Islam dan Budaya Hidup Bersih: Refleksi HCTPS dari Perspektif Dakwah

11 menit baca
Teks:
WhatsApp

“Ada tujuh langkah dalam cuci tangan, mulai dari depan sampai ke belakang, sela-selanya, kuku dan jempol, tak lupa pergelangan lalu bilas”       

Berikut adalah lirik lagu yang diajarkan senior saya saat kuliah S1 dulu, edukasi cuci tangan ini kami lakukan hampir diberbagai kegiatan pengabdian masyarakat, sampai bosan sampai “hah edukasi cuci tangan lagi?” tanyaku suatu hari saat kami harus menyanyikan lagu yang sama di peringatan hari cuci tangan sedunia yang diperingati setiap tanggal 15 Oktober. Namun, edukasi cuci tangan ternyata dampaknya luar biasa, mudah dilakukan apalagi dengan akses air dan sabun yang banyak tersedia pasca pandemi covid-19 dalam upaya transisi new normal beberapa tahun kebelakang.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terkhusus melalui kebiasaan yang baik seperti mencuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan langkah yang paling mudah, sederhana dan terjangkau namun efektif dalam mencegah berbagai penyakit menular seperti diare, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), tifus dan infeksi kulit terutama pada anak-anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan CTPS mampu mengurangi lebih dari 40% risiko penyakit (infeksi dan saluran cerna). CTPS juga bisa memutus rantai kuman, bakteri, virus yang mudah sekali berpindah melalui benda sehari-hari seperti ponsel, laptop, gang pintu bahkan alat transaksi seperti uang.

Dalam ajaran Islam, kebersihan bukan hanya urusan kesehatan jasmani, tetapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa kebersihan adalah separuh dari iman (ath-thuhuru syathrul iman, HR. Muslim). Landasan ini memberi dasar yang kuat untuk memadukan kebiasaan cuci tangan pakai sabun dengan penanaman nilai-nilai keagamaan, sehingga praktik tersebut dipahami sebagai bentuk kesadaran spiritual dan ibadah, bukan sekadar menjaga kebersihan fisik.

Pertanyaan sederhana sering muncul ketika kita membicarakan cuci tangan: sejauh mana umat Islam sudah menjadikan kebersihan sebagai bagian dari ibadah sehari-hari? Wudhu lima kali sehari, mandi besar, dan kebiasaan membersihkan rumah memang sudah lama dikenal sebagai praktik keagamaan. Namun, kebiasaan yang tampak lebih sederhana, seperti mencuci tangan pakai sabun sebelum makan atau setelah dari toilet, kerap masih dipandang sebagai urusan kesehatan semata. Di sinilah keluarga muda memegang peran penting, sebab mereka sedang membentuk kebiasaan dan teladan bagi anak-anaknya

Kebersihan dalam Perspektif Islam

    Dalam islam, ajaran agama berperan besar dalam menuntun seseorang menuju gaya hidup sehat dan bertanggung jawab dan sikap dalam menjaga kebersihan adalah salah satu aspeknya. Misalnya umat islam dianjurkan mengonsusmi makanan yang baik dan halal. Memilih makanan halal tidak hanya soal pola makan, namun mengolah makan dengan baik dengan memilih makanan dan mencuci bahan-bahan makanan sebelum diolah adalah bentuk ikhtiar menjaga asupan kedalam tubuh terjaga dengan baik dan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah.

    Dalam Islam, kebersihan tidak berhenti pada aspek fisik, melainkan juga menjadi bagian dari persiapan spiritual. Wudhu dan mandi sebelum beribadah menjadi sarana menyucikan diri, lahir dan batin, agar seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan hati dan pikiran yang bersih. Nilai ini berlaku pula pada kebersihan lingkungan dan makanan, sehingga praktik menjaga diri dari hal-hal yang kotor atau terkontaminasi dipandang sebagai bagian dari ajaran agama. Dalam konteks ini, mencuci tangan pakai sabun dapat dipahami sebagai kelanjutan dari wudhu, yakni bentuk kebersihan yang menyentuh aktivitas harian, seperti sebelum makan, setelah dari toilet, dan saat menyiapkan makanan. Dengan demikian, cuci tangan pakai sabun tidak hanya berfungsi mencegah penyakit, tetapi juga dapat diposisikan sebagai ikhtiar menjaga amanah tubuh yang diberikan Allah SWT.Makna kebersihan dalam Islam yang mencakup lahir dan batin, tubuh, pakaian, tempat tinggal, dan lingkungan.

