Saya Dimata-matai Bill Gates!
“Gaes, saya sudah vaksin corona lhoh!”
Tulis saya pada sebuah grup chat percakapan pertemanan. “Gimana perasaannya setelah dimata-matain Bill Gate?” balas salah satu teman di grup tersebut. “Rasanya so daebak! Awalnya tubuh saya sepertinya menolak. Yang namanya mata ini sepet sekali rasanya ga bisa melek, badan juga terasa babak belur. Tapi setelah itu ya biasa saja sik,” balas saya lalu mengusap notifikasi guna menutup grup.
Eh belum sempat nutup ada teman saya yang lain lagi yang masih dalam satu grup nge-share sebuah postingan IG dengan ngetag teman saya yang lain dengan kalimat : “Gimana? Masih ga percaya virus corona Covid-19?”
Virus corona Covid-19 sudah hampir dua tahun dan ternyata di lingkaran terdekat pertemanan saya, yang notabene ini masih pada usia milenial (di grup ini mayoritas usianya 30an menegah) masih ada yang tidak percaya covid. Kaget ternyata ada teman di lingkaran dekat yang tidak se-value dalam melihat virus corona Covid-19.
Teman saya yang di-tag itu membalas gini, “Beneran itu? Jangan-jangan itu dari penyakit lain.”
Teman saya lainnya membalas lagi. Kemudian teman saya yang tidak percaya covid bilang, “Ya wes, kita beda keyakinan berarti.” Teman saya bales lagi, “Virus corona Covid-19 bukan perkara keyakinan. Tapi ada bukti empirisnya.” Yang berakhir dengan teman saya minta ditunjukkan artikel-artikel dari dokter yang katanya tidak dibayar buat menunjukkan bahwa virus corona Covid-19 ada.
Jujur, sampai titik ini saya hampir tidak percaya. Teman saya ini tidak percaya virus corona Covid-19 karena kurangnya informasi sepertinya juga tidak mungkin. Atau karena banyaknya informasi? Sampai tidak bisa membedakan mana yang terpercaya mana yang tidak? Atau mungkin memang memilah informasinya berdasar mana yang dia percaya dan mana yang tidak. Dan mungkin lagi semakin parah dengan algoritma media sosial. Kita makin disajikan sama hal-hal yang kita yakini kebenarannya.
Stereotip Baru
“Orang itu cenderung tidak suka merasa cemas, maka dari itu mereka lebih memilih untuk menghindari, salah satunya dengan tidak percaya (virus corona Covid-19),” begitu kata Psikolog Sosial Universitas Indonesia, Dr. Bagus Takwin M.Hum.
Bisa jadi juga ini pemicu kenapa teman saya tidak percaya sama virus corona Covid-19. Mari kita flashback ingatan kita akan kemunculan virus corona Covid-19. Di awal kemunculannya di Wuhan, video-video yang beredar dan sampai sini duluan adalah tiba-tiba ada orang langsung terkapar (di jalanan) dengan panas yang sangat tinggi. Kalau tak salah waktu itu nyaris 100 derajat. Entah itu hoax apa bukan, yang pasti kalau ingat sekarang rasanya trauma. Tidak membayangkan seperti apa suhu manusia hingga 100 derajat.
Belum lagi adanya larangan berkumpul, dan juga isolasi mandiri. Membuat orang yang tidak terlalu paham, menganggap kalau terpapar virus corona Covid-19 itu sebagai aib, atau dosa yang memalukan. Karena banyaknya kejadian penderita virus corona Covid-19 yang terkucilkan. Makin bertambahlah kecemasan. Dan dengan banyaknya info, ini menjadi berulang terus-terusan hingga akhirnya menjadi sebuah streotip baru.
Orang Meninggal Itu Kejadian Biasa
Ada tiga alasan orang percaya hoax (terutama untuk konteks tulisan ini : virus corona Covid-19) yaitu kebutuhan akan pemahaman dan konsistensi (epistemik), kebutuhan akan kontrol (eksistensial), kebutuhan untuk memiliki atau merasa spesial (sosial). Itu yang saya baca dari sebuah artikel online.
Tiga alasan itu tidak ada pada teman saya. Hingga akhirnya setelah beberapa waktu teman saya komentar lagi, “Apa yang mau dipercaya, ini kejadian biasa, tiap hari pasti ada orang yang meninggal.” Poinnya ternyata di sini. Dia menganggap orang yang meninggal hanya sekedar kejadian biasa, hanya sekedar angka tanpa bisa mengerti bagaimana perasaan orang yang ditinggal.
Padahal kalau bahas orang meninggal hanya dari sekedar angka. Itu bukannya malah membuat hidup kita tidak berlanjut bukan? Bayangkan kalau yang meninggal ada 100 dokter. Kita butuh waktu berapa tahun untuk menghasilkan 100 dokter lagi? Itupun kalau misal dibuat imbang 100 kematian digantikan dengan 100 kelahiran. Apa iya ada jaminan 100 kelahiran tersebut jadi dokter semua? Tentu tidak, kan?
***
Kekesalan saya jadi lumayan mereda ketika sadar, orang yang tidak percaya virus corona Covid-19 itu bukan hanya teman saya, bukan hanya atasan saya, tapi nyaris di setiap negara di belahan bumi ini. Yang percaya virus corona Covid-19 ini konspirasi. Bahkan virus corona Covid-19 pun aslinya tidak ada.
Sebuah survey dari YouGov dan The Economist bulan Maret 2020 memperlihatkan bahwa 13% orang Amerika percaya bahwa virus corona Covid-19 adalah hoaks, sedangkan 49% percaya bahwa pandemi ini sesungguhnya buatan manusia.
Orang-orang bebal dan ignorant memang ada di mana-mana. Tipe orang seperti ini kalua di film Harry Potter sudah seperti Dementor yang menghisap kebahagiaan kita. Ada saja bahan untuk menyudutkan orang lain dengan memberi pembenaran bahwa apa yang mereka percaya adalah kebenaran mutlak.
Jadi ketika ada salah satu rekan kerja komentar, “Sehabis vaksin sampean kok malah teler sih, Mba?” Dengan tersenyum kecut saya hanya bisa menjawab, “Ya tidak tahu (kok tanya saya).” Saya sudah tidak ada tenaga untuk menjelaskan bahwa ini memang efek samping vaksin begitu. Saya lebih memilih untuk tetap waras ketimbang seharian mengalami mentally drained. Atau terkadang saya juga pura-pura tidak mendengar kalau sedang bahas virus corona Covid-19 tak berkesudahan. Bukan berarti saya apatis tapi sekarang hanya bisa mendoakan. Semoga orang-orang tersebut tetap diparingi sehat dan dibukakan hati serta pikirannya. Bukankah sebagai orang yang mengaku beriman, mendoakan adalah cara terbaik dan ikhtiar terakhir agar orang-orang terbuka hatinya.
Crochet enthusiast, blogger, coffee lover, pejalan-jalan, engineer.
Facebook : facebook.com/shofiyatun
Instagram & Twitter : @potrehkoneng
