Peran Orang Tua dalam Antisipasi Kekerasan Seksual pada Anak
Membaca atau mendengar mengenai hal-hal yang berbau kekerasan, tentu bukan lagi sesuatu yang asing dalam lingkungan masyarakat. Kekerasan dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Entah karena terdapat niat dan rencana dari pelaku atau kesempatan yang mendukung terjadinya suatu kekerasan. Jenis-jenis kekerasan yang dikenal secara umum oleh masyarakat di antaranyanya dalam berbentuk kekerasan fisik, psikologis, dan seksual.
Data Kasus Kekerasan
Saat ini yang perlu menjadi sorotan adalah kekerasan terhadap anak-anak menjadi berita utama dan justru melonjak setiap tahunnya. Berdasarkan data di Republika, Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA memaparkan pada 2019 total jumlah kasus kekerasan terhadap anak tercatat 11.057 kasus. Pada 2020 kasus meningkat 221 kasus sehingga total menjadi 11.278. Kenaikan signifikan terjadi pada 2021, yakni mencapai 14.517 kasus. Kenaikan signifikan berikutnya terjadi pada 2022 yang mencapai 16.106 kasus.
Dari sekian banyak data kasus yang masuk, kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak mendominasi sekitar 9.588 kasus. Kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kekerasan yang mengharuskan anak terlibat dalam kegiatan yang berbau seksual, seperti halnya pelecehan seksual. Herannya, kasus kekerasan seksual yang marak terjadi yaitu di lingkungan rumah atau keluarga anak dan lingkungan anak-anak menuntut ilmu formal/non-formal. Tentu kita sering mendengar berita tentang orang tua atau salah satu anggota keluarga yang berani melecehkan anaknya sendiri.
Beberapa kasus berita yang viral akhir-akhir ini adalah kasus berita seorang ayah yang menghamili anaknya sendiri dan membuang bayi anaknya karena terlahir cacat di pinggir jalan di Jalan Raya Pontang-Tirtayasa, Kabupaten Serang. Kemudian beberapa hari ini kita juga dikejutkan kembali oleh berita tentang kasus pelecehan seksual yang sengaja dilakukan oleh oknum yang disebut ustaz di wilayah beberapa pondok pesantren, Indonesia.
Tanda-tanda Anak Mengalami Kekerasan Seksual
Dari data yang telah penulis paparkan sebelumnya, tentu menjadikan orang tua semakin mawas diri dalam menjaga putra-putri tercintanya. Kekerasan seksual yang terjadi atau sudah dialami oleh anak tentu akan memiliki dampak yang besar bagi kehidupan masa depan anak. Entah itu berdampak pada kesehatan fisik atau mental anak sejak dini. Hal itu juga akan memberikan pengaruh terhadap pembentukan karakter dan pola pikir mereka ketika menuju dewasa.
Sebagai orang tua kita harus memahami tanda-tanda apa saja yang akan muncul sebelum terjadinya kekerasan seksual pada anak. Hal ini perlu menjadi perhatian orang tua sebagai bentuk upaya mencegah terjadinya kekerasan seksual. Tanda-tanda yang harus orang tua waspadai adalah ketika terjadi perilaku yang berubah secara signifikan. Salah satu tandanya yaitu anak menarik diri atau mengisolasi dirinya sendiri dari kehidupan sosial, menjadi lebih diam dari biasanya, tertutup ke orang yang biasa dekat dengannya, merasa takut dan cemas, menghindar ketika bertemu dengan seseorang yang ‘diduga’ melecehkannya, serta terjadi perubahan fisik dari hari ke hari.
Setelah memahami berbagai tanda yang ada. Sebagai orang tua kita juga perlu melakukan upaya pencegahan sejak dini.
Pencegahan Kekerasan Seksual
Beberapa cara efektif untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual, di antaranya:
Pertama, mengedukasi anak tentang privasi dan batasan sejak dini. Yakni tentang batasan aurat yang boleh tampak dan tidak tampak di depan orang serta batasan bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh orang lain sentuh pada diri mereka, baik oleh mahram atau non-mahram mereka.
Kedua, mengajarkan sex education. Yakni memberitahu anak mengenai hal yang baik dan buruk dari seks dan kapan waktunya. Tentu hal ini juga harus menyesuaikan dengan batasan-batasan usia anak kala itu.
Ketiga, menjaga dan memberikan pengawasan yang baik dan cermat pada anak, tentang pergaulannya di rumah dan di luar rumah dan juga tentang dunia media sosial yang mereka akses atau gunakan setiap harinya.
Terakhir, menjaga hubungan yang baik dengan anak. Tidak hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai teman yang baik sehingga anak bisa mempercayai kedua orang tua sebagai tempat cerita atau mengadu. Dengan menjaga komunikasi, menjadi pendengar yang baik bagi anak dengan saling bertukar cerita tentang keseharian mereka. Hal ini tentu menjadi kunci utama untuk membangun kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan bagi anak sehingga dia tak segan atau bahkan takut pada orang tua mereka sendiri untuk mendiskusikan atau menceritakan masalah apapun yang sedang mereka alami. Oleh karena itu anak-anak akan menjadikan orang tuanya sebagai tempat curhat yang mereka percayai daripada curhat kepada teman-temannya.
Jika mendapati anak-anak sudah melewati masa kekerasan seksual, orang tua bisa melakukan beberapa hal untuk membantu anak-anak pulih dari pengalaman pahit tersebut. Salah satunya adalah menjadi support system terbaik anak-anak mereka. Tetap berada di dekatmya, memberikan dukungan, dan energi positif pada anak-anak untuk melewati hal buruk yang menimpanya. Anak-anak yang pernah mengalami kekerasan seksual adalah suatu hal yang tidak pernah mereka inginkan dalam hidupnya. Keluarga terutama orang tua adalah rumah, tempat anak-anak kembali dengan berbagai pelukan hangat agar anak-anak merasa aman dan nyaman untuk pulang serta merasa terlindungi dari kejamnya kejahatan di dunia luar. Bukan justru menjadi tempat yang sebaliknya.
Media sosial : @ptr_ambar97/Putri Ambarwati (pAw).

Kenaya Diandra Devi
Peran orang tua untuk tumbuh kembang anak tercinta nya sangat lah penting. Terutama Peran Orang Tua dalam Antisipasi Kekerasan Seksual pada Anak.
Orang tua merupakan support system utama untuk para anak-anak nya kapanpun dan dimanapun.