f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kitab suci Al-Qur'an

Nyunggi Kitab Suci

Al-Qur’an. Tak ada tulisan handle with care di sampulnya. Tidak pula tertera simbol fragile,  gambar gelas dengan batang kaki yang ringkih. Ia bukan sesuatu yang gampang pecah dan harus di-bubble wrap lalu dilindungi packing kayu.

Kesucian, kemurnian dan keabadian Al-Qur’an telah digaransi oleh Allah Swt. dalam surah Al Hijr (15) ayat 9, ”Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan Kami pula yang menjaganya.”

Namun, sebagai muslim perasaan apa bergejolak dalam dada, mendengar ada yang menistakan Al-Qur’an dengan cara membakarnya. Seperti yang dilakukan Rasmus Paludan saat berunjuk rasa di luar Kedutaan Turkiye di Stockholm, Swedia. Ini bukan pula ulahnya yang pertama. Sehari kemudian, politikus Belanda juga merobek halaman Al Quran.

Sejak usia dini, anak-anak muslim dididik untuk membaca, belajar dan menghormati Al-Qur’an. Cara membawa Al-Qur’an pun musti penuh adab dengan mendekap di depan dada. Tentu, sebelum jari-jari kontak dengan Al-Quran, harus disucikan dengan berwudu.

Jangankan mendengar berita Al-Qur’an dihina sedemikian rupa. Saya mengingat jelas, dalam sirkel teman-teman ngaji, tatkala seorang tak sengaja mengalami insiden menjatuhkan Al Quran, si pelaku wajib “nyunggi Al-Qur’an”.

Nyunggi dalam bahasa Jawa, artinya menjunjung dan meletakkan benda di atas kepala. Nyunggi Al-Qur’an adalah tradisi meminta ampunan kepada Tuhan atas keteledoran saat membawa Al-Qur’an, dengan meletakkannya di atas kepala.

Tradisi nyunggi Al-Quran juga semacam “hukuman sosial”.  Kesalahan tak sengaja sekalipun, jika terkait dengan kitab suci mendapatkan treatment. Tradisi nyunggi kitab suci ini, kiranya tak dimonopoli oleh masyarakat tempat saya tinggal.

Bagi umat muslim Al-Qur’an adalah penampakan wajah Tuhan (teofani). Memperlakukan kitab suci dengan sembarangan bisa diartikan menampar wajah Tuhan.

Kontras dengan tradisi nyunggi Al-Quran ini, pada masa kecil, saya pernah mendapat “perintah aneh” dari ayah saya. Tugas untuk membantu membakar mushaf Al-Qur’an. Kisah ini bermula saat menyaksikan ayah saya, –saya memanggilnya Abah– tengah membakar mushaf Al-Qur’an.

Tidak seperti saat membakar daun-daun kering di tempat sampah, Abah melakukannya di balik tembok yang tersembunyi, tak terlihat orang lewat, kecuali oleh kami : Abah, saya dan kakak saya.

“Pastikan terbakar semua, jangan sampai ada satu centimeter pun kertasnya tertinggal. Pastikan tak ada satu huruf tersisa. Dan jangan lupa baca basmallah”, demikian pesan Abah saya. Sebagai bocah 9 tahun saat itu, melihat abu legam bekas kertas yang hangus, benak saya bergejolak. Bagaimana mungkin membakar kitab suci, sedangkan menjatuhkan tanpa sengaja saja, harus melewati ritual nyunggi kitab suci?

Baca Juga  Mewujudkan Konsep Masyarakat Madani

Di era lambe turah ini, bayangkan seandainya diam – diam ada tetangga atau penyusup yang merekam menggunakan drone. Lalu di-youtube-kan, dibubuhi micin penyedap berupa narasi ini-itu tentang penistaan kitab suci yang provokatif.

