Rumah untuk Siwi
“Ada banyak derap langkah kaki di belakang, sebentar teramat jelas, lalu lamat-lamat, tapi kemudian kesunyian menyergap. Dengan takut-takut saya menengok, karena paham seharusnya saya merasa aman. Mas Sapto mengekor saya kurang dari sepuluh meter sedari tadi. Tapi, ternyata ….”
Jantungku berdegup menanti kelanjutannya.
“Mas Sapto hilang … tak ada siapa di belakang saya. Kosong. Sepi. Saya tahu ini akan terjadi juga.”
Wajahnya sedikit menegang, otot-otot di pipi tirusnya pun tampak berkedut menahan rasa.
“Hari itu juga Mas Sapto pergi, takkan kembali.”
Bahuku mulai berguncang, susah payah menahan berkecamuknya rasa.
Melihatku demikian, ketegangan di wajah Bu Ningsih perlahan mengendur. Malah tangannya terulur untuk menangkup tanganku, lalu mengusap-usapnya.
“Ternyata itu momen terakhir kami, Ti. Kekasihku diculik dari kebun tebu. Yang datang kemudian, kabar rumah sakit tentang jasadnya di kamar jenazah.”
Aku melihat lekat-lekat perempuan yang lebih muda dari tante terkecilku itu. Luka hati terefleksi tanpa dusta di matanya. Namun, tak sedikit pun air mata, walau hatinya berduka.
“Mereka menghabisinya dengan tuduhan dialah di belakang para petani yang tak mau menandatangani surat yang diedarkan. Surat kosong yang isinya nanti diketikkan untuk mengambil alih tanah mereka. Mas Sapto meyakinkan bapak-bapak itu, mereka telah ditipu. Dan para pengusaha tak suka karenanya.”
Percakapan kami belasan tahun lalu itu terekam kuat, berjejak, melekatkan semangat.
“Saya dipaksa pulang ke Jawa oleh para petani. Mereka cemas, saya sasaran berikutnya. Tak segan kok orang-orang berkuasa itu menghilangkan nyawa.”
Kesedihanku berganti emosi. Kini hanya kejengkelan yang tersisa.
“Tapi, ketika pulang kampung, saya malah tertarik ikut aksi lain. Sekali ini membela teman-teman akar rumput di pinggir kali Code. Tak segan saya ikut demonstrasi di pinggir jalan, berpanas tubuh suarakan keadilan.”
Aku terkesiap.
“Ibuk nggak takut dibawa polisi?”
“Wong saya pernah, Ti. Nggak cuma sekali.”
“Nggak takut jadi tahanan?”
“Lah, saya nggak mencuri. Saya cuma ikut aksi.”
“Kenapa Ibuk sampai punya keberanian.”
“Karena napasku pergerakan.”
Perbincangan itu menularkan api. Dari nyala kecil hingga berkobar dalam benak, hendak meniru jejaknya. Kuakui tak sanggup meniru Bu Ningsih, ikut unjuk rasa di jalan. Namun, aku membabi buta menyuarakan keadilan di koran-koran. Ada tulisanku selalu di sana. Menjadi corong orang tua-orang tua difabel lain yang tak mampu menuliskan narasi untuk bersuara.
Setiap forum, setiap kesempatan, tanpa ragu aku juga merebut posisi pertama untuk bersuara. Tak takut diinterupsi, aku malah menunggu argumentasi. Cerita Bu Ningsih lah membuatku gagah berani. Tak heran, lambat laun aku mulai mendapat panggung, juga sebagai penggerak perubahan. Aku pikir, begitulah sebaiknya aku meneladani sikap kritisnya.
Herannya, makin aku bergerak, Bu Ningsih malah seperti hilang dari peredaran. Aku menduga-duga ini ada hubungannya dengan pernikahan dan keluarga baru yang dimilikinya.
Aku pun meragu. Bila dulu, kulihat sosoknya bagai bola api yang kian besar, kini hanya kilau kecil kembang api, yang walau meletup-letup sesaat kemudian akan padam.
Apakah berkeluarga mengubah semuanya? Mengapa semangatnya seperti menghilang? Apakah dia sakit? Atau mendapat ancaman lagikah, seperti bungkusan kotoran hewan yang dulu kerap dikirim ke rumahnya sebagai ancaman pembungkaman.