    Cuci Tangan dalam Tuntunan Sunnah

    Perintah untuk menjaga kesucian adalah fondasi dalam Islam, dan ini tercermin jelas dalam hadis Nabi saw, mengenai mencuci tangan setelah bangun tidur. Hadis dari Abi Hurayrah r.a secara tegas melarang seseorang mencelupkan tangannya ke dalam bejana air bersuci sebelum membasuhnya tiga kali, dengan alasan “Karena ia tidak mengetahui di mana tangannya semalam bermalam”

    Hadis yang sering dikaitkan dengan anjuran ini menyebutkan bahwa seseorang yang bangun dari tidur hendaknya mencuci tangannya sebelum memasukkannya ke dalam bejana air, dan ajaran tersebut dipahami sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga kebersihan. Dari sudut pandang kesehatan modern, nilai preventif ini menjadi lebih mudah dipahami. Menurut WHO, tangan merupakan media utama penularan mikroorganisme penyebab penyakit di lingkungan maupun rumah tangga. Mikroorganisme patogen seperti Staphylococcus, E. coli, dan Pseudomonas aeruginosa dapat bertahan di permukaan kulit selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Selama tidur, tangan kerap tanpa disadari menyentuh hidung, mulut, atau area tubuh lain yang menjadi sumber mikroba alami, sehingga mencuci tangan setelah bangun menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan.

    Di antara bakteri E. coli yang ada di dalam tubuh manusia, sebagian memang bersifat patogen dan dapat menimbulkan penyakit menular seperti diare, disentri, hingga kolera, terutama bila ditularkan melalui air atau makanan yang terkontaminasi maupun kontak dengan manusia dan hewan. Dengan demikian, ketika seseorang bangun tidur lalu langsung menyentuh air, makanan, atau benda lain tanpa mencuci tangan, mikroorganisme tersebut berpotensi berpindah dan mencemari lingkungan sekitarnya. Perintah Nabi SAW untuk mencuci tangan setelah tidur dapat dibaca sejalan dengan prinsip mikrobiologi modern, yaitu mencegah transmisi mikroorganisme melalui tangan. Meski sering dianggap sepele, kebiasaan ini memiliki peran besar di lingkungan berisiko tinggi seperti rumah sakit, tempat infeksi nosokomial, yakni infeksi yang didapat pasien selama perawatan, kerap dipicu oleh kurangnya kebersihan tenaga medis maupun pasien. Oleh karena itu, mencuci tangan menjadi tindakan pencegahan yang paling sederhana sekaligus efektif untuk memutus rantai penularan penyakit.

    Perspektif Kesehatan dan Ilmu Pengetahuan

    Banyak kuman penyebab penyakit dapat menyebar ketika seseorang tidak mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir, sehingga kebiasaan ini sangat penting dilakukan terutama setelah dari toilet, sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, serta setelah batuk, dan bersin.

    Mencuci tangan dengan sabun dan air tergolong mudah dan murah, namun sering kali belum dianggap serius. Menurut sejumlah penelitian, edukasi masyarakat tentang cuci tangan dapat menurunkan jumlah penderita diare hingga sekitar 23–40%, mengurangi hari sekolah yang terlewat akibat penyakit saluran cerna sebesar 29–57%, dan menurunkan kasus diare pada penderita dengan sistem kekebalan lemah hingga 58%, serta mengurangi infeksi saluran pernapasan seperti pilek sekitar 16–21%. Mengingat pneumonia dan diare menjadi penyebab utama kematian anak di bawah lima tahun, Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia menjadi momentum untuk mendorong masyarakat mencuci tangan dengan sabun, terutama pada waktu-waktu penting.

    Menjaga kesehatan termasuk bagian dari upaya menjaga jiwa (hifzh an-nafs), salah satu tujuan pokok syariat (maqashid asy-syari’ah). Ilmu kesehatan modern pun bertumpu pada tujuan yang sama, yaitu melindungi manusia dari penyakit dan kematian yang sebenarnya bisa dicegah. Dengan demikian, ajaran agama dan ilmu kesehatan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan. Di sinilah keluarga muda tangguh memiliki peran strategis: pasangan suami istri yang memahami kebersihan sebagai bagian dari ibadah sekaligus sebagai bentuk perlindungan jiwa dapat menjadikan kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah dari toilet, sebagai teladan nyata bagi anak-anak. Ketika nilai agama dan pengetahuan kesehatan berpadu di dalam rumah, kebiasaan tersebut tidak lagi sekadar rutinitas, melainkan ikhtiar menjaga amanah jiwa yang diberikan Allah SWT, sekaligus fondasi bagi terwujudnya keluarga yang sehat dan tangguh.

