f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gethuk

Selipan Doa Suci dalam Sebungkus Gethuk Daun Jati

Menjadi anak kos dan anak terakhir dalam keluarga mengharuskanku untuk sering pulang. Memang terkesan bukan anak kos sejati, apalagi dengan naiknya harga BBM pun tidak dapat menghalangi. Prinsipku, temui selagi masih ada yang bisa ditemui. Karena waktu tidak dapat diputar kembali. Iya, orang tua.

Pagi yang kabut di hari jumat, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebelum itu, aku berhenti untuk mengecek motor ke bengkel demi keamanan perjalanan dan mengisi BBM di POM Bensin dekat kampus. Barulah aku melanjutkan perjalanan dengan penuh hati-hati dan fokus.

Mendapat separuh perjalanan, aku berniat untuk mendinginkan mesin kendaraan. Kubelokkan kuda merahku di Pasar Tawangmangu. Aku bergegas masuk membeli sayuran segar sebagai oleh-oleh untuk Ibu. Berjalan dua langkah, tukang parkir memanggilku, “Mbak-mbak kuncinya belum dicabut ini lho!”. Langsung aku membalikkan badan dan berterimakasih karena telah diingatkan.

***

Tiba-tiba, tidak sengaja aku melihat seorang nenek yang berjalan dengan langkah terseret-seret bersama rinjing kecilnya yang tertutupi daun jati. Tubuhnya yang ringkih tetap kuat membawa beban dagangan demi sesuap nasi. Meskipun dengan keterbatasan beliau dalam berjalan, tidak menyurutkan semangatnya untuk mengais rezeki menyambung kehidupan. Iya, dengan berjualan gethuk.

Masih kuamati dari kejauhan, nenek itu mencoba menawarkan dagangan. Menariknya, sang nenek selalu menyelipkan doa saat menawarkan gethuknya, “Monggo gethuk e Pak/Bu, kagem jajan. Mugi-mugi rezekinipun lancar, sehat-sehat putra wayahipun.” (Silakan gethuknya Pak/Bu, untuk jajan. Semoga rezekinya lancar, sehat-sehat anak cucunya).

Kemudian sang nenek mencoba menjajakan dagangannya kepada salah seorang mbak-mbak di dalam mobil dengan kaca terbuka, namun malah sama sekali tidak digubris. Padahal, nenek itu dengan sopan menawarkan “Gethuknya Nak, dua ribuan saja, silakan!”. Sambil menawarkan dengan tangan yang gemetar karena faktor usia. Akan tetapi, hanya sekadar menoleh pun enggan. Malah asik telfonan.

Baca Juga  Sekisah Duka sekolah Daring

Karena tidak dihiraukan, sang nenek kembali duduk di pleseran dekat parkiran. Seringkali beliau  terlihat meluruskan dan memijat pelan kakinya yang pegal. Ketika sudah kelamaan duduk, mau berdiri pun kesulitan dan harus berpegangan pada tiang di sampingnya.

***

Tidak lama kemudian, aku segera memilih sayuran untuk Ibu dan membayarnya. Melihat dompetku yang waktu itu banyak uang Rp 2000 yang memang sering aku kumpulkan untuk parkir, hati kecilku terketuk untuk membeli gethuk.

Sampai di depan tempat nenek penjual gethuk, aku kaget kemana perginya tiba-tiba tidak ada di pleseran. Ternyata, nenek itu dari masjid seberang jalan untuk menunaikan Salat Duha. Melihatku di depan rinjing gethuknya, beliau segera mempercepat langkahnya menujuku.

Nenek itu langsung menawarkan, “Tumbas gethuk Nduk? Cah ayu Rp 2000 an wae!”. “Nggih Mbah, 5 bungkus nggih”. Sambil mengiris gethuk dan membungkusnya dengan daun jati, si nenek bertanya, “Kelas berapa Nduk?” Kujawab “Sudah kuliah Nek, di UNS Solo. Hari ini mau pulang ke rumah Magetan.” Nenek juga banyak sekali memberi motivasi untuk semangat dalam menuntut ilmu, jangan lupa meminta restu orang tua, dan jangan pernah meninggalkan ibadah sepadat apapun aktivitas kita.

Setelah aku membayar gethuk, Nenek dengan tulus mendoakan, “Semoga kuliahnya diberi kelancaran, sukses membahagiakan orang tua ya Nduk, diberi rezeki yang berlimpah, sehat, kuat slamet, cita-citanya bisa terkabul.” (Sambil mengelus pundakku). Lalu kujawab, “Aamiin, terima kasih doanya Nek, doa baik kembali ke Nenek dalam bentuk kebaikan juga, semoga Nenek senantiasa diberi kesehatan, panjang umur, laris manis gethuknya.”

***

Setelah itu, karena hari semakin siang dan kabut telah hilang, aku melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Nenek penjual gethuk tidak dapat terlepas dari pikiran. Di usianya yang sudah tua, tetapi masih semangat mencari rezeki yang halal demi menyambung kehidupan. Walaupun memiliki keterbatasan berjalan, sama sekali tidak mengurangi rasa syukurnya menjalani kehidupan.

Baca Juga  Termenung

Beliau yang setiap jam 3 pagi sudah bangun untuk persiapan membuat gethuk daun jati legendarisnya dan penuh asa berjalan dari rumah menyusuri jalan setapak yang naik turun, belum lagi jika jarak rumah dengan pasar sangatlah jauh membuatku sebagai jiwa muda tergerak untuk tidak boleh bermalas-malasan dan berpangku tangan.

Dari nenek penjual gethuk ini, kita belajar bahwa hidup hanya menunggu waktu salat. Beliau rutin melaksanakan salat duha walaupun dengan keterbatasan bukan berarti dapat menjadi alasan untuk meninggalkan. Karena perkara rezeki telah diatur Sang Pencipta dengan sebaik-baiknya.

***

Sepadat apapun aktivitas yang dijalani entah itu pekerjaan, tugas, maupun perniagaan jangan sampai menghambat waktu ibadah. Sering kali kita lalai dalam beribadah dan lebih mementingkan tugas maupun pekerjaan lain dengan alasan dikejar deadline. Kita yang cenderung lebih takut dengan manusia daripada Sang Pencipta.

Jiwa yang sangat sabar dan tabah, meskipun di usia tua yang seharusnya tinggal santai menikmati hari tua tetapi masih harus berjuang demi mencukupi kebutuhan keluarga. Beliau yang tidak lupa menyelipkan doa-doa kepada pelanggannya menjadi sisi positif yang seharusnya kita implementasikan antarsesama, karena doa yang baik akan kembali kepada kita dengan wujud kebaikan pula.

Terima kasih atas doa baik dan pengajarannya Nek, Aku tidak akan melupakan nasihat hidup dari Nenek. Semoga untuk kedepannya, kaum muda-mudi lebih bisa menghormati, sopan, dan berakhlak baik terhadap sesama terkhusus dengan orang yang lebih tua. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari pelajaran hidup Nenek dan mengimplementasikan kebaikan-kebaikan yang Nenek penjual gethuk  torehkan.

Bagikan
Post a Comment