Konflik Nilai: Kesumpekan Kaum Remaja Terhadap “Beliau-Beliau”
Sebagai siswa yang sedang pada tahap kuliah, saya menyaksikan begitu banyak konflik nilai. Para orang tua bilang “begini”, lingkungan eksternal bilang “begitu”. Orang-orang yang tampak “hebat” yang posternya saya temui di tiang listrik pinggir jalan raya mengatakan bahwa ada pembangunan mental—spiritual, kok, pelacuran, seks bebas, dan maksiat makin disediakan tempat di mana-mana.
Sudah diteriaki supaya hidup sederhana, kok kota sekarang dijejali oleh kemewahan-kemewahan dan iklan-iklan yang potensial menjebak kita ke dalam arus hedonisme, konsumerisme, dan takhayul. Katanya, kita ini modern—intelektual, kok, nyatanya makin kewalahan dan makin bodoh dalam menjawab masalah-masalah; katanya pembangunan berdasarkan Pancasila, kok, kesenjangan sosial dan ketidakadilan sosial sampai gila-gilaan begini; katanya, kita sudah maju, kok, korupsi dan kejahatan sedemikian serius; katanya, ilmu kedokteran makin canggih, kok penyakit dan orang sakit makin banyak; katanya psikologi makin hebat, kok, di mana-mana orang sakit jiwa makin banyak; katanya, mau tinggal landas, kok, kalau kita becermin terlihat wajah sick society; katanya, katanya, kok, kok…
Kaum remaja-mahasiswa tersandar di tengah-tengahnya. Terjebak, dan mungkin tertipu. Bapak generasi dan kakak generasi mereka tidak berhasil menyediakan suatu situasi lingkungan yang konsisten, yang terlihat “kompas” yang jelas untuk dipedomani. Kaum remaja terombang-ambing seperti buih-buih di tengah samudera, terhanyut ke sana kemari oleh arah gelombang.
Buih-buih itu menari-nari ke kiri ke kanan dengan berbagai bentuk hura-hura yang tak mereka pahami apa itu. Dengan gegap gempita musik yang tak mereka pahami, dengan kebut-kebutan yang tak mereka pahami, dengan tradisi ngeceng dan zina yang tak mereka pahami, dengan perkelahian antargeng yang tak mereka pahami, atau sebaliknya—dengan fanatisme, puritanisme, konservatisme pemelukan agama yang juga tak mereka pahami.
Dalam konflik nilai yang berkepanjangan, dalam atmosfer ketidakmenentuan nilai yang tak segera sungguh-sungguh diatasi, terbagilah masyarakat (juga kaum remaja) menjadi tiga.
Pertama, mayoritas yang terhayut oleh arus besar. Kedua, mereka yang bersikap supradefensif dan “bermata memelotot”. Ketiga, beberapa biji manusia genius yang berhasil mengatasi situasi itu dan tetap memunculkan kepribadian dan pilihan autentiknya.
Kaum genius tetap memiliki kesanggupan untuk memilih secara objektif dan dingin mana “benar mana “salah” serta mana “baik” mana “buruk”. Kaum memelotot secara subjektif memilih yang dianggapnya baik dan benar secara kaku sambil menuding-nuding orang lain sebagai “kafir!”, “sempalan!”, “sekuler!”, “liberal!”, “Pancasilais!”, dst.
Mereka ini menjadi ekstremis dan yang menciptakan ekstremitas mereka adalah pemerintah, pemuka masyarakat, dan kaum tua yang ultra-ekstremis. Di Indonesia, tak ada yang lebih ekstrem dibanding tiga pihak tersebut.