Dengan penasaran kuhampiri rumahnya. Ingin tahu dan bertanya. Tak lama aku terjawab. Keriaan wajah Bu Ningsih bersama suami, anak-anaknya, siswa dan guru di sekolah yang dikelolanya, menunjukkan mereka punya napas perjuangan yang sama.
Bu Ningsih pun menyambutku dengan senyum, tetapi yang terucap dari mulutnya segera membisukanku.
“Bagaimana kabar Andika dan Siwi? Sehat-sehat sajakah?”
Sebab tak ada jawabanku, perempuan yang makin tampak bercahaya wajahnya itu seketika mengalihkan pembicaraan. Dia membahas tulisan-tulisanku, menanyakan sejauh apa pengaruhnya kepada perjuangan kami.
Ketika semua percakapan mengalir seperti lalu, waktu berjalan cepat. Sampai akhir tak terucap pertanyaanku tentang arah kekritisannya yang berubah sikap.
Aku hanya melihatnya bahagia dengan perjuangannya kini yang mengusahakan pusat kegiatan belajar masyarakat untuk semua, akan tetapi aku tak bisa terima. Aku merasa keluarganya telah merenggut jiwa pemberontakan akan kezaliman, yang ia miliki. Dan aku patah hati.
Kembali ke kediaman, aku malah terlibat pertengkaran. Andika menyergap dengan komentar, kesibukanku menjadi garda depan membuatku kekurangan waktu untuk mendampingi anakku. Yang seharusnya menjadi prioritas, yang sewajarnya menjadi laku perjuanganku.
Aku tak membalas, seperti yang sudah-sudah. Hanya memeluk Siwi, lalu mengangsurkan boneka yang kubeli di jalan tadi.
Sambil menghindari pertanyaan-pertanyaan Andika, aku menduga-duga, jangan-jangan hal ini yang membuat Bu Ningsih mundur dari pergerakan. Terperangkap dalam gelembung bernama keluarga. Ningsih yang ikut demo, Ningsih yang nyaris mati dibungkam kapitalis, Ningsih yang selalu membara, kini ….
Prasangkaku kemudian terbukti keliru. Ketika semangatku menggebu-gebu menjadi penerima penghargaan perempuan bergerak, ada nama Ningsih tertera dalam undangannya. Dia yang kini bergerak di pendidikan kaum marginal, aku bagian advokasi kaum difabel Kesibukanku menikmati panggung, menjadikanku tak memperhatikan lagi sepang terjangnya, atas nama kecewa.
Ketika hari H aku berjumpa kembali dengan perempuan itu, celetukan-celetukannya membuatku bisu.
Dia tak tampak marah, hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit terbaca.
Rambutnya yang kini memutih semua, lebih tepatnya keperakan tampak tersisir rapi. Dia menyadari aku menatapnya dari sisi lain ruangan.
“Saya nggak suka sebenarnya didandanin!”
“Ini SOP syuting, Bu.”
“Tapi tak usah seperti mereka-mereka itu, ya, Nduk.”
“Nggih, Bu. Pasti. Ini tipis-tipis aja ya, kalo nggak nanti kami dimarahi.”
“Ya, aku sebenarnya nggak suka merajai panggung.”
Hatiku pun gundah, berasumsi baru perkataan terakhirnya tertuju kepadaku.
Aku menunduk dalam, sedikit cemas melihat pantulan wajahnya yang sedang dirias.
Sepanjang acara berlangsung, aku menghindar dari tatap mata dan senyum tulusnya. Sempat tebersit kehendakku membuat pernyataan kepada penyelenggara, untuk membatalkan saja penghargaan untukku. Merasa tak pantas untuk berdiri sejajar bersamanya, yang telah kufitnah tanpa memahami fakta. Tetapi, bila itu membuat geger seluruh acara, aku juga akan merasa bersalah.
Melangkah limbung menuju panggung aku menerima penghargaan, meski hendak kusembunyikan wajahku. Telinga kutulikan dan tiada kunikmati tepukan dari seantero hadirin. Aku malah memanggil ingatan ketika semangatku untuk melakukan gerakan, bermula.
