f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kekerasan seksual

Di Balik Pemakluman Kekerasan Seksual Melalui Sebuah Karya Populer

Baru-baru ini film tanah air dikejutkan oleh sebuah film berjudul “Penyalin Cahaya”; yang mengangkat isu kekerasan seksual dan telah tayang pada platform layanan streaming berbayar. Tentu ini menjadi salah satu berita gembira bagi masyarakat dan pesatnya perkembangan film Indonesia. Baru beberapa jam lalu trailer film tersebut tayang, sudah muncul berita yang mungkin menurut pandangan beberapa atau bahkan seluruh masyarakat menjadi risih dan dilema untuk menyaksikan mahakarya anak negeri tersebut. Terungkapnya fakta bahwa penulis skenario film “Penyalin Cahaya” yang memiliki segudang prestasi merupakan pelaku kekerasan seksual, masyarakat menjadi skeptis akan hal itu, “Berhenti menikmati karyanya atau tidak?”.

Perihal ini, semestinya budaya cancel culture yang sudah tertanam kuat di negara-negara barat bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia. Namun tidak semudah yang kita bayangkan, suatu budaya luar masuk begitu saja di negeri yang masyarakatnya plural akan berbagai hal. Singkatnya, cancel culture sama halnya dengan sanksi sosial dan hukuman bagi para seniman yang melakukan tindak kriminal salah satunya kekerasan seksual. Yaitu dengan berhenti mengagumi, menikmati hingga memboikot karya-karyanya. Sampai halnya ia tak muncul kembali dalam panggung dunia hiburan.

***

Bill Cosby, yang dulunya sempat dijuluki jutaan orang sebagai “America’s, Dad” kini telah hilang dari peradaban. Reputasi, pekerjaannya semuanya ternodai dan akan selamanya hilang, tak kan pernah kembali. Padahal program televisi The Cosby Show menjadi jembatan media untuk ramah terhadap isu-isu kelas sosial, dan tentunya ras kulit hitam.

Mungkin banyak masyarakat menanggapinya dengan reaksi yang beragam. Dari mulai memboikot karya seniman tersebut dan sungguh-sungguh berhenti mengidolakannya. Adapula yang mengabaikan kasus tersebut dan tetap mengagumi karya-karya mereka. Karena baginya, karya yang bagus dan mahal dapat berasal dari siapapun. Tentu ini hal yang lumrah jika mendapati dua kubu yang berseberangan.

Baca Juga  Antara Iman dan Ilmu Menurut Nurcholis Madjid

Kemarin, saya melihat dan mendengar beberapa teman-teman kampus yang sedang ramai membicarakan film Penyalin Cahaya. Beberapa di antaranya ada yang penasaran film tersebut dan ingin segera menontonnya. Adapula yang sudah memberikan review hingga memberikan rating tertinggi untuk film tersebut. Lantas, mereka sempat bertanya tidak, tentang siapa yang membuat skenario film? Mengapa dia mengangkat isu kekerasan seksual meski akhir-akhir ini memang marak kasus tersebut?

Tidak masalah jika mereka tidak menggubris atau menyinggung ke arah sana. Atau mungkin mereka tidak tahu siapa dibalik terciptanya film tersebut. Kembali lagi, ini hal lumrah yang biasa terjadi di lapangan dan mereka berhak berekspresi akan film ini. Beberapa lagu Michael Jackson seperti Earth Song, Black or White dan Heal the World juga merupakan sebuah karya yang paling dikenang jutaan orang di seluruh belahan dunia. Ketiganya mengangkat isu lingkungan dan sosial, hingga beredar artikel di India Today yang berbunyi “Why Michael Jackson’s songs on climate change and racial inequality need to be youth anthems now”.

Siapa sangka “King of Pop” tersebut juga pernah terjerat kasus kekerasan seksual kepada anak-anak belasan tahun, namun orang-orang tetap menikmati karyanya sampai sekarang. Beberapa orang yang dilanda perasaan dilema pasti akan terkejut dan kebingungan. Kubu mana yang harus saya ikuti?

Bayangkan saja, misalnya anda mempunyai teman aktivis kampus dengan reputasi sangat gemilang. Jika berbicara menggunakan bahasa intelek dan fa-fi-fu, jika memimpin diskusi selalu menggunakan perspektif humanis dan ramah gender. Kemudian tiba-tiba anda mendapatinya sedang memaksa teman perempuannya untuk berciuman dan berhubungan biologis.