Adapun kaum-tertakhayul sesungguhnya tak pernah “memilih” sebab tindakan memilih itu dipersyarati oleh kondisi dan situasi saat si subjek memiliki posisi kultural dan politis untuk serta mempunyai kapasitas ilmiah untuk menentukan pilihan. Jadi, mayoritas kaum-terhanyut sesungguhnya bukan karena memilih, melainkan terseret. Mereka hidup tidak dalam perspektif “baik-buruk”, benar-salah, melainkan enak atau tak enak, bergengsi atau tak bergengsi, nggaya atau ndesit. Mereka diseret oleh contoh praktik-praktik korupsi nilai, iklan-iklan yang menyihir, opini media massa yang berorientasikan pada “pasar”. Serta oleh seribu bentuk kemunafikan yang telah dilegalisasi secara kultural.
Siapkah “gelombang yang mengombang-ambingkan buih-buih” itu? Ialah generasi tua yang gagal untuk bertanggung jawab. Yang tidak sungguh-sungguh menciptakan tata lingkungan budaya yang edukatif konstruktif dan kalau kaum remaja jadi “mblunat” sebagai akibat dari kacaunya atmosfer lingkungan itu—kaum tua hanya punya kesanggupan untuk menggebuk mereka, tidak untuk berintrospeksi terhadap kesalahan-kesalahan mereka sendiri.
Kegagalan kaum tua untuk bertanggung jawab kepada anak-anaknya tecermin jelas dari terlalu seretnya pembangunan demokrasi dalam politik, terbengkalainya keadilan sosial dalam kondisi perekonomian, erosi disiplin hukum, serta tidak berkembangnya kemanusiaan dalam kebudayaan.
Di antara kaum tua itu yang paling bertanggung jawab terhadap kegagalan tersebut adalah para pemegang kendali sejarah. Para penggenggam kekuasaan dan keputusan-keputusan, pemilik modal, serta para penjaga nilai peradaban.
Kaum tua harus siap menjawab secara ilmiah dan dewasa apabila kaum remaja menuding bahwa mereka adalah penipu. Mereka harus sanggup menjelaskan apakah mereka memahami benar pembangunan yang mereka laksanakan dan yang telah meminta ongkos finansial, kultural, nyawa, penderitaan, dan ke-sumpek-an yang tidak kecil ini.
Pemaparan subjudul di atas (Konflik Nilai) diambil dari salah satu sudut pandang. Kita juga bisa—misalnya—memakai sudut pandang macam ini: konflik nilai adalah hakikat hidup yang Tuhan sendiri memang menciptakan demikian. Tuhan bikin iblis, justru untuk menegaskan (komparatif) tingkat kemuliaan yang bisa diperjuangkan oleh manusia. Makin banyak “iblis” di Indonesia ini, manusia semakin memperoleh tantangan untuk meningkatkan mutu kemuliaannya. Dengan kata lain, agar manusia meningkatkan kemuliaannya, diperlukan iblis. Jadi, iblis itu “bermanfaat” sebagai “alat pemuliaan” manusia.
Toh, sebelum Adam dan Hawa memakan buah kuldi, jauh sebelumnya, Tuhan sudah berkata, “Aku akan ciptakan makhluk khalifah di bumi.” Jadi, sebelum peristiwa pelanggaran Adam Hawa di surga, Tuhan sudah menskenariokan bahwa mereka akan tinggal di bumi. Bumi diisi oleh hakikat dialektika yang di surga tak ada. Jadi, konflik nilai memang hak dunia. Makin Anda menciptakan konflik nilai, manusia makin memperoleh peluang untuk bermutu kemuliaan hidupnya.
Kalau tak ada makanan di sekeliling, lantas Anda puasa, betapa berkualitas puasa Anda! Jadi, jangan maki-maki orang berjualan pada bulan Ramadan, justru supaya pahala puasa Anda makin tinggi.
Terserah kaum remaja hendak bersikap bagaimana dalam menanggapi adanya berbagai sudut pandang dalam kehidupan. Kalau mau jadi “sunguh-sunguh manusia”, mari kita kuasai berbagai sudut pandang terhadap kompleksitas kehidupan ini. Kalau sekadar mau jadi “manusia ala kadarnya”, cukup pegang salah satu sudut pandang yang dijamin baik.
Ketika aku menulis, aku bukan lagi Roy Widya Pratama
