuntunnya untuk terbang tinggi di kemudian hari."
*) Lya fahmi adalah Penulis, psikolog, dan influencer

Penulis, psikolog di Sleman.
