f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penulis buku

Dua Penulis Pembakar Semangat

Meskipun terlahir bukan dari keluarga pecinta buku, dan dilahirkan di negara yang kurang menyukai dunia buku, saya yakin setiap dari kita kemungkinan besar memiliki buku favoritnya dalam hidup. Ada ragam alasan mengapa seseorang menyukai sebuah buku dan menjadikannya menjadi semacam ”kitab suci” yang selalu dibaca berulang-ulang. Pada halaman tertentu, buku itu selalu dibuka, dihayati, hingga hafal di dalam otak kepala. Di sini, ada yang menyukai sebuah buku karena berawal dari cerita antar teman, kepopuleran sebuah buku, ataupun karena isi dari buku tersebut.

Setelah menyukai buku, seseorang biasanya akan berlanjut menelusuri rekam jejak penulisnya. Mulai dari latarbelakang kehidupan, alasan mengapa ia menjadi seorang penulis, hingga latarbelakang mengapa ia menulis buku. Hal ini akan berlanjut kepada proses untuk meniru menjadi seperti penulis favoritnya. Jikalaupun tidak bisa meniru dan ataupun mengikuti jejaknya, minimal orang akan memiliki semangat hidup dalam bidang tertentu untuk tak menyerah menghadapi situasi yang membuatnya buntu, terjebak dalam situasi yang tak mengenakan. Yang paling minimal lagi, hal itu sekedar mengamini apa yang terdapat dalam buku bacaan favoritnya tersebut.

Kondisi ini juga saya alami, di mana kecintaan terhadap buku seringkali membuat saya selalu menelusuri jejak rekam seorang penulis. Setelah mengetahui, saya akan memutuskan, apakah sekedar menyukai isi bukunya dengan menjadikannya sebagai pengetahuan ataukah juga menjadikan kisah perjalanan hidupnya sebagai upaya meniru dalam kehidupan saya. Terkait dengan dunia buku ini saya memiliki dua penulis favorit yang selalu jadi cermin inspirasi dan semangat dalam hidup, khususnya dalam dunia tulis-menulis, yaitu Muhidin M. Dahlan dan Nurkholik Ridwan. Selain karena produktifitas karya, saya menyukai kedua penulis ini karena ideologi perlawanannya yang diusung dalam menulis. Tentu saja, kedekatan saya dengan kedua orang tersebut turut mempengaruhi subyektivitas saya mengapa memilih mereka berdua. Memang, ada banyak penulis yang lebih produktif dan hebat dibandingkan mereka berdua. Bahkan, dari segi popularitas dan intelektual jauh melampaui. Sayangnya, hal itu tidak membuat saya bergeming untuk tetap menjadikan mereka berdua sebagai cermin inspirasi dan semangat.

Baca Juga  Ibu Penjual Pepaya, Ujian bagi Jiwa Sosial Kita
Muhidin M Dahlan

Perkenalan saya dengan Muhidin M Dahlan diawali dengan bukunya yang berjudul ”Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta”. Selain berisi mengenai pengalaman getir dan pahitnya dalam dunia penerbitan, dalam buku itu ia menceritakan bagaimana kegigihannya untuk hidup dengan dunia menulis dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai pekerjaan satu-satunya dalam hidupnya setelah mengeluarkan diri dari arena akademis jenjang strata satu di IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Negeri Yogyakarta yang sempat ditempuhnya. Karena menulis adalah satu-satunya sandaran hidup, ia berani menentang arus dengan menerbitkan sebuah buku, ”Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”.

Memang, buku itu yang melambungkan namanya dan buku itu menjadi mesin yang tak berhenti mencetak uang. Namun, ia harus membayarnya dengan amarah dan cacian bertubi-tubi. Khususnya dari para pengkhutbah agama yang berhak menafsirkan dan pimpinan Universitas Matahari Terbit yang menjadi latar belakang asal si tokoh perempuan tersebut. Amarah itu kemudian dijadikan energi oleh Muhidin dengan menerbitkan buku-buku yang menentang arus. Seperti ”Kabar Buruk dari Langit” dan ”Adam dan Hawa”.

Pertemuannya dengan Pramudya Ananta Toer di mana ia pernah menjadi editor di penerbit Lentera Dipantara membuatnya terobsesi untuk menerbitkan berjilid-jilid kronik mengenai Nusantara. Langkah itu dimulai dengan menerbitkan buku ”Lekra Tak Membakar Buku” bersama seorang sejahrawan perempuan dari Universitas Negeri Jakarta yang sempat disegel oleh Mahkamah Agung sebagai bacaan terlarang. Dari sini, perjumpaannya dengan dunia kiri dan aktivitasnya untuk menjadi seorang pengarsip membuatnya menjadi penekun kronik media-media Indonesia dengan membentuk komunitas Indonesia Buku bersama anak-anak muda dari ragam kampus di Yogyakarta.

Lagi-lagi, sejumlah pengalamannya itu tak membuatnya bergaya perlente layaknya penulis selebritis yang karya-karyanya laris manis dipasaran. Ia selalu bersahabat dengan siapa saja yang dikenal dan ataupun yang tak mengenalnya. Di tengah kumpulan orang banyak dalam satu acara, ia bahkan kerap hanya menjadi bagian di dalamnya ketimbang menjadi bintang. Memang tak ada yang bisa dipamerkan dengan tubuhnya yang ringkih. Tapi, keringkihan itu tak menutupi tulisan-tulisannya yang menusuk dan menentang kelaziman masyarakat atas apa yang dianggap tabu.

Baca Juga  Pembaca yang Kolot
Nurkholik Ridwan

Sementara, perkenalan saya dengan Nurkholik Ridwan diawali dengan sebuah bukunya yang berjudul ”Islam Borjuis dan Islam Proletar”. Buku ini memberikan kerangka baru dalam melihat kategori Islam di Indonesia dengan menelaah satu organisasi kemasyarakatan Islam yang terkenal di Indonesia. Di sini, ia menggunakan Marxisme sebagai kerangka analisis. Dan didukung teori-teori postrukturalis dan poskolonial yang pernah didapatkan dari hasil mengaji selama satu semester di Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Buku itu berkualitas dan berbobot.

Nurkholik, secara tidak langsung, mengajarkan saya bagaimana cara membaca fenomena organisasi kemasyarakatan yang bernafaskan agama dengan semangat borjuasi yang dimilikinya. Tidak berhenti di sini. Ia lalu melanjutkan proyeksi nalar agama borjuis dengan menelaah pemikiran Nurkholish Majid yang seakan menjadi dogma di kalangan pengaggumnya dengan menerbitkan, ”Pluralisme Borjuis, Kritik Atas Nalar Pluralisme Cak Nur”.  Ia juga menerbitkan buku-buku yang bernafaskan perlawanan terhadap kemapanan agama dan juga kritik terhadap kapitalisme dan Wahabi.

Pada titik ini, saya tak habis pikir dan terus bertanya. ”Semangat apa yang membuatnya begitu produktif untuk menuliskan buku dengan tema perlawanan atas kemapanan agama?”. Jika ia menuliskan buku-buku tersebut karena uang, hal itu rasanya tidak mungkin. Ini karena buku-buku bertemakan agama dan perlawanan semacam itu memiliki jumlah penggemar yang sangat sedikit di Indonesia, yaitu dunia akademik. Juga, dalam dunia akademik tidak semuanya menyukai karyanya ataupun menyukai tema semacam itu. Kalau untuk popularitas menaikkan karir kepenulisannnya, mengapa ia saat ini masih bersikukuh menetap di Yogyakarta dan bergelut di akar rumput?

Inilah keunikan seorang Nurkholik Ridwan. Ia menulis, sebagaimana diceritakan oleh orang terdekatnya, untuk memperjuangkan masyarakat bawah yang tertindas oleh gilasan kapitalisme dan keangkuhan atas nama intelektualitas dan tetap memposisikan diri untuk selalu berada dipinggiran. Ada banyak tawaran yang datang kepadanya. Salah satunya dari Martin Van Bruinessen, Sarjanawan pengkaji Islam Indonesia dari Belanda yang telah membimbing Doktor-Doktor ilmu sosial dari Indonesia. Nurkholik pernah ditawarkan untuk mendapatkan beasiswa di Belanda untuk menempuh sekolah Pascasarjana. Tapi ia tetap memilih Yogyakarta dan bergulat bersama anak-anak muda yang memiliki idealisme untuk memperjuangkan apa yang disebut ”keadilan”.

Baca Juga  Dari Tata Bahasa Indonesia hingga Mengulik Filosofi Kehidupan

Dengan demikian, dua sosok penulis itulah yang selalu membakar semangat saya untuk bekerja yang terkait dengan dunia tulis-menulis . Dua sosok itu pula yang menjadi inspirasi bagi saya untuk selalu memiliki keberpihakan dalam berpikir, berpendapat, dan menulis. Dua manusia itu pula yang membuat saya belajar bahwa kekayaan pengalaman dengan sejumlah karya yang dibuat tidak membuat seseorang makin membumbung tinggi. Melainkan makin berpijak dan menepak untuk bersama mereka yang terliyankan. Sungguh ini satu pelajaran yang berat dan tak mudah dipegang. Sebab, setiap diri manusia selalu ada sesuatu yang ingin dibagi, dilihat, dan dipertontonkan sebagai satu kenikmatan. Entah dengan cara apapun.

Bagikan
Post a Comment