Puasa Medsos Sejenak dalam Kegentingan Covid
“Prima, kamu tahu kemarin waktu aku jaga di klinik X, hampir semua pasien yang test rapid antigen hasilnya positif. Akhir-akhir ini pula jumlah pasien rawat jalan melonjak pesat, hampir tiga kali lipat. Biasanya sekitar sepuluh, sekarang bisa sampai tiga puluh,” Kata kakak kelasku dengan nada yang tegas dan raut muka yang tajam. Kali ini dia tidak berbohong, dia sungguh serius.
“Kira-kira berapa sampel yang positif?” Aku menimpal.
“Sekitar dua puluhan dari tiga puluh sampel,” dia mengatakan sambil menundukan dagunya, tanda bersedih atas berita yang dia sampaikan.
Klinik yang dijaga kakak tingkat saya tersebut bukanlah klinik yang terletak di pusat kota, melainkan klinik yang terletak di antara pemukiman padat penduduk tepi Kota Sidoarjo. Klinik sekecil itu saja menunjukan hasil tes rapid antigen yang mayoritas positif, apalagi yang ada di tengah kota? Terlebih situasi Sidoarjo tidak terkabarkan separah situasi di Jakarta dan Jawa Tengah.
Lain halnya cerita kakak tingkat saya yang memegang data BOR tiap rumah sakit di Surabaya Raya. Per tanggal 1 Juli lalu, hampir semua rumah sakit di Surabaya telah kehabisan ruang rawat untuk pasien Covid; sebagian pasien yang tidak mendapat bed harus rela dirawat di IGD. Tiap dokter yang berjaga meminta bantuan kepada rumah sakit lain yang bisa menampung, namun naas, hanya berita ruang rawat rumah sakit penuh yang mereka dapatkan.
Ya yang diberitakan di media-media online itu benar adanya. Situasi sudah genting, mau tidak mau kita harus mengakui kalau sistem kesehatan kita sudah kolaps.
Kepanikan ini diperparah dengan pemberitaan dari kalangan tenaga medis sendiri. Baik dari positive rate yang mencapai 49% lebih, rekor kasus harian yang mencapai 25.000 lebih; jenazah yang harus diangkut dengan truk; laju kematian yang sudah mencapai dua kali lipat dalam waktu lima bulan; oksigen yang habis di banyak rumah sakit; serta berita-berita yang ujungnya membuat resah.
Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah terus saja menyalahkan rakyat akibat tidak patuhnya mereka atas protokol kesehatan yang seringkali kendor. Rakyat pun juga begitu, masih terus menyalahkan pemerintah atas tidak seriusnya mereka mengatasi pandemi.
Pengetatan PPKM Mikro yang berlaku akhir-akhir ini nampaknya juga tidak banyak memiliki perubahan daripada sebelum-sebelumnya. Semua berita ini seperti berbisik halus kepada kita, kalau pemerintah seakan sudah pasrah.
Kali ini kita betul-betul dipukul palu godam. Terikat kenyataan bahwasanya diam memang bisa membuat kita selamat, namun sebaliknya jika terlalu lama diam, perut kita akhirnya juga ikut tidak selamat. Semua serba salah, tidak ada pernyataan yang betul-betul menenangkan.
Di satu sisi, mengetahui berita-berita kenaikan kasus bisa membuat kita semakin sadar dan taat protokol kesehatan; di sisi lain mental kita juga ikut dihancurkan. Terbalut ketakutan yang terus membesar bersamaan dengan intensitas berita yang makin hari makin runyam.
Berita-berita kematian dari saudara maupun kerabat dari teman juga semakin memenuhi linimasa media sosial kita. Sekali lagi, kita telah terjebak dengan semua informasi yang menyedihkan ini.
Sekali lagi, mari berdamai dengan diri dan kondisi.
Bukan hanya perasaan sedih, amarah kita juga sedang mengharukan. Beberapa minggu lalu, berita pendemo dari Pulau Madura yang tidak terima adanya pos penyekatan di Suramadu seakan membuat tenggorok kita sama-sama kaku dan panas. Tak sampai di situ, para pendemo juga turut melayangkan tiga tuntutan yang salah satunya menuntut untuk menghentikan penyekatan yang bersifat diskriminatif. Padahal pemerintah hanya ingin menghentikan penyebaran dari pulau tersebut.
Kali ini kita di hadapkan kembali dengan anggapan kalau masih ada orang-orang yang tidak percaya adanya Covid. Padahal, sejatinya dalam lubuk hati terdalam, mereka sangat paham kalau Covid itu ada, namun motif ekonomi telah menutup itu semua. Ya bagaimana mereka bisa tenang jika penyekatan diberlakukan, padahal anak istri mereka butuh makan dari gaji mereka? Pun pemerintah juga tidak memberikan tunjangan apapun atas penyekatan yang berlaku untuk mereka. Bagaimanapun urusan makan merupakan pendorong yang kuat sehingga manusia bisa melakukan hal nekat.
Keadaan sekarang sangat runyam, rumah sakit di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, semua sudah penuh. Banyak pasien yang mengantri di UGD, bukan hanya hitungan jari, mereka berjumlah puluhan sampai ratusan. Tak habis sampai di situ, di saat ini para dokter juga banyak yang menjadi pasien. Belakangan banyak sekali pengumuman supaya jadwal praktek dokter yang kena Covid bisa digantikan dokter lain yang masih sehat.
Setelah hampir satu setengah tahun berada dalam lingkaran pandemic, mari berpuasa sejenak
Baru kali ini saya melihat fenomena kakak kelas dan teman-teman saya yang berguruan sakit satu persatu seperti ini. Walaupun usia masih muda, tetap banyak yang menunjukan gejala. Saya sangat khawatir jika satu persatu dari kami sakit, waktu pemulihan yang minimal diperlukan adalah dua minggu. Lalu siapa dokter bisa kuat bertahan bertugas di jam jaganya dan di jam jaga orang lain terus menerus seperti itu, sekalipun harus dibagi dengan dokter lain pula?
Jika sudah seperti ini, nampaknya sudah sah kalau kita berpuasa medsos saja. Berpuasa sejenak, menghindar dari berita-berita sedih yang banjir di semua linimasa. Keadaan genting ini agaknya akan bertahan dalam beberapa hari ke depan, malah justru akan membesar.
Toh dengan ketakutan yang sekarang, kita sudah sepenuhnya sadar untuk mematuhi protokol kesehatan mulai memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindar dari kerumunan, ditambah melakukan vaksin jika sudah ada panggilan. Bagaimanapun gentingnya berita yang disiarkan media, protokol ini tetap tidak akan berubah dalam dua atau tiga bulan kedepan.
Hanya ini yang bisa kita lakukan untuk mencegah penularan Covid dibalik gentingnya situasi negara dan sistem kesehatan yang kolaps.
Sudah, sekali lagi, jika tidak kuat, Anda sangat sah untuk log out semua media sosial dan berhenti memantau semua perkembangan Covid. Di balik semua kesakitan ini, kita tetap wajib memberi kasih sayang kepada diri, dan sejenak menghela napas sembari melupakan. Bagaimanapun, kesehatan mental kita semua lebih utama.
Kelahiran Trenggalek Jawa Timur. Saat ini sedang menempuh Pendidikan Profesi di Fakultas Kedokteran Airlangga.