Kebetulan saja, keluarga kami adalah pengelola sebuah madrasah. Di depan rumah berdiri musala. Selain dua tempat itu, rumah kami juga menjadi tempat mengaji bagi anak-anak, remaja bahkan para ibu-ibu.

Saat itu ada puluhan mushaf Al Quran yang sudah tak layak lagi untuk dibaca, sebagian besar karena usia dan dimakan rayap. Tiap kali anak-anak mengkhatamkan ngajinya, mereka mewariskan mushaf Al-Quran yang kian banyak di madrasah, musala atau rumah kami.

Sebagai anak kecil, terpatri pertanyaan di benak saya: kalau Al-Qur’an adalah mukjizat mengapa bisa hancur dimakan rayap? Kalau kertas-kertas bertuliskan teks ayat-ayat Al-Qur’an sudah rusak, tak utuh lagi, cara apa yang paling tepat selain dibakar?

Itulah “pelajaran besar” dalam pengalaman masa kecil saya tentang pertarungan antara kesakralan kitab suci yang tak bisa ditawar-tawar. Namun, realitas wujud fisiknya adalah himpunan kertas-kertas. Bahan kertas mungkin tak beda dengan kertas untuk komik biasa.

Semangat yang Menjebak

Jadi, kecintaan kita pada kitab suci telah diajarkan sejak usia dini. Melalui baca tulis Al Quran. Juga melalui adab dan tradisi untuk mencintai dan menjunjung tinggi kitab suci.   

Sayangnya, semangat ini kadang tak selaras dengan hakikat memfungsikan Al Quran. Quraish Shihab dalam Lentera Al-Quran menyampaikan bahwa fungsi Al-Qur’an untuk muslim saat ini tak tepat dikatakan sebagai mukjizat lagi. Dalam pengertian, Al-Qur’an sebagai mukjizat hanya untuk yang meragukannya sebagai firman Allah.

Selain itu, semangat hebat tak jarang teks-teks Al-Qur’an juga diperankan sebagai azimat. Dalam beberapa kasus, pelaku terorisme berbekal azimat berupa kutipan ayat-ayat suci. Dalam keseharian kita kerap stiker berupa teks ayat-ayat suci di kaca mobil, yang berlawanan dengan cara mengendarainya yang ugal-ugalan.

Baca Juga  Bibit Pertumbuhan Hukum Islam

Kita perlu waspada pula terhadap jebakan lain. Api semangat yang menyala-nyala membuat kita mencari-cari ayat-ayat Al-Qur’an yang dipaksa selaras dengan inovasi modern bahkan ingin membuktikan Al-Qur’an mendahului penemuan sains. Dengan sedikit ekstrim Quraish Shihab menyebutnya hal ini seperti “memperkosa” Al-Qur’an.

Kita terpancing dalam jebakan otak kiri, memperlakukannya dengan nalar dan rasio. Tak heran ada kritik tentang  bahwa kita terjebak dan sibuk dengan ayat-ayat semesta tentang sains penciptaan dan pergantian siang malam atau pergerakan matahari dan bulan, termasuk kekaguman terhadap teori embriologi berupa proses pembentukan janin. Secara tak sadar, hal ini dapat menjebak kita mengecilkan peran dan menyempitkan pesan Al-Quran.

Menyelamatkan

Karenanya,  Karen Armstrong menawarkan agar memperlakukan sesuai dengan “genre”nya. Al-Qur’an bukan buku sains dan tak harus diperlakukan sebagaimana kita memahami sains.

Kitab suci harus diperlakukan dengan konteks ritual. Merenungi kitab suci harus dengan sikap penghormatan, ketakziman dan ketakjuban. Sebagaimana proses Umar bin Khattab mendapatkan hidayah Islam karena bergetar mendengar ayat-ayat Al-Qur’an.  

