f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menyusui menyapih

Ternyata Stop Menyusui Bisa Membuat Sang Ibu Depresi

Pagi itu tak sengaja melihat status WA si bungsu. Sebuah tangkapan layar terpampang percakapan halu dengan sang suami. “Yank, aku sedih menyapih si Maura, pengen nangis terus nih jadinya.”. Keluhan adik saya tentang menyapih si anak membuat saya makin yakin, kalau dia hanya bagian minoritas dari kalangan para ibu yang punya nyali menyuarakan isi hatinya.

Sedangkan bunda-bunda lainnya cenderung menikmati kegalauan akibat kehilangan bonding dengan sang buah hati. Sejumlah pakar laktasi juga mengiyakan adanya kondisi depresi ibu yang sulit terdekteksi akibat kebungkaman implisit adanya gangguan psikis yang mendera ketika sedang dan selesai penyapihan.

Cerita lain juga muncul dari saudara sepupu jauh yang terpaksa mengakhiri proses transfer ASI pada bayinya yang berusia 1,5 tahun; hanya karena delegasi kantor yang membuatnya tidak bisa menyusui selama 2 minggu. Dilema yang terus mengganggunya antara kembali melanjutkan menyusui dan wejangan orang tua yang mengatakan bahwa ASI-nya sudah basi; pada akhirnya mengawalnya untuk mengambil keputusan yang salah—menurutnya—yaitu berhenti memberikan ASI.

Kontrol sosial pun muncul dari kicauan kerabat dan teman-teman yang terkadang cukup mengganggu dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan, “Anaknya sudah disapih apa belum?”, “lo! kok, belum di sapih, sih, anaknya!” dan berbagai pertanyaan interuptif lainnya. Padahal waktu penyapihan murni merupakan hak si ibu dan anak.

Istilah “ASI basi” dalam ilmu medis tidak memiliki landasan keilmuan yang kuat. Bahkan, gizi yang terkandung dalam makanan paling ideal untuk bayi tersebut terkandung sejumlah zat pembangun (protein), lemak, mineral, karbohidrat, vitamin dan zat kekebalan untuk si kecil. Jika kita bandingkan dengan susu formula yang berasal dari sapi, komposisi ASI masih menang telak dari sufor. Sebagaimana ASI adalah makanan terbaik untuk anak manusia terlebih untuk bayi yang lahir kurang bulan.

Baca Juga  Pernikahan Berbasis Bisnis, Solusi Manis Hindari Perceraian
Alternatif Proses Menyapih

Beberapa pakar bahkan mengatakan bahwa komposisi ASI yang terkandung setelah dua tahun masih mengandung zat gizi spesifik yang berguna bagi anak. Salah satunya adalah zat imunitas (kekebalan), meski zat-zat bergizi lainnya kadarnya sudah mulai menurun. Volume ASI setelah anak usia dua tahun juga akan berkurang drastis, itulah kenapa terjadi pembatasan menyusui sang ibu untuk anak. Mungkin juga supaya anak mendapatkan makanan subtitusi yang lebih bergizi, seperti makanan padat. Namun, adanya proses penyapihan yang dilakukan dengan strick—tidak bertahap dan dalam tempo yang cepat, juga dapat memutus rantai ikatan kehangatan dan kasih sayang dari sang ibu (bounding attachment).

Berdasarkan ilmu medis dan anjuran menyusui dalam Al-Qur’an ternyata sefrekuensi. Durasi menyusui ibu untuk anaknya maksimal 2 tahun. Berdasarkan parameter ini banyak ibu yang menerapkan metode jampi-jampi agar anaknya enggan lagi menetek. Sebutir telur yang konon sudah ditiupkan mantera ajaib oleh sosok yang dianggap sakti, akan menyulap si kecil gak doyan ASI lagi setelah memakannya. Namun, yang jadi pertanyaan, benarkah si kecil benar-benar melupakan minuman favorit yang pertama kali diteguknya di dunia ini? Berdasarkan pengalaman dari beberapa teman yang mencoba peruntungan “stop ASI via rapalan mantera ajaib ini” ternyata metode ini tidak cukup efektif.

Alternatif lain yang biasanya dilakukan para ibu di Indonesia yang anti “mantera ajaib; biasanya mereka berusaha sendiri menciptakan rasa ketidaknyamanan anak karena tidak enak—pahit, asin atau pedas—ketika ia melakukan inisasi menyusu. Ini akibat bunda memberikan mouthwash atau sengaja mengoles ramuan pahit di kedua payudara agar si kecil kepedesan; atau bahkan malah menangis histeris karena rasa getir yang tertangkap di syaraf lidahnya.

Baca Juga  Berpuasa Ramadan Saat Meng-ASI-hi, Apa Bisa?

Alhasil si anak malah stress akibat kehilangan tradisi yang menciptakan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman setelah dua tahun lamanya. Belum lagi kadangkala si Ibu tidak menganalisa terlebih dahulu apakah ‘ramuan penangkal ketagihan ASI’ untuk bayinya aman digunakan ketika tidak sengaja tertelan.

Efek Menyapih

Efek psikologis juga membayang-bayangi ibu dan anak ketika kelekatan mereka dipisahkan. Perasaan tidak berharga (lagi), kerap kali menyerang pada ibu saat proses penyapihan. Sebuah kenikmatan tak terhingga bagi seorang ibu ketika melihat buah hati tenang dan mulai tertidur dalam dekapan skin to skin contact saat disusui. Transfer kehangatan dan ikatan batin tersebut tidak akan diberikannya ketika periode menyusui berakhir.

Perasaan kecemasan, kemarahan kesedihan dan emosi yang tidak stabil juga dipengaruhi oleh perubahan kadar hormon oksitosin yang berkurang saat proses menyusui dihentikan. Dan sebaliknya hormon estrogen yang kadarnya rendah saat fase menyusui, kini kembali naik dalam jumlah yang sama sebelum periode pra-menyusui. Kondisi ini terdiagnosa dalam ilmu kedokteran sebagai Post Weaning Depression atau depresi saat penyapihan.

Lantas, apakah si ibu harus tetap memberikan ASI hingga si kecil beranjak ke usia pra-sekolah? Sebaiknya sih, tidak. Apalagi ketika usia bayi menginjak 2 tahun atau lebih, biasanya volume ASI akan menurun drastis, hal ini akan membuat si anak enggan menyusu. Apalagi anak sudah mengenal berbagai sumber makanan dan minuman yang baru baginya, dan mungkin lebih kaya varian rasa ketimbang ASI.

Kondisi ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh orang tua menghadapi proses penyapihan yang menguras energi secara bertahap dan tidak terlalu memaksakan apalagi secara instan, mengingat banyak dampak yang akan terjadi jika peraturan ini dilanggar.

Baca Juga  Kecemasan, Depresi dan Hilangnya Pengharapan Masa Kini

Nah, melihat situasi yang kurang menguntungkan bagi ibu dan anak saat penghentian proses menyusui-menyusu. Akankah seorang ibu tetap menyapih anak dengan metode ‘terburu-buru’? Dan apakah masih pantas memaksa anak berhenti minum ASI setelah dua tahun dengan ‘jalur keras’?

Nasihat vokalis grup band Kotak sepertinya pas nih untuk kaum ibu “Pelan-pelan saja”.

Bagikan
Post a Comment