Apa yang akan anda lakukan? Apakah anda tetap memandang dan menerima kehadirannya sebagai aktivis kampus yang selau berhasil mendobrak ketidakadilan dan ketidaksetaraan? Mungkin beberapa teman akan berkata “Ia melakukan kekerasan seksual, tapi ia juga menyelamatkan teman-teman kampus yang tidak bisa membayar uang kuliah, tapi ia tetap brengsek”. Sama halnya dengan Dave Chappelle. Komedian Amerika yang terinspirasi oleh Bill Cosby dan sedang dilanda dilema dengan kalimat ironinya “Cosby memperkosa, tapi ia juga menyelamatkan banyak nyawa, tapi ia tetap pemerkosa”.

Baca Juga  Peran Orang Tua dalam Antisipasi Kekerasan Seksual pada Anak
Kejamkah Cancel Culture?

Dilema seperti perumpamaan di atas, mungkin akan membayang-bayangi kita. Seberapa sanggupkah kita memisahkan seniman dan karyanya dan membuat batasan di antara mereka? Jahatkah kita apabila berhenti mengaguminya dan tidak menikmati karya-karya apiknya lagi?

Lebih jahat lagi jika kita membiarkan karya-karyanya terpampang di segala penjuru, sedangkan korbannya masih hancur dan berusaha bangkit dari kehancurannya. Teganya saya apabila tetap melanjutkan menonton drakor Hometown Cha Cha Cha setelah mendengar kabar, Kapten Hong menghamili anak orang dan dalam kehidupan nyatanya ia tidak bertanggung jawab akan hal itu.

Salah seorang teman dekat saya memberi tanggapan demikian. Memisahkan antara pemilik dan karyanya adalah suatu keputusan yang menurutnya cukup adil. “Kita menonton film di bioskop, ya kita menikmati isi cerita dalam filmnya, kita senang dengan aktor-aktornya. Bukan kita yang menonton pengarangnya.”

Setelah itu jika isi filmnya bagus ya kita puas. Jika di bawah ekspektasi, kita kan tidak perlu tau siapa yang menulis skenario film tersebut, apalagi jika pengarang memiliki sisi buruknya, sudah bukan hak kita untuk memberikan penilaian seperti itu”. Keputusan memilih cancel culture adalah yang paling saya sanggupkan, ketimbang harus dipaksa berpikir bijak seperti pada umumnya. Terlebih menyangkut soal kekerasan seksual, saya tidak ingin menjadi netizen yang netral.

Karena yang biasanya bijak dan netral tetap berpihak pada pelaku, tak terkecuali pada hasil buah pikirnya. Tapi lagi-lagi, masalah pro dan kontra cancel culture tidak bisa kita pukul rata. Setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Saya menghargainya.

Masihkah Menormalisasi Budaya Pemerkosaan?

Pertimbangan Wregas Bathuneja sebagai sutradara Penyalin Cahaya untuk menghapus nama terlapor (penulis skenario) dari kredit film, juga membuat masyarakat merasa ada keganjalan. Ada yang menanggapi, apakah produser dan sutradara tidak tahu kasus tersebut sedari awal? Atau memang sengaja melindungi pelaku?

Baca Juga  Stop Kekerasan Seksual, Bangkitkan Moralitas!

Identitas pelaku pun juga tidak ada dalam surat pernyataan sikap. Pertimbangan tersebut pastinya juga menitikberatkan pada aktor-aktor yang terlibat. Jadi, menghentikan atau tidak menayangkan film tersebut sama saja dengan merugi. Beberapa orang yang tidak tanggap pasti akan memberikan pujian hangat, karena sudah mau menghapus namanya. Tapi bagi saya, dengan menghapus namanya dalam kredit film, masih terasa hambar jika memang benar-benar pihak rumah produksi film memberikan sanksi. Jujur, saya tidak sanggup menontonnya.

Meskipun ada yang menganggap saya hipokrit karena juga menikmati review dan pembelajaran film melalui tulisan-tulisan pendek yang dibuat oleh pegiat gender di media sosialnya. Tetapi tetap saya tidak sanggup menonton. Saya menyadari, pemakluman terhadap kekerasan seksual sudah menjadi budaya. Budaya pemerkosaan yang merajalela, kekerasan seksual terhadap perempuan dan laki-laki yang dianggap normal dan dimaafkan dalam media dan budaya populer. Tidak sulit untuk tidak memisahkan karya dari pemiliknya. Sudah saatnya kita mengatakan “LAWAN !”

Bagikan
Post a Comment