f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
israel palestina

Israel dan Palestina: Antara Agama, Kemanusiaan, dan Keberpihakan

Tragedi kemanusiaan (Israel vs Palestina) terjadi lagi, mulai pada 07 Oktober 2023, yaitu serangan oleh Organisasi Militer Hamas berhasil menghancurkan beberapa Gedung di kota-kota Israel. Serangan yang “Operasi Badai Al Aqsa” meluncurkan 5.000 roket ke arah Israel. Alhasil, kehancuran tidak dapat terhindarkan dan menjadikan serangan yang paling mematikan sejak konflik antara Mesir dan Suriah dalam perang Yom Kippur 50 tahun lalu.

Berbagai respon yang terjadi dalam konflik tersebut beragam, dari yang mengatakan bahwa ini adalah konflik agama, kemanusiaan, menjanjikan tanah, dan sebagainya. Sehingga pada momen masyarakat Indonesia menunggu respon ketiga bacapres dalam menanggapi konflik tersebut. Akhirnya, konflik ini akan terpengaruh oleh beberapa kepentingan yang akan merusak sebuah momentum empati dalam sejarah kemanusiaan khususnya di Indonesia.

Tulisan ini tidak akan membahas siapa yang salah dan benar, tetapi apa yang ingin penulis sampaikan adalah bagaimana kita merespons hal itu. Robert N. Entman (1993) dalam salah satu teori framing-nya yaitu Diagnose Causes yaitu membungkus penyebab konflik–Israel dan Palestina– dari sebuah kejadian, menyebabkan masyarakat kita (khususnya Indonesia) seakan-akan paling mengetahui konflik di daerah tersebut.

Konflik yang Berkepanjangan

Tidak kita memungkiri bahwa konflik kemanusiaan selalu terjadi dari negara-negara Arab atau sebutan A.T. Mahan adalah negara timur tengah. Bahkan dalam riwayat hadis pun menjelaskan bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang sangat mudah diadu domba.

Konflik-konflik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini merupakan bukti konkret bagaimana Nabi Muhammad menggambarkan karakter bangsa Arab di masa lalu dan sekarang.

Konflik Israel dan Palestina pastinya akan berakhir, tapi kita tidak tahu kapan. Sebagai umat Islam kita hanya bisa mendoakan yang terbaik atas masalah yang terjadi antar dua negara tersebut. Selama kita tidak mengetahui akar permasalahan yang terjadi, sebaiknya jangan terlalu gegabah dalam berkomentar mengenai konflik tersebut.

Baca Juga  Menilai Para Pemimpin di Tengah Bencana

Fakhruddin (2019) dalam Jurnalnya “Deklarasi Balfour: Awal Mula Konflik Israel Palestina” menuliskan dengan adanya deklarasi tersebut, sudah 100 tahun lebih konflik ini terjadi. Walaupun deklarasi ini merupakan awal mula permasalahan Israel dan Palestina, bukan berarti kita semena-mena dalam memihak yang paling benar. Tetapi yang harus kita yakini adalah bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Kemanusiaan di atas Segalanya

Mengutip perkataan Ziauddin Sardar, bahwa tidak perlu belajar bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi di bangsa Arab saat ini, bahwa bangsa Arab yang berbahasa asli Arab justru malah menyelewengkan makna Qur’an itu sesuai kepentingan masing-masing.

Wicaksono (2017) dalam tulisannya menuliskan bahwa Buya Syafii juga turut berkomentar mengenai hal ini, “Tentu orang Arab fasih berbahasa Arab dan mereka bisa menghafal Al-Qur’an dengan mudah. Tetapi, apakah mereka betul-betul memahami makna sebenarnya dari isi Al-Qur’an? Berbagai tragedi yang terjadi di Negara Arab, semakin menyadarkan kita bahwa kiblat untuk memahami Islam saat ini bukan di Arab.

Buya juga menuturkan untuk menghindari Misguided Arabism (Arabisme yang tak terkendali). Singkatnya adalah Umat Islam bertanggungjawab untuk bersikap kritis dalam melihat Arab dan produk kebudayaannya. Sehingga umat Islam bisa melihat ajaran Islam tanpa melihat Arab di belakangnya. Semacam objektifikasi yang ditawarkan oleh Kuntowijoyo.

Peristiwa yang terjadi di negara-negara Arab menjadikan sisi kemanusiaan yang harusnya menjadi prioritas dalam Islam perlahan menjadi pudar. Kepentingan masing-masing golongan menjadi penyebabnya.

Jika pada akhirnya gagasan kemanusiaan berhasil terlaksanakan , maka konflik-konflik yang terjadi di negara Arab akan pudar seiring berjalannya waktu. Hal ini merupakan cita-cita Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin.

Kiamat Merupakan Hak Prerogatif Tuhan

Momen tragedi antara Israel dan Palestina, beberapa tokoh agama menggunakan otoritasnya yang terkesan menakuti umat dengan mengatakan, “Kiamat sudah dekat” sehingga ada rasa ketakutan bagi sebagian umat Islam atas terjadinya konflik Israel dan Palestina. Hal yang sangat keliru jika tragedi tersebut menjadi dalih bagi tokoh agama untuk menakuti umatnya.

Baca Juga  Belenggu Patriarki dalam Pendidikan Kita

Konflik Israel dan Palestina bukan satu-satunya, banyak hal lain seperti bumi Arab menghijau, sungai Eufrat mengering, dan lain sebagainya. Menjadikan seakan-akan fenomena tersebut merupakan tanda-tanda kiamat secara real. Apakah dengan terjadinya fenomena seperti bumi arab menghijau tidak ada fakta ilmiahnya?

Dalam hal ini, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah sudah menjelaskan , bahwa fenomena ini, berdasarkan kacamata burhani. Ada kemungkinan curah hujan yang tinggi dalam durasi yang panjang menjadi penyebab utama tumbuhnya vegetasi.

Jika pada akhirnya fenomena alam yang berkaitan dengan kiamat mendapatkan penjelasan secara ilmiah, bagaimana dengan fenomena kemanusiaan? Potensi besar untuk menggaungkan perdamaian sangat memungkinkan, karena hal tersebut masih dalam ranah Mu’amalah.

Alangkah baiknya kita telaah terlebih dahulu hal-hal yang bersifat rasional dengan melihat historisnya, diplomasinya, serta usaha-usaha apa yang sudah terlaksana dalam menghasilkan perdamaian dalam konflik ini.

Jika semua hal yang ada di dunia ini menjadi berkaitan dengan hari akhir, maka fenomena hujan buatan di Indonesia pun akan menjadi terkait dengan kiamat juga. Bijaksanalah dalam berpikir, sehingga hal-hal yang harusnya bisa menjadi rasional malah menjadi emosional jika tidak ada kebijaksanaan dalam menggunakan agama, kemanusiaan, dan keberpihakan.

Editor: Muhafizah el-Feyza

Bagikan
Post a Comment