Konsep Gizi Seimbang dalam Al-Qur’an
Gizi adalah salah satu ilmu bidang kesehatan yang diatur dalam Qur’an. Islam sangat memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan makanan. Allah Swt. sangat mementingkan masalah makanan bagi makhluk hidup-Nya. Pedoman Gizi Seimbang adalah pedoman yang telah disusun sesuai dengan rekomendasi keputusan Kongres Gizi Internasional di Roma. Pedoman Gizi Seimbang (PGS) adalah susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tubuh. Hal tersebut dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur.
Ternyata, Al-Qur’an sudah terlebih dahulu mengkaji konsep gizi seimbang sebagai panduan konsumsi makan yang baik. Di dalamnya, Al-Qur’an menjelaskan berbagai jenis kelompok pangan yang dapat manusia konsumsi untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh. Fungsinya agar tubuh dapat bergerak, bertumbuh, dan berkembang. Salah satu pilar pedoman gizi seimbang yaitu mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Tubuh membutuhkan zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral agar dapat bergerak, bertumbuh, berkembang, dan menunjang kesehatannya. Namun, tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi bagi tubuh, kecuali Air Susu Ibu (ASI). Cara menerapkannya yaitu mengonsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan.
Pertama, makanan pokok seperti biji-bijian dan gandum termasuk kelompok pangan serealia mengandung karbohidrat yang berperan sebagai sumber energi di dalam tubuh. Perintah di dalam Al-Qur’an untuk mengonsumsi makanan pokok terdapat di dalam Surat Yasin ayat 33 : “Suatu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka, tanah yang sudah mati, kami menghidupkannya dan kami keluarkan biji-bijian dari tanah tersebut, maka dari biji-bijian itu mereka makan”. Selain itu juga terdapat Surat Abasa ayat 27: “Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu”.
Kedua, konsumsi lauk pauk seperti daging, ikan, seafood, telur, susu dan olahannya, termasuk kelompok pangan sumber protein yang berperan sebagai zat pembangun. Perintah mengonsumsi lauk pauk seperti daging, ikan atau seafood Allah jelaskan di dalam Surat An-Nahl ayat 14 : “Dan Dialah, Allah yang menundukan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya”. Dan dalam Surat Al-Mu’min ayat 79 : “Allah yang menjadikan hewan-hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan.”
Sementara, susu termaktub dalam surah An-Nahl ayat 66: “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya”.
Ketiga, Al-Qur’an meminta untuk mengonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan rempah untuk memenuhi vitamin dan mineral yang manusia butuhkan untuk melawan radikal bebas di dalam tubuh. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah ayat 61: “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah”. Selain itu terdapat pula dalam Surat Al-Mu’minun ayat 19: “Lalu dengan (air) itu, Kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur. Di sana kamu memperoleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari (buah-buahan) itu kamu makan.”
Adapun jenis buah-buahan yang terdapat di dalam Al-Qur’an yaitu buah pisang (QS Al Waqiah : 29), buah anggur (QS Al-Mu’minun : 19), buah delima (QS Al An’am : 141), buah zaitun (QS An-Nahl : 11), buah Tin (QS surah At-Tin : 1), buah kurma (QS Maryam : 25-26).
Keempat, Allah juga memerintahkan umatnya untuk tidak makan secara berlebihan. Hal ini sesuai dengan surah Al-A’raf ayat 31: “Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Proporsi makanan yang sesuai dan seimbang, serta dalam jumlah yang cukup juga dijelaskan dalam konsep gizi seimbang.
Berdasarkan hasil penelitian riset kesehatan dasar (2018) menunjukkan bahwa 95,4% konsumsi sayuran dan buah-buahan penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas masih di bawah anjuran dan sebesar 46,6 % anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam. Penduduk Indonesia pada usia dewasa >18 tahun yang mengalami gizi lebih sebesar 13,6% dan obesitas sebesar 21,8%. Gizi yang tidak optimal akan meningkatkan risiko penyakit infeksi dan penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, dan lain-lain.
Pola dan kebiasaan makan merupakan faktor utama yang memengaruhi gizi dan derajat kesehatan seseorang. Oleh karena itu, pengetahuan, sikap dan praktik tentang gizi seimbang masih perlu setiap individu tingkatkan. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam surah Abasa ayat 24: “maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” Oleh karena itu, manusia diminta untuk berpikir dengan akal bagaimana makanan itu diciptakan dan diatur untuknya. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168).
Ahli Gizi di Carevo.id dan Foodiwell. Instagram : @andiniyuni.