Senja itu, Bu Ningsih menerimaku, Andika, dan Siwi untuk duduk dan menikmati teh tubruk dan tela goreng di teras rumahnya di tepi sawah. Pakaiannya hanya batik lawasan terusan yang teramat sederhana. Namun, kata-kata yang terucap dari bibirnya penuh perhatian. Seluruh indranya total mendengarkan. Tentang curhatku akan minimnya perhatian pemerintah, juga mengenai belum solidnya rekan-rekan sesama orang tua untuk berjuang.
Lalu, pikirannya tumpah ruah memberi masukan dan semangat. Berulang kali berpesan untuk tak menyerah dan putus harapan, pertanda dia sungguh-sungguh memperhatikan. Sungguh senada dengan yang dicetuskannya sekarang.
“Ti, kok diam saja, nggak enak badan, ya? Eh, badanmu sedikit hangat. Yuk kita ke ruang P3K mencari obat. Kamu kecapekan nih, wajahmu saja tampak letih.”
Kalimat-kalimatnya melelehkan hatiku, sungguh membaca apa yang kurasakan. Kuterima uluran tangannya untuk meninggalkan ruang acara. Jalanku yang agak limbung, seketika dia memegangi. Itu pun masih sambil membalas sapaan orang-orang yang juga akan beranjak pergi.
Di tengah perjalanan, ketika kami benar-benar tinggal berduaan, dia mulai menepuk-nepuk bahuku,
“Ijinkan aku bicara ini, Ti. Sejak tadi sudah kutahan, hanya ingin bicara bila kita berduaan. Aku melihatmu di televisi, membaca tulisan-tulisanmu di surat kabar, mendengar live streaming di radio, bagaimana sepak terjangmu. Senang mendengar semua akhirnya mulai punya titik terang, ya?”
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Namun, segera berubah ketika muncul pertanyaan selanjutnya.
“Bagaimana kabar Andika dan dek Siwi, baik-baik saja, kan?”
Aku tergagap-gagap tiada mampu menjawab. Ingatanku melayang kepada Andika,suamiku yang seminggu lalu memilih pulang ke rumah kecilnya bersama Siwi, putriku penyandang cerebral palsy, lalu bergantian mengasuh gadis kecil itu bersama Ayah dan Ibu mertuaku.
Argumentasi kami bak ultimatum, ketika lelaki itu menghela napas panjang. “Semestinya kau yang tahu kapan harus berhenti. Kau hendak memperjuangkan banyak anak, tetapi waktumu bersama Siwi menjadi tak banyak.”
Colekan tangan Bu Ningsih di daguku, membubarkan kenangan, membuatku kembali menengok ke arahnya.
“Belum terlambat, Ti.”
Sepertinya, tanpa aku bercerita, Bu Ningsih tahu semua peristiwa.
Aku memeluk perempuan itu demikian erat. Tak peduli air mataku membasahi bagian bahu kebaya lurik kesayangannya. Diusap-usapnya punggungku, sambil berceloteh.
“Inti melakukan pergerakan sejatinya adalah berubah. Ke dalam, Ti. Laku hidup kita, tutur bicara, bunyi tulisan semua mencerminkan perjuangan. Hal-hal itulah yang akhirnya jadi alasanku untuk mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat. Semangat pergerakan itu selayaknya terus terwariskan kepada yang lebih muda, anak dan cucu. Spiritnya itu yang sesungguhnya harus terus berlangsung, turun temurun bukan hanya kupegangi di panggung.”
Ingin kutampar wajahku karena terlampau keliru berprasangka, padahal semangat dan visinya tak berkurang dan tiada pernah mati. Wajahku kurasa memanas, bukti malu kepada Bu Ningsih.
“Orang yang berani mati banyak, Nduk. Namun, orang yang berani, seumur hidup teguh berpegangan pada visinya, tak banyak yang bisa.”
Pejaman mataku mulai kabur. Terbayang senyuman manis Siwi dan pelukan hangat Andika, yang menungguku di rumah.


Sri Wahyaningsih
Menarik. Tulisan yg reflektif. Selamat mbak Ivy, teruslah berkarya👍
Ivy
Terima kasih, Ibu