    Tantangan Dakwah di Masyarakat

    Di banyak rumah tangga muda, kebiasaan kecil sering luput dari perhatian. Tangan yang tidak dicuci setelah dari kamar mandi, anak yang disuapi tanpa membasuh tangan, atau peralatan makan yang dibiarkan tanpa dibersihkan dianggap hal sepele. Padahal dari kebiasaan kecil inilah ketahanan keluarga mulai dibangun. Keluarga muda yang tangguh adalah keluarga yang sehat jasmani dan rohani, serta mampu menjaga lingkungan tempat tinggalnya.

    Kondisi kurang higienis masih terjadi di sebagian masyarakat, termasuk di dalam keluarga sendiri dan di lingkungan tempat ibadah. Kebiasaan ini sering diwariskan tanpa disadari dari orang tua kepada anak. Karena itu, perubahan perlu dimulai dari lingkup terdekat. Seorang ibu yang mencuci tangan bersama anaknya sebelum makan, atau seorang ayah yang membiasakan diri membasuh tangan sepulang bekerja, sudah menjadi pelajaran yang kuat bagi keluarga.

    Dalam Islam, kebersihan bukan sekadar urusan fisik. Ia berkaitan dengan iman dan akhlak. Wudhu yang dilakukan setiap hari menjadi latihan kebersihan yang terhubung langsung dengan ibadah. Karena itu, mengajarkan cuci tangan pakai sabun kepada anak juga merupakan bagian dari pendidikan akidah dan akhlakul karimah. Anak yang terbiasa membasuh tangan dengan niat menjaga diri dan menghormati orang lain sedang belajar bahwa kebersihan adalah bagian dari ibadah.

    Pendekatan yang tidak menggurui menjadi kunci. Anak-anak tidak cukup diberi nasihat, mereka perlu melihat orang tuanya melakukannya. Pasangan muda juga dapat saling mengingatkan dengan lembut, misalnya dengan menyiapkan sabun di dekat dapur dan kamar mandi, atau mengajak anak menghitung lamanya membasuh tangan sambil bersenandung. Kebiasaan seperti ini juga melatih kemandirian anak, karena ia belajar merawat dirinya sendiri sejak dini.

    Kepedulian keluarga pun dapat meluas ke lingkungan. Keluarga yang membiasakan cuci tangan dan menjaga kebersihan rumah ikut menjaga kesehatan tetangga dan lingkungan sekitar. Di sinilah nilai ramah lingkungan dan semangat berbagai kebaikan bertemu. Ketika kebiasaan sehat dipraktikkan bersama, rumah menjadi tempat yang aman bagi semua anggotanya, sekaligus menjadi contoh bagi lingkungan sekitar.

    Melalui tema “Jadilah Pahlawan Cuci Tangan”, setiap keluarga muda dapat menjadi pahlawan kecil di rumahnya sendiri. Dengan teladan, kebersamaan, dan kesabaran, cuci tangan pakai sabun menjadi bukti nyata bahwa keluarga muda yang tangguh adalah keluarga yang sehat, berakhlak, mandiri, dan peduli pada lingkungannya.

    Strategi Dakwah Kebersihan

    Masjid dan Anak-Anak sebagai Ruang Belajar Kebersihan

    Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga ruang belajar yang paling dekat dengan kehidupan keluarga muda. Tempat wudhu, kran air, dan tempat cuci tangan yang tersedia di masjid dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Ketika jamaah membasuh tangan sebelum masuk shalat, mereka sebenarnya sedang melihat langsung contoh kebersihan yang bisa dibawa pulang ke rumah. Pengurus masjid dapat melengkapinya dengan sabun cair, poster sederhana tentang cara cuci tangan yang benar, dan papan pengingat singkat yang mudah dibaca anak-anak. Dengan cara ini, masjid turut berperan dalam membentuk kebiasaan sehat, sejalan dengan pilar Sehat Jasmani, Rohani, dan Lingkungan.

