f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anosmia

Anosmia Memang Membikin Hidup Begitu Hambar

Beberapa Minggu yang lalu media sosial dan kanal-kanal berita mewartakan bahwa Covid-19 telah bermutasi menjadi lebih mutakhir ketimbang saat awal ia muncul ke permukaan dan menginfeksi jutaan orang di dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri virus ini telah merenggut setidaknya 88 ribu lebih jiwa.

Varian Delta adalah satu dari sekian banyak varian Covid-19 yang sangat ganas, mengerikan, dan tentu saja mematikan. Virus ini serupa seorang prajurit tangguh yang mengamalkan ilmu perang Sun Tzu, bahwa senjata terbaik dalam sebuah perang adalah pemahaman yang mendalam tentang musuh. Dari pemahaman tentang tubuh manusia beserta titik lemah itulah Covid-19 memperbarui diri hingga menjadi lebih tangkas dan trengginas.

Pada Minggu (18/7) pagi, saya mulai merasakan gejala Covid-19 seperti tenggorokan yang mulai meradang, badan terasa lemas, hingga anosmia. Dari beberapa gejala itu mulai timbul rasa panik, jangan-jangan saya tertular orang yang positif Covid-19? Saya pun mencoba untuk tetap tenang dan mulai mencari tahu melalui laman konsultasi kesehatan seperti Halodoc dan Alodokter mengenai anosmia yang identik dengan gejala positif Covid-19.

Dari kedua laman tersebut, rupanya ada beberapa orang yang mengkonsultasikan perihal anosmia yang identik dengan gajala positif Covid-19. Dari penjelasan dokter, gejala anosmia memang identik dengan gejala positif Covid-19, namun tentu tidak semua.

Positif Covid-19?

Common cold atau yang biasa kita kenal sebagai batuk pilek adalah salah satu penyebabnya, yang mana gejalanya memang mirip seperti Covid-19: hidung tersumbat, badan terasa pegal-pegal, tenggorokan nyeri, sakit kepala, demam, berkurangnya daya penciuman/pengecapan, hingga hilangnya nafsu makan.

Dari konsultasi itu, saya pun mengira dan berharap bahwa saya hanya terserang common cold, tidak lebih dari itu.

Baca Juga  Persimpangan (Intersection) Antara Gender dan Disabilitas : Peran Perempuan dalam Gerakan Kesadaran dan Advokasi Disabilitas

Hari-hari saya lalui dengan perasaan yang serba tak karuan, hidup ini terasa begitu hambar manakala hidung ini tak bisa mencium aroma masakan. Sedangkan lidah tak mampu untuk merasakan betapa nikmatnya rendang daging kambing dan dendeng sapi buatan bulik saya.

Namun walau begitu, otak saya nampaknya tak bisa berbohong begitu saja. Saat saya menyantap hidangan itu. Otak saya seraya bilang bahwa masakan itu sangat enak sekali, tak peduli lidah dan hidung ini mati rasa. Sebab sel syaraf otak ini nampaknya telah merekam dengan baik bagaimana rasa masakan yang terhidang usai dari tungku perapian.

Dialami Oleh Orang-Orang Terdekat

Rupanya beberapa gejala yang saya rasakan ini juga terjadi oleh beberapa kawan bahkan orang tua saya yang berada nun jauh di seberang pulau.

Saat saya menghubungi seorang kawan yang baru saja mendapat vaksin, ia bilang bahwa juga mengalami hal serupa, malah lebih parah dari saya. Selang seminggu usai vaksin, ia sakit flu berat dengan anosmia, “Habis vaksin bukannya tambah sehat, malah tambah sakit, ” ujarnya. Saya pikir, apa yang ia rasakan adalah efek samping dari vaksin itu sendiri. Selang seminggu kemudian, ia pun kembali pulih dan dapat merasakan aroma masakan.

Kedua orang tua saya pun mengalami hal yang serupa, dalam pesan singkat ayah mengabarkan bahwa beliau sedang terserang flu dengan anosmia, ibu pun mengalaminya. Entah apakah itu gejala Covid-19 atau hanya gejala-gejala yang menyerupainya. Namun beruntung ada kawan baik ayah yang mengirimkan beberapa paket vitamin untuk kesembuhan ayah dan ibu. Beberapa hari setelahnya, keduanya kembali pulih. Saya pun bersyukur.

Saat saya mengabari seorang puan di kota seberang bahwa saya mengalami radang tenggorokan, pilek, dan anosmia ia seperti panik namun tahu solusinya. Kepada saya ia berpesan agar menghirup aroma minyak kayu putih, “Bagaimana kalau freshcare? Dan kenapa harus minyak kayu putih?” tanya saya, tanpa fafifu-wasweswos ia menolak lantas tetap sesuai perintah: minyak kayu putih!

Baca Juga  Rumor Antara IPS dan IPA: Ketika Jurusan Jadi Barometer

“Dan jangan lupa untuk caring selama sejam setiap hari. Kalau demam minum paracetamol,” ujarnya tagas. Saya pun menuruti titahnya. Walau dalam hati kecil saya malas untuk sekadar caring dan lebih memilih untuk meminum kapsul multivitamin dan mineral.

***

Dari penjelasannya, saya akhirnya kepo dari mana ia tahu solusi-solusi pengobatan itu? “Beberapa minggu lalu aku, ayah, ibu, semuanya sakit flu parah disertai anosmia juga. Penyebabnya karena tertular kakakku yang sakit flu dan akhirnya semua tertular. Aku sendiri sakitnya sampai 2 minggu baru sembuh,” jelasnya melalui pesan singkat.

Rasa penasaran saya mengenai ampuhnya menghirup minyak kayu putih -langsung dari botolnya atau dicampur dengan air rebusan- pun terobati. Dan dalam artikel tentang kesehatan, penyembuhan alternatif itu memang benar adanya.

Enam hari berlalu semenjak radang tenggorokan, pilek, dan anosmia, saya akhirnya kembali pulih. Hidung ini mulai dapat mencium sarung yang baru dicuci dan direndam dengah Molto, lidah ini pun dapat merasakan betapa lezatnya gulai kambing masakan nenek.

Makan yang teratur, minum air putih yang banyak, mengkonsumsi multivitamin dan mineral tiap sehari sekali, dan istirahat yang cukup merupakan sederet usaha saya dalam memulihkan keadaan.

Saat itu hingga hari ini, saya sangat mensyukuri betapa Gusti Allah masih memberikan saya kenikmatan berupa indera penciuman dan pengecapan yang tak terkira ini. Apa jadinya jika saya tak lagi dapat merasakan masakan dan aroma parfum yang saya sukai? Ah, rasa-rasanya hidup ini akan terasa hambar sekali.

Bagikan
Post a Comment