Memeluk Rasa
Sendangagung, 19 Oktober 2020
Ah, aku tahu setiap Senin pagi kita akan bertemu. Kau sehabis mengajar dan aku baru saja akan memulai mengajar. Sebuah momen yang selalu kutunggu-tunggu. Aku harus melewati enam hari lainnya, agar bertemu denganmu, itupun kalau beruntung. Jika aku tak telat datang dan tak datang lebih awal. Sayangnya semakin hari aku semakin takut bertemu denganmu. Aneh ya? Di satu sisi aku ingin sekali minimal melihatmu, namun di sisi lain aku takut berpapasan denganmu. Atau ketika kau mengajakku berbicara, atau ketika kau hanya sekadar menyapaku. Aku bingung harus bersikap seperti apa. Menyapamu balik dengan memanggil namamu, menganggukkah atau tersenyum?
Tadi aku sengaja menghindar, memilih rute yang berbeda ketika melihatmu memakai kemeja berwarna navy berpadukan celana hitam tengah berjalan ke arahku. Aku yakin kau telah melihatku dan betapa bodohnya, aku malah menghindar yang semakin memperlihatkan bahwasannya perasaanku terhadapmu tak pernah sama seperti dulu. Tanganku bergetar, kakiku lunglai, dan jantungku berdetak lebih cepat. Kenapa? Kenapa semua jadi serius begini? Namun aku bahagia, senyum tak juga enyah dari wajahku, bahkan anak-anak yang kuajar bilang bahwasannya, “Bu Guru kok kelihatannya bahagia banget.”
Kemudian sehabis mengajar aku lagi-lagi mendapatimu di masjid itu, tengah menengadahkan kedua tangan. Bolehkah aku mencintaimu?
Sendangagung, 18 Oktober 2021
Bagaimana kabarmu pagi ini? Semoga senantiasa dalam rahmat-Nya. Kalau kau perhatikan tulisanku akhir-akhir ini banyak yang tidak selesai, bukan? Kau tahu apa alasannya? Kamu, Zud! Kau yang menyebalkan! Kamu yang meletakkan pisau, paku, dan benda tajam lainnya di sembarang tempat. Ya aku tahu, besar kemungkinan kesemberanganmu ketika meletakkan barang itu tak kau niatkan untuk menyakiti siapapun, lebih-lebih aku. Tapi kau tahu, aku mengambilnya kemudian menggoreskannya di hatiku. Perih sekali.
Apa semua orang yang jatuh cinta juga merasakan perasaan ‘sialan’ ini? Pertanyaan itu yang kerap kali bertalu-talu di kepala. Perasaan ‘sialan’ yang benar-benar merusak hari, membikin sesak hati, menumpulkan akal, membuat kedua kaki tak berhasrat untuk melanjutkan perjalanan. Hanya terdiam, terduduk, menyaksikan waktu terus bergulir, waktu yang tidak mau menunggu.
Zud, pada akhirnya aku sendiri yang merusak hubungan itu, hubungan kita sebagai teman. Tadi malam kukatakan padamu bahwasanya kita tidak usah berkomunikasi dalam bentuk apapun lagi. Bahkan jika itu terkait tugas sekalipun, aku tak mau berkomunikasi langsung denganmu, kau bisa menitipkan itu pada orang lain, lewat perantara. Kau bertanya apa alasannya. Kujawab bahwasanya aku tak mampu menampung anugerah itu, hatiku masih terlalu sempit. Kau mengejar, bilang bahwasanya ketidakmampuan itu pasti ada penyebabnya. Dan aku urung menjawab.
Kau tahu, Zud. Aku kesal, jika menemui fakta bahwasanya kau pun memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang sama ketika kau memperlakukanku. Iya, aku ingin diperlakukan secara berbeda. Di tengah keadaan yang begitu, aku tahu, aku tak berhak menuntut itu darimu, siapa aku? Kau berhak memperluas cakrawala pengetahuan dan pengalamanmu dengan cara apapaun. Namun di sisi lain, hati nyatanya tak mau diajak berkompromi, memahami keadaan, dia terus menerus memohon padaku untuk beranjak dari sisimu, karena mencintaimu, berada dekat denganmu, kau tahu akan perasaan itu, kemudian ketidaktahuan kita tentang masa depan, membuat hati jadi gugup dan gagap, membuat ketakutan itu semakin menjadi-jadi.
***
Zud, sungguh aku tidak ingin melukaimu. Bagaimana mungkin aku akan menyakiti orang yang kucintai. Karena itu sama saja menyakiti diri sendiri. Hanya saja dalam hal ini aku mengambil keputusan dengan resiko terkecil menurutku. Aku tak mau terus-menerus merasa sesak, menangis tersedu-sedu hanya karena suatu hal yang remeh itu. Tak ingin kelak jika ada yang bertanya kenapa aku tak bisa menyelesaikan perjalananku, lantas kemudian kujawab kau, karena kau memang yang menjadi penyebab akan hal itu. Aku juga tak ingin memintamu menuruti kemauanku, karena kau harus menyelesaikan perjalanan ini sebaik mungkin, Zud.
Berkali-kali aku berpikir, berjalan, mundur, berjalan lagi, mundur lagi, harus bagaimana? Jika aku memlih beranjak dari sisimu, bagaimana jika itu akan melukai hatimu. Dan jika aku memilih beranjak dari sisimu, apakah aku yakin bisa melanjutkan perjalanan ini? Tanpamu? Akhirnya aku teringat akan kita yang sama-sama ingin merasa cukup dengan Allah. Sebelum ini, sebelum aku datang di kehidupanmu pun, kau bisa menjalani hari dengan baik, bukan? Begitu juga denganku. Maka, semoga hal yang sama juga terjadi, membersamai keputusan ini. Bahwa kau akan baik-baik saja, kita akan sama-sama baik-baik saja.
Jika kau keberatan dan bilang bahwasanya dulu akupun mencintaimu, dan kau pun letakkan benda-benda tajam itu di sembarang tempat, begitu aku masih bisa berada di sisimu, kenapa sekarang aku tidak bisa bersikap dengan sikap sama seperti tempo itu? Kau salah, Zud, kau tidak tahu berapa kali aku berpikir untuk tak lagi memedulikanmu. Dari dulu aku selalu kewalahan menghadapi perasaan ini. Maka dari itu, aku selalu takut mencintai orang, bahkan sekelas teman sekalipun, karena aku selalu menuntut banyak hal. Maka, sebelum aku benar-benar memutuskan mencintaimu, aku harus mencintai Allah lebih dulu, Zud. Aku ingin mencintai Allah lebih dulu.
***
Apa aku bohong, tidak konsekuen dengan pernyatan yang kukatakan padamu kapan hari itu, tentang aku yang akan mencintaimu dengan cara terbaik. Inilah cara terbaik menurutku, Zud. Perasaan itu tidak bisa kukembalikan pada Allah, hamba apa aku yang mengembalikan anugerah dari Tuannya? Sudah merasa kayakah? Hanya saja ekspresi dari perasaan cinta itu yang ingin kuarahkan. Aku mencintaimu, Zud, sangat. Kau selalu spesial dari dulu, bahkan ketika kucel, rambut berantakan, baru bangun tidur sekalipun. Kau selalu spesial. Semoga kita sama-sama mampu menyelesaikan perjalanan ini dengan baik. Kita pulang dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya.
Siang ini hujan, dan aku melihatmu memakai setelan itu, berjalan di bawahnya.
Mahasiswi di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-ishlah, Sendangagung
