Pohon Kenangan
Di halaman rumahku, tumbuh pohon kenangan. Kakekku dulu yang menanamnya. Bapakku merawat pohon itu dengan sepenuh perhatian. Pohon kenangan itu tumbuh subur dan rindang. Menjadi penghalang terik matahari menembus rumah kami. Buah pohon kenangan di halaman rumahku itu begitu manis. Batangnya kekar dan daunnya lebat. Sebagai sebuah pohon, ia nyaris sempurna.
Hari itu, aku dan adikku memanen buah kenangan. Pohon itu penuh semut hitam karena tentu buahnya manis. Tidak peduli sekujur badan kami jadi gatal karenanya, kami terus memanjat. Di pohon yang cukup kokoh itu kami bergelantungan. Untungnya kami ini orang-orang kurus, jadi tak kerepotan memanjat pohon. Setelah terkumpul sekitar satu karung buah kenangan, barulah kami menghentikan pekerjaan. Kami pesta buah kenangan!
Malamnya, mendadak aku teringat almarhum bapak dan ibu. Musim buah kenangan begini biasanya aku dan bapak akan memanjat dan memetik buah kenangan. Lalu, adikku yang menyiapkan karung di bawah untuk menampung buah kenangan. Buah itu tidak hanya kami santap apa adanya begitu saja, ibu kadang membuat manisan buah kenangan. Aku suka sekali manisan buah kenangan bikinan ibu.
Kutengok kamar adikku. Ia sudah tidur rupanya. Segelas kopi dan sepiring pisang goreng jadi temanku di teras rumah. Kulirik jam dinding. Pukul sebelas. Sudah cukup larut.
***
Di teras aku memandangi pohon kenangan yang tumbuh subur dan rimbun. Di antara remang lampu, dapat kulihat bulatan-bulatan kecil warna hijau bakal buah kenangan. Beberapa minggu kemudian, bulatan kecil itu tentu akan menjadi buah yang siap dipetik. Kecuali ada angin atau kalong yang menjatuhkannya. Meski gagal menjadi buah yang matang di pohon, bakal buah itu tak pernah membenci sesiapa yang menjatuhkannya. Sebab ia tahu akan menyatu dengan tanah dan menyuburkan pepohonan.
Lamunanku buyar ketika kudengar suara lolong anjing di kejauhan. Kutatap pohon kenangan yang telah jadi saksi perjalanan hidup kami. Sesaat melintas pertanyaan di kepalaku: akan sampai umur berapa pohon kenangan ini? Bukankah suatu saat ia akan tumbang dan mati? Entah karena ditebang atau karena hal lain. Dan segala hal yang melekat padanya akan sirna.
Jam berdentang satu kali. Sepi merambat di dinding waktu.
***
Perlahan, kantuk mulai menyerangku. Semilir angin sungguh meninabobo. Saat aku berjalan pelan hendak masuk rumah, kulihat sesuatu yang mengusik penglihatanku. Sebuah tulisan di batang pohon kenangan. Sebenarnya tulisan itu sudah agak samar, tapi aku masih bisa membacanya. Aku dulu yang menuliskannya dulu. Kuraba tulisan itu, mengusapnya perlahan.
Aku mengingat semuanya. Pertemuan pertama itu, jabat tangan malu-malu itu, juga pertemanan yang singkat itu. Aku tak bisa lupa ketika ia jatuh dari pohon kenangan setelah memaksa ingin ikut memanjat dan memetik buah kenangan. Dan aku selalu tak tega melihat bekas luka di pelipisnya.
Tiba-tiba aku disentak oleh sebuah ingatan. Dulu aku dan dia pernah menanam sesuatu di bawah pohon kenangan. Buru-buru aku masuk rumah dan mengambil cangkul. Dengan semangat yang memenuhi dada aku menggali dan terus menggali. Dapat! Mataku berbinar-binar menatap kaleng biskuit bekas yang kini berkarat.
Saat kubuka kaleng biskuit itu tanganku gemetar. Mainan mobil merah dan boneka kecil itu terlihat kusam. Kubaca tulisan di balik tutup kaleng yang mulai pudar: tak boleh saling melupakan. Masih kuingat, tulisan itu kutulis dengan cat hitam milik bapak. Ada juga namaku dan namanya di tutup kaleng bekas itu.
Angin malam dingin menusuk, aku lekas masuk kamar. Kuletakkan mainan mobil merah dan boneka kecil itu di meja. Malam terasa sunyi. Kudengar suara daun-daun bergesekan diterpa angin.
Dalam sepi aku bertanya-tanya, seberapa lama kenangan akan bertahan di ingatan? Bukankah kepala kita akan dipenuhi hal-hal baru setiap hari dan masa lalu akan tertinggal jauh di belakang? Apakah kita perlu penanda untuk mengekalkan kenangan? Lantas, apakah rasa kehilangan bisa tumbuh sebagaimana sebuah pohon tumbuh? Apakah kesedihan jatuh seperti gugurnya daun-daun?
Tiba-tiba, sebentuk rasa hampa mengetuk dada. Tak kutahu asalnya dari mana.
***
Aku bangun agak siang karena baru bisa tidur setelah salat subuh. Kudengar suara orang bercakap-cakap di teras rumah. Sepertinya ada tamu. Setelah cuci muka dan minum air putih, aku menuju beranda. Betapa terkejut aku melihat seseorang yang duduk di kursi teras. Ia perempuan yang dulu bersamaku menanam mainan mobil merah dan boneka kecil di bawah pohon kenangan! Ia sedang berbicang dengan adikku. Sepiring buah kenangan tersaji di meja. Dan pagi itu, pohon kenangan rasanya teduh sekali.
Aku sedikit pangling melihatnya dengan baju biru muda siang itu. Kami berbasa-basi tanya kabar dan berbincang macam-macam. Mengenang masa kecil kami yang menyenangkan.
Hari itu mestinya jadi hari yang sempurna andai cerita itu tak pernah dikisakan olehnya. Aku terkejut melihat wajahnya yang mendadak berubah pucat.
Jadi, ketika adikku mohon diri untuk berangkat kerja, ia mulai bercerita dengan sedikit menahan tangis. Suaranya terdengar agak parau. Ia bilang setahun lalu ia menikah. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi semenjak suaminya kena PHK, sang suami jadi kerap marah-marah dan suka memukul. Ia tunjukkan bekas luka di tangannya. Diceritakan semua perlakuan kasar suaminya padaku. Air matanya menganak sungai.
“Aku sudah tak sanggup. Aku harus bagaimana?” tanyanya lirih.
Sesaat kepalaku seperti berputar dan mulutku terkunci. Perasaan marah dan sedih campur aduk di dalam dada.
Angin bertiup pelan. Daun-daun kering pohon kenangan gugur perlahan.
Penulis lahir di Ponorogo, 20 Maret 1990. Menyelesaikan S1 dan S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini menjadi pengajar di prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.
