f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kekerasan terhadap perempuan

Membuka Mata, bahwa Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan merupakan Isu Bersama

Perempuan sering dilambangkan sebagai pusat kehidupan, tetapi juga merupakan sosok yang paling rentan menjadi korban kekerasan. Dua tahun terakhir, dalam catatan tahunan Komnas Perempuan kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat signifikan. Pada tahun 2023 terdapat 289.111 kasus dan meningkat pada tahun 2024 terdapat 330.097 kasus kekerasan terhadap perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan terdapat dari berbagai lini, terdapat kekerasan terhadap perempuan di ranah personal (relasi perkawinan, kekerabatan, relasi intim, dan pekerjaan dalam rumah tangga); ranah publik (kekerasan di tempat kerja, lingkungan rumah, sekolah, tempat publik, perdagangan perempuan dan anak, kekerasan di tempat kerja Luar Negeri, serta kekerasan di ranah siber); dan ranah negara (penggunaan alat negara yang berakibat pada kekerasan terhadap perempuan termasuk dalam konflik bersenjata dan kebijakan diskriminatif).

Kekerasan yang korbannya mayoritas perempuan ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh perempuan itu sendiri. Perlu pendekatan kolektif untuk mendukung pencegahan kekerasan terhadap perempuan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk keterlibatan laki-laki.

Mengapa Laki-Laki Harus Terlibat?

Laki-laki juga harus terlibat dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan. Basis pemahaman mengapa laki-laki harus andil dalam upaya pencegahan kekerasan ini, di antaranya:

Pertama, kekerasan adalah masalah sosial, bukan hanya masalah perempuan. Kekerasan terhadap perempuan berakar pada ketimpangan kekuasaan gender dan norma sosial patriarki yang merugikan seluruh masyarakat, bukan hanya korbannya. Meskipun mayoritas korban kekerasan adalah perempuan, laki-laki bisa menjadi korban kekerasan juga. Sehingga laki-laki itu sendiri perlu untuk memahami bagaimana pencegahan kekerasan tersebut.

Kedua, pelaku kekerasan terhadap perempuan umumnya adalah laki-laki. Cara pandang laki-laki tentang bagaimana melihat sosok perempuan menjadi hal yang perlu dikaji. Apakah laki-laki memandang perempuan sebagai subjek atau objek. Jika melihatnya sebagai objek, perempuan dinilai pasif dan dinilai lebih rendah dibanding laki-laki sehingga mudah saja untuk dikuasai.

Baca Juga  Perempuan dan Laki-Laki: Setara di Hadapan Tuhan

Berbeda jika laki-laki melihat perempuan sebagai subjek, tidak akan ada penguasaan terhadapnya di mana laki-laki dan perempuan equal. Namun, jika dilihat dari beberapa kasus khususnya kekerasan seksual, perempuan seolah dipandang sebagai objek yang bisa dikuasai tubuhnya. Sehingga laki-laki bisa dengan entengnya melecehkan dan menguasai tubuh perempuan.

Ketiga, laki-laki memegang peran kunci dalam norma sosial, baik sebagai ayah, pasangan, saudara laki-laki atau pemimpin masyarakat memiliki pengaruh besar dalam membentuk dan menantang norma sosial serta stereotip gender tradisional yang seringkali membenarkan atau menoleransi kekerasan.  Keterlibatan laki-laki bisa mengubah budaya diam /acuh dan menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Keempat, laki-laki sebagai sekutu dan pendidik. Laki-laki bisa menjadi sekutu untuk perempuan sekaligus mendidik laki- laki lain tentang kesetaraan gender. Mereka dapat memobilisasi komunitas laki-laki yang sulit dijangkau oleh aktivis perempuan saja.

Sebuah Upaya Membuka Mata: Aliansi Laki-Laki Baru dalam Mencegah terjadinya Kekerasan pada Perempuan.

Berbagai gerakan perempuan telah hadir sebagai upaya agar perempuan melek tentang isu keadilan gender dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Namun, berhubung tema kekerasan ini tidak hanya perempuan saja korbannya, laki-laki juga bisa menjadi korban. Maka, laki-laki perlu untuk memahami sejarah, bentuk kekerasan, sampai penyelesaian masalah kekerasan ini dengan ilmu pencegahan kekerasan berbasis gender. Upaya tersebut tidak bisa dilakukan oleh laki-laki secara individual saja, melainkan secara kolektif dengan membangun komunitas atau gerakan yang solid untuk kesadaran yang lebih masif dan terarah.

Aliansi Laki-laki Baru (ALB) menjadi salah satu gerakan laki-laki di Indonesia yang secara massif menyebarkan edukasi tentang pencegahan kekerasan berbasis gender ini. Aliansi Laki-laki Baru tidak berdiri sendiri, gerakan ini merupakan bagian integral dari gerakan perempuan. Dengan berjejaring dan berkelompok, tujuan untuk mencapai keadilan gender dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan akan lebih mudah tercapai.

Baca Juga  Apakah Laki-Laki Dapat Terlibat dalam Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan?

Berbagai edukasi ALB bisa kita lihat di website juga instagram @lakilakibaru. Melalui websitenya, kita bisa membaca berbagai artikel tentang bagaimana laki-laki melawan nilai tradisional yang patriarkis. Selain melalui website, ALB aktif bermedia sosial khususnya instagram di mana banyak edukasi yang tertuang dalam bentuk short video, reels, podcast, carousel, dan instagram story. Tema nya beragam, dari kesetaraan di ranah personal hingga kesetaraan di ranah publik. Kontennya kritis dikemas dengan narasi yang ringan sehingga mudah dipahami oleh seluruh kalangan masyarakat.

Terakhir, mengutip semangat Veven Sp Wardana, pengamat media dan laki-laki feminis “karena peminggiran kelas sosial-perempuan itu adalah kesalahan sejarah bersama, maka pemerdekaan atasnya merupakan persoalan semesta”. Kata-kata ini menggambarkan bahwa permasalahan perempuan ini permasalahan kita semua. Sekaligus berharap agar lahir komunitas-komunitas seperti Aliansi Laki-laki Baru agar semakin masif menyebarluaskan visi misi gerakan yang menolak kekerasan berbasis gender khususnya kepada laki-laki.

Gerakan laki-laki baru sedang membangun definisi baru tentang maskulinitas sehat di mana laki-laki dan perempuan berada dalam kesetaraan relasi. Membangun maskulinitas sehat untuk laki-laki berarti mengajarkan empati, tanggung jawab, kontrol dirihttps://suaraaisyiyah.id/teruntuk-diri-sendiri/, dan penghormatan pada orang lain, sembari melepaskan budaya dominasi, kekerasan, dan tekanan untuk selalu menjadi “super kuat”.

Bagikan
Post a Comment