Mereka Anak Hebat
Rangga, anak kelas 5 SD yang belum bisa perkalian dengan lancar. Selalu bingung melihat angka yang seakan menari-nari di atas bukunya tanpa ia mengerti. Asal mengerjakan soal, karena guru juga tak mau tahu urusan paham tidaknya siswa menyerap materi yang ia sampaikan. Ketidakmampuannya berhitung, membuatnya selalu mendapat nilai jelek di mata pelajaran Matematika. Walaupun nilai mata pelajaran lain bagus, tetapi total nilai dalam rapor juga akan turun ketika nilai matematikanya di sana tertulis angka di bawah 30.
Kemarahan besar tergambar jelas dari wajah orang tua Rangga. Marah karena anaknya yang tidak bisa membuat mereka bangga, marah karena malu dengan wali kelas dan tetangga mereka. Marah karena malu mempunyai anak yang bodoh. Akibatnya bisa ditebak, anak yang disalahkan, anak yang dianggap tidak becus dalam belajar, anak yang akan dituntut lebih banyak lagi. Orang tua mulai memfasilitasi anak untuk ikut bimbingan belajar A, B atau C. Intensitas bermainnya dikurangi bahkan diperketat untuk dijadikan alasan belajar. Bahkan teman-temannya dibatasi hanya anak-anak yang pintar saja.
Mungkin dunia seakan runtuh bagi Rangga, hanya karena Matematika. Begitu miris bukan? Ketika kebebasan anak dibatasi, ketika suara tak lagi didengar, ketika perintah orang tua bak perintah komandan kepada prajuritnya yang harus dilaksanakan. Miris sekali….
Rafli, sosok siswa yang kurang bisa bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Suka menyendiri, sering bicara sendiri di kelas, kadang marah-marah tanpa alasan yang jelas. Sikap anehnya itu membuatnya dijauhi bahkan dianggap tidak normal oleh teman-temannya di kelas. Orang tua sudah pasrah dengan keadaan anaknya dan menyerahkan sepenuhnya pada sekolah. Keberadaan Rafli dianggap seperti anak lain yang normal yang tak perlu adanya tindak lanjut. Hmmm sudahlah…
Malik, adalah sosok siswa SMA yang dianggap nakal di sekolah. Sering bolos sekolah, tidak memakai atribut sekolah lengkap, tidak mengerjakan tugas, sering membuat gaduh ketika guru sedang menerangkan. Ditambah lagi, yang paling tidak menyenangkan adalah pemberian cap kepadanya sebagai anak nakal. Jadi kalau dalam sehari Malik tidak membuat ulah, akan ada yang mengatakan “Tumben kamu bisa manis hari ini..”
Oh begitu menyedihkan..
Apa sebenarnya yang terjadi saat ini? Apakah kepandaian anak hanya bisa diukur dari deretan nilai di dalam rapor? Jika nilai jelek, apakah menandakan anak itu bodoh? Apa sebenarnya anak ingin menjadi orang yang terasing, orang yang terbuang, orang yang dijauhi? Lantas, apa definisi anak nakal itu? Apakah benar definisi anak nakal itu tidak mengerjakan tugas, bolos sekolah, atau ribut di dalam kelas? Apakah tidak ada kesempatan pada anak-anak itu untuk menunjukkan mengapa dan siapa sebenarnya mereka?
Mereka bukan anak yang bodoh, atau tidak normal atau nakal. Mereka adalah anak-anak istimewa. Dalam bukunya Munir Chatib, yang berjudul Sekolahnya Manusia disebutkan bahwa, “Tidak ada manusia yang bodoh di dunia ini. Kalau kita mempercayai itu, maka biarkan kepercayaan itu terpatri dalam hati kita, yang akan memberikan petunjuk bagaimana mendidik anak-anak kita selanjutnya.”
Rangga yang nyatanya jeblok dengan nilai Matematika, ternyata sangat kritis dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi di sekitarnya. Nyatanya memang Rangga memiliki kecerdasan naturalis yang dominan. dia suka merawat tanaman, memelihara hewan, dan mengagumi pemadangan yang indah. Modal inilah yang kemudian dapat dikembangkan oleh guru untuk membelajarkan Rangga dengan masuk ke dunianya. Belajar bagi Rangga mungkin tidak hanya di ruang kelas. Dia bisa terbantu dengan belajar di halaman rumah dengan udara yang sejuk, dia bisa mengaitkan pelajarannya dengan segala hal yang berhubungan dengan alam.
Rafli, orang yang dianggap aneh di kelas. Dengan sedikit kepedulian dari guru dan orangtuanya, akan diketahui apa sebenarnya yang terjadi dengan Rafli. Anak yang aneh ini nyatanya sangat pandai menggambar. Imajinasinya begitu kuat, sehingga mampu melukiskan banyak hal yang orang lain tak mampu mengungkapkan dengan gambar. Dia memiliki tipe kecerdasan visual-spasial. Apakah anak hebat seperti ini yang dinamakan anak aneh? Anak-anak seperti ini hanya butuh kesempatan dan perhatian sedikit untuk mengatakan, “Ini lho sebenarnya aku.” Tapi kebanyakan dari kita sudah menutup pintu dulu, sebelum membuka pintu kesempatan itu.
Malik, anak yang telah dicap sebagai anak nakal. Sebenarnya tidak ada satupun orang yang mau untuk dijelek-jelekan di depan umum. Labelisasi sebagai anak nakal dari orang di sekitarnya yang membuat Malik akan berbuat semakin tidak baik. Bukankah pemberian cap berarti kita telah “menge-judge” dulu, sebelum anak itu menunjukkan pada kita. Di balik tingkahnya yang “nakal” menurut sebagaian besar orang di sekitarnya, Malik adalah sosok yang dominan di jasmani-kinestetik dan interpersonalnya. Dia bisa menjadi orang pertama yang menawarkan diri apabila diminta untuk membantu meringankan korban bencana. Dia juga orang yang pandai membujuk teman-temannya untuk ikut menyumbang. Apakah anak semacam ini adalah anak nakal? Mereka semua adalah anak hebat.
Lebih mengenal dan mencari tahu siapa sesungguhnya anak-anak menuntut sebuah pemahaman yang besar, bahwa kecerdasan seseorang tidak hanya disimbolkan dengan angka-angka nan indah di rapor saja. Menurut Gardner ada delapan tipe kecerdasan manusia.
- Kecerdasan linguistik dengan kemampuan berbahasa dan menulis yang dominan.
- Kecerdasan logika-matematika dengan kemampuan untuk berpikir, berhitung dan menangani pemikiran logis.
- Kecerdasan visual-pasial dengan kemampuan untuk melihat dan menggambarkan obyek-obyek dengan sangat indah.
- Kecerdasan musikal dengan kemampuan dalam menyanyi dan memainkan alat musik.
- Kecerdasan jasmani-kinestetik dengan kemampuan olah tubuh yang baik dan aktif dalam olahraga.
- Kecerdasan interpersonal dengan kemampuan untuk lebih peka berinteraksi dengan orang lain.
- Kecerdasan intrapersonal dengan kemampuan untuk memahami perasaan, kelebihan dan kelemahan diri.
- Kecerdasan naturalis dengan kemamapuannya belajar dengan mengapresiasi keindahan alam sekitar.
Dengan tahu siapa sesungguhnya anak–anak tersebut, maka akan lebih mudah memberikan fasilitas dan tindakan yang tepat untuk membantu mereka menjadi orang-orang yang mandiri dan orang hebat di bidangnya suatu saat nanti.
Akun IG/FB : Anna Choiriyah.
