f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
konteks soal

Pentingnya Konteks pada Soal

Kita tentu sepakat bahwa keunikan manusia adalah hal patut dipertahankan. Keontetikan. Semacam itu.

Tapi tanpa sadar ada beberap hal dalam hidup yang menuntut keseragaman. Contohnya, dalam pembelajaran adalah soal.

Salah satu hal yang kerap diabaikan pembuat soal adalah konteks. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu saya menemukan satu soal yang tidak menyertakan konteks. Dampaknya, jawaban peserta didik menjadi beragam.

Soal yang saya maksudkan itu berupa dua gambar. Perintah soalnya adalah peserta didik memilih gambar yang menunjukkan perilaku baik. Peserta didik juga harus menyertakan argumentasi pendukung atas hasil identifikasinya.

Gambar pertama berupa gambar sebuah kelas. Ada beberapa peserta didik yang tampak sedang menulis di tempat duduknya masing-masing. Ketika saya bertanya pada anak saya, anak saya menjawab bahwa gambar itu merupakan perilaku tidak baik.

Tentu saja saya merasa heran. Sejak kapan belajar di dalam kelas menjadi perilaku yang tidak baik? Anak saya berpendapat bahwa pada saat ini, duduk berdekatan seperti yang tampak pada gambar itu berpotensi menyebarkan virus corona.

Ia juga menjelaskan bahwa ada anjuran untuk menjaga jarak. Tidak hanya itu, dalam gambar juga tidak tampak peserta didik yang mengenakan masker. Menurut anak saya, hal itu menunjukkan bahwa peserta didik dalam gambar tidak mematuhi protokol kesehatan.

Jawaban anak saya itu masuk akal. Pada soal memang tidak disertakan konteks bahwa situasi pembelajaran pada gambar merupakan situasi saat ini.

Bisa saja gambar itu dibuat di masa sebelum pandemi. Sayangnya, pembuat soal tidak mempertimbangkan konteks situasi saat ini saat menggunakan gambar tersebut.

Pembuat Soal Mengabaikan Konteks

Pada gambar kedua, tampak tiga anak (tidak berseragam sekolah) sedang bermain game di dalam sebuah ruangan. Di luar ruangan, ada anak berseragam yang berdiri di dekat pintu masuk.

Baca Juga  Pendidikan Toleransi Anak Perempuan dan Laki-Laki dalam Keluarga

Saya mengajukan pertanyaan yang sama pada anak saya. Anak saya menjawab bahwa gambar kedua menunjukkan perilaku baik.

Tentu saja saya kembali terkejut. Maksud saya, ini seperti pemikiran yang berbeda dari pemikiran saya sebagai orang tua.

Anak saya kemudian menjelaskan bahwa anak yang berseragam itu bisa saja baru pulang sekolah. Anak saya mengajukan pertanyaan pada saya: bukankah boleh bermain game setelah selesai belajar di sekolah?

Tentu saja saya menjawab boleh. Anak saya lalu menunjuk gambar tiga anak tanpa seragam itu. “Mereka selesai belajar dan makan. Makanya mereka tidak pakai seragam. Ini waktunya mereka main game. Jadi tidak salah kan?”

Jawaban itu juga masuk akal. Pertanyaan yang diajukan juga masuk akal. Masalahnya apakah anak saya akan mendapat nilai sempurna?

Terus terang, saya punya keyakinan bahwa kunci jawaban menyatakan bahwa gambar A merupakan perilaku baik. Sedangkan, gambar B merupakan perilaku yang tidak baik.

Pembuat soal yang mengabaikan konteks bisa saja terkejut dengan jawaban di luar kunci yang tersedia. Pembuat soal dan pengoreksi bisa saja secara saklek membuat kunci jawaban sesuai prediksi saya. Jika itu terjadi, bisa dipastikan nilai di luar kunci jawaban itu akan tidak sempurna.

Persoalannya, bukan pada sempurna tidaknya nilai tersebut. Tetapi lebih pada soal yang menimbulkan tafsir karena lepasnya konteks dari soal itu. Selain itu juga pada siap tidaknya pengoreksi menghadapi jawaban yang berbeda dari kunci jawaban.

Pembuat soal perlu memikirkan jawaban berbeda semacam ini. Itu sebabnya skor perlu mempertimbangkan argumentasi yang disajikan oleh peserta didik.

Maka, kunci jawaban bagi kedua gambar itu tidak lagi pada A baik dan B buruk. Tetapi kunci jawaban bisa saja menyatakan bahwa kedua gambar gambar tersebut sama baiknya dan sama buruknya .

Baca Juga  Pendidikan Kesetaraan Gender pada Anak dalam Keluarga
Interpretasi Jawaban Soal

Fokus penilaian diletakkan pada kualitas argumentasi yang dipaparkan peserta didik. Lebih lanjut penilai bisa menghubungkannya dengan data yang disajikan peserta didik untuk memperkuat argumentasinya.

Dengan demikian, perlu kiranya mengikat soal dengan konteks. Sebab, ketiadaan konteks menyebabkan timbulnya beragam interpretasi dan jawaban. Interpretasi beragam yang tidak diikuti dengan rubrik penilaian yang komprehensif akan merugikan peserta didik kita.

Pemberian soal yang lepas konteks demikian jika tidak disikapi dengan hati-hati dan malah dilakukan terus menerus akan memberi dampak merusak. Soal-soal yang disajikan itu secara perlahan bisa mematikan kreativitas dan sikap kritis peserta didik.

Soal yang disajikan di sekolah memang diharapkan mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thingking skills/ HOTS) peserta didik. Namun, tidak berarti soal itu dibuat sulit/ rumit hingga tidak bisa dikerjakan.

Kadang kala pembuat soal bukan menyajikan soal ber-HOTS. Soal-soal sulit dengan penskoran yang tidak mengakomodasi daya nalar tingkat tinggi inilah yang menyebabkan jawaban peserta didik lambat laun menjadi seragam.

Bukankah sejatinya manusia itu dinamis? Bagaimana mungkin kita tega membuat manusia yang lahir dengan keunikan masing-masing itu akhirnya berakhir dengan keseragaman?

Bagikan
Post a Comment