f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gen z

Gen Z Mengembangkan Cara Pola Asuh pada Anak

Gen Z adalah kelompok yang sudah melek teknologi, mampu menjangkau informasi, kreatif, dan inovatif. Adanya perkembangan informasi yang mereka nikmati malah menjadi stigma bahwa mereka adalah kaum muda yang lemah dan manja. Stigma lain yang melekat pada Gen Z adalah malas dan tidak banting. Padahal mereka punya cara lain menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien. Bias negatif ini muncul karena perbedaan cara pandang dan pengalaman hidup antara generasi sebelumnya dengan generasi kita. Orang tua dan orang tua kita tumbuh di zaman yang berbeda di mana teknologi belum secanggih sekarang. Mereka mungkin tidak sepenuhnya memahami cara kita bekerja dan berpikir.

Gen Z Menjadi Orang Tua

Gen Z menjadi orang tua. Terkadang pernyataan ini mendapatkan underistimate dari generasi sebelumnya. mereka pikir apakah bisa seorang anak yang masih labil mengasuh dan mendidik anak kecil? Bagaimana jika anak dari Gen Z tidak terurus? Bagaimana jika anak dari Gen Z tidak sopan? itu merupakan pertanyaan terlintas oleh generasi sebelumnya.

Faktanya usia kehamilan para perempuan Indonesia rata-rata pada usia 25 tahun ke bawah. Kementerian Kesehatan telah melakukan survei yang menyatakan bahwa 94,8 persen dari  responden perempuan berusia 10-54 tahun pernah mengalami kehamilan. Dari persentase tersebut tercatat 46,8 persen menyatakan mengalami kehamilan pertama pada usia 20-24 tahun. Selanjutnya 25,8 persen mengaku mengalami kehamilan pertama pada usia 15-19 tahun. Fakta lain mengatakan bahwa sebanyak 0,9 persen mengalami kehamilan pertama kali pada usia 10-14 tahun. Kesimpulan dari data tersebut adalah para orang tua berasal dari Gen Z.

IDN Times telah melakukan survei mengenai pandangan Gen Z memilih childfree atau lebih memilih memiliki anak. Mereka melakukan suvei pada tahun 2023. Hasil dari survei tersebut adalah mayotitas responden memilih untuk memiliki anak. Mereka menganggap memiliki anak merupakan hal penting dalam pernikahan. Para Gen Z mengatakan memiliki anak adalah pegalaman yang luar biasa dan memberikan kebahagiaan.

Baca Juga  Merawat Kebersamaan Keluarga dengan Literasi Al Qur’an
Hubungan Antara Oran Tua dan Anak Harus Saling Melengkapi

Gen Z mengaku menjadi orang tua adalah identitas baru bagi mereka. Oleh karena itu, mereka mencoba untuk meningkatkan kepribadian yang sudah dan menanggap fase ini adalah fase tambahan bagi kehidupan mereka sebelumnya. Pola asuh dari Gen Z tidak ada istilah “saya” untuk menyebut dirinya sebagai orang tua. Penggunaan kata “saya” menunjukkan adanya relasi kuasa dalam keluarga. Alih-alih menggunakan “saya” mereka lebih suka menggunakan kata “kita” untuk kata ganti sehari-hari. Penggunaan kata ini memiliki kesan satu dan saling memiliki.

Gen Z ingin menempatkan dirinya menjadi pendengar, penasihat, dan pengingat jika anak melakukan kesalahan. Pola asuh mereka mengedepankan interaksi dan komunikasi untuk membentuk hubungan yang harmonis. Adanya komunikasi yang terbuka menjadikan anak lebih terbuka. Anak merasa tidak terhakimi, mendapat kasih sayang karena komunikasi terjadi secara dua arah. Orang tua mendengarkan sedangkan anak menerima ataupun memberikan pendapat mereka sendiri, begitupun sebaliknya.

Metode Gentle Parenting

Gentle parenting adalah pola asuh anak yang memiliki fokus untuk membangun hubungan positif melali perhatian, koneksi dan kolaborasi. Orang tua tidak boleh memaksa anak untuk melakukan kebaikan karena adanya hukuman dan hadiah. Namun orang tua dan anak lebih mengutamakan bagaimana mencari solusi bersama. Tujuan dari model pola asuh ini untuk  membentuk kesadaran anak akan perilaku dan dampaknya terhadap orang lain serta membangun hubungan saling percaya.

Orang tua ingin memberikan pengertian pada anaknya mengenai realitas dunia dan bagaimana cara menghadapinya. Maka dari itu supaya efektif orang tua harus menjauhkan pola asuh yang masih mengintimidasi. Mereka bisa mengubahnya dengan memberikan pengertian sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Selain itu hindari disiplin fisik seperti orang tua zaman dahulu.

Baca Juga  Perbincangan Childfree dan Keterkaitannya dengan Isu Gender
Gen Z Lebih Memercayai Naluri Mereka Sendiri

Gen Z percaya bahwa apa yang mereka lakukan akan berpengaruh pada perilaku anak. Maka banyak dari mereka memutuskan untuk melakukan apa yang mereka rasa baik untuk anak mereka. Bahkan tidak jarang membantah saran dari keluarga atau dokter. Hal ini berkesinambungan dengan Gen Z yang terlatih untuk melihat sesuatu dengan kritis. Mereka sudah terbiasa untuk mengkritisi isi konten dari sosial media maupun media massa.

Masing-masing orang tua memiliki sudut padang berbeda. Pengaruhnya bisa berasalah dari budaya tempat tinggal mereka. Intitutive Parenting adalah nama lain dari pola asuh anak berdasarkan naluri orang tua. Metode ini cukup efektif untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, emosi, dan meningkatkan kepercayaan diri pada anak. Berdasarkan artikel dari wildmotherlife.com pengasuhan naluri ini bertumpu pada prioritas hubungan anak dan orang tua. Orang tua harus memahami apa yang anak butuhkan sehingga orang tua lebih peka terhadap anaknya. Tujuan dari pola asuh ini adalah mengembangkan kecerdasan berdasarkan usia anak.

Bagikan
Post a Comment