    Anak-anak adalah sasaran yang paling tepat untuk menanamkan kebiasaan ini. Kegiatan sederhana seperti lomba doa sebelum makan dengan cuci tangan dapat dijadikan pilihan. Anak-anak diajak membasuh tangan dengan sabun sambil membaca doa sebelum makan, lalu dinilai dari kerapian gerakan, kebersihan, dan kelancaran bacaan doa. Lomba seperti ini tidak menjadikan kebersihan sebagai beban, melainkan permainan yang bermakna. Anak belajar bahwa mencuci tangan adalah bagian dari adab makan dan ibadah, sekaligus melatih kemandirian dan rasa percaya diri. Kegiatan ini juga dapat diikuti orang tua agar teladan di rumah dan di masjid sejalan.

    Pendekatan seperti ini sejalan dengan pilar Kokoh Akidah dan Akhlakul Karimah karena menanamkan doa dan adab sejak dini, serta pilar Kemandirian karena anak dilatih merawat dirinya sendiri. Jika kegiatan ini dilakukan bersama antara masjid, keluarga, dan Organisasi seperti Nasyiatul Aisyiyah, maka pesan HCTPS 2026, “Jadilah Pahlawan Cuci Tangan”, dapat tersampaikan dengan cara yang menyenangkan dan berkesinambungan.

    Cuci Tangan, Jembatan Antara Ilmu dan Iman

    Dari pembahasan sebelumnya, kita dapat melihat bahwa kebersihan bukan persoalan yang berdiri sendiri. Ilmu kesehatan menjelaskan bagaimana sabun dan air mampu memutus rantai kuman penyebab penyakit, sementara ajaran Islam menempatkan kebersihan sebagai bagian dari iman dan jalan menuju ibadah yang sempurna. Keduanya bertemu pada satu tujuan yang sama, yaitu menjaga jiwa dan keselamatan manusia. Cuci tangan pakai sabun, dengan demikian, menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai keislaman.

    Karena itu, mari kita jadikan cuci tangan pakai sabun sebagai kebiasaan yang bernilai ibadah. Sebelum makan, setelah dari kamar mandi, setelah beraktivitas di luar rumah, dan sebelum menyentuh anak, setiap langkah kecil ini dapat diniatkan sebagai bentuk ikhtiar menjaga diri dan keluarga. Keluarga muda yang tangguh adalah keluarga yang mampu menghadirkan kebiasaan sehat seperti ini secara konsisten, sejalan dengan pilar Sehat Jasmani, Rohani, dan Lingkungan serta Kokoh Akidah dan Akhlakul Karimah.

    Sebagai penutup, marilah kita berdoa:

    “Ya Allah, bersihkanlah lahir dan batin kami, jadikanlah tangan kami sebagai sarana menjaga diri dan orang-orang yang kami cintai, serta jadikanlah setiap kebiasaan baik yang kami lakukan sebagai amal yang Engkau terima. Aamiin.”

    Melalui tema “Jadilah Pahlawan Cuci Tangan”, semoga setiap keluarga muda menjadi pahlawan kecil yang menjaga keselamatan rumahnya dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

    Daftar Pustaka
    1. Aisy, A., Rahmatika, V., & Istiqamah. (2026). Anjuran mencuci tangan dalam hadis: Relevansi pencegahan kontaminasi mikroorganisme dalam perspektif sains. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, 5(1), 266–286. https://doi.org/10.35931/am.v5i1.5827
    2. Amirah, Amanda, N. D., Nurhidayah, T. M., & Ramadhani, T. Y. (2023). Menjaga kesehatan tubuh dalam perspektif Islam. Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 1(5), 373–380. P-ISSN 2962-6560; E-ISSN 2963-7139.
    3. Masiran. (2022). Strategi dakwah era new normal dalam memelihara silaturahim jamaah haji Al-Barakah perspektif aksiologi keilmuan dakwah. HUJJAH: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam, 6(1), 1–11. P-ISSN 2580-7811; E-ISSN 2775-1775.
    4. Nita, M. W., Lestari, S., Supriani, Y., Rosanti, I. R., Tauhid, Fatimawati, F., Alfarihah, A. M., Arifudin, O., & Kartika, I. (2025). Pelatihan cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebagai upaya pencegahan penyakit di kalangan siswa sekolah dasar. Jurnal Karya Inovasi Pengabdian Masyarakat (JKIPM), 3(1), 19–28.
    5. Pace Hospital. (t.t.). Global handwashing day. https://www.pacehospital.com/global-handwashing-day
    6. Salamah, U., & Akbar, S. (2026). Internalisasi nilai agama dalam edukasi cuci tangan pada anak. Tepis Wiring: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 56–67. https://doi.org/10.33379/tepiswiring.v5i1.9613

    Leave a Comment