Dalam dimensi moral terdapat seruan untuk berlaku altruistik dan welas asih. Al Quran memberi umat Islam misi ilahiah untuk menciptakan masyarakat yang adil dan diperlakukan secara terhormat. Daripada sibuk mengklaim bahwa ayat-ayat suci lebih dahulu dibanding penemuan sains, alangkah hebatnya jika ayat-ayat yang berkaitan dengan lingkungan dan semesta tersebut sebagai pesan-pesan kesakralan alam.

Dengan kata lain janganlah seakan-akan menyelamatkan, tetapi tidak sadar atau tak sengaja justru sedang menjatuhkan. Menyelamatkan kitab suci menurut Karen Amstrong dalam The Lost Art of Scripture tidak dilakukan dengan sudut pandang selalu kiri, logis, matematis, rasional dan analitis.

Karen Amstrong memandang perlu ‘menyelamatkan teks-teks suci’ dari interpretasi yang berlebihan secara logis dan rasional. Caranya dengan menjelajahi kembali kitab suci dan menemukan kembali seni yang hilang untuk terlibat dengannya dengan cara yang relevan, penuh kasih, dan kreatif.

Menegaskan Potensi Kebaikan

Tradisi nyunggi kitab suci adalah sebuah tradisi yang mendidik anak-anak untuk menjunjung kitab suci. Sebagai kitab suci maka Al-Qur’an tak bisa diperlakukan semata-mata dengan rasio.

Pada saat ini tanggung jawab moral manusia adalah menyelamatkan kitab suci dengan menegaskan potensi kebaikan umat manusia. Itulah pendekatan untuk melihat, membaca, mengartikan, memaknai kitab suci, tak semata-mata memperlakukannya atau menuntutnya sebagai teks suci yang logis dan rasional.

Baca Juga  Ketika Al-Qur’an Mengajak Perempuan untuk Berpendidikan Tinggi

Ini membutuhkan kecerdasan untuk menjaga kesucian kitab suci. Tak cukup dengan otak kanan semata atau dengan argumen otak kiri semata.

Marah mendengar Al-Qur’an dibakar memang memantik semangat pembelaan. Ketika hal itu terjadi di negeri yang menuhankan kebebasan berpendapat dan berekspresi ala Swedia dan Denmark. Memancing kebencian adalah tujuan para pelaku penistaan tersebut.

Sepanjang aksi protes kita atas penistaan itu dilakukan dengan cara-cara menghindari konflik dan kekerasan tentu saja itu penting. Namun, bagi kita yang tampaknya sulit untuk terlibat langsung bersuara atau bereaksi dengan tepat kepada para pelaku politik kebencian ini tampaknya kita dapat berkaca pada tradisi ritual nyunggi kitab suci.

Ini dilakukan dengan memaknai ulang tradisi masa kecil nyunggi kitab suci. Refleksi atas pengalaman masa kecil dan tradisi yang mengagungkan kitab suci membawa kita pada introspeksi dan pengakuan. Perilaku kita sendiri secara tak sadar kadang “menjatuhkan” kitab sucinya sendiri. Dalam arti, tidak memfungsikan Al-Qur’an sebagaimana mestinya. Saat ini terasa jarak (gap) yang semakin menjauh antara nyunggi kitab suci dengan praktik menegaskan potensi kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Amarah yang membuncah ketika mendengar Al-Qur’an dibakar janganlah sampai melupakan emosi lain. Emosi seperti saat waktu anak-anak menjatuhkan kitab suci ke lantai tanpa sengaja. Yaitu rasa bersalah dan rasa berdosa. Tetapi dengan makna baru, karena kita nyata-nyata kita belum memfungsikan pesan-pesan Al-Quran. Rasa marah yang menggumpal di dada ini akan elok jika dikonversikan kepada semangat pembuktian untuk merealisasikan pesan utamanya yaitu keadilan dan kesetaraan. Kitab suci memang menjadi pengingat (dzikr) terus menerus apa yang harus dilakukan manusia.

Bagikan
Post